Curhat Pak Santoso: Dosen Magang yang Diajak Kelon Mahasiswinya

Curhat Pak Santoso: Dosen Magang yang Diajak Kelon Mahasiswinya

ilustrasi pak santoso si dosen magang

Catet! Santoso adalah dosen magang baik-baik. Dan, sayang istri.

“Pak Kelonnya jadi?”

Hah? Gila jam berapa ini, kok ada orang ngajak kelon. “Kurang ajar,” batin saya. Kalau pesan singkat ini dibaca istri saya bisa panjang urusannya. Dikira saya suka berbuat yang iya-iya kalau sedang di luar.

“Maaf, nilai di kelas tidak bisa ditukar dengan Kelon”

“MEMANGNYA SAYA COWOK APAKAH”.

Saya membalas dengan perasaan jengkel sampai saltik gara-gara fitur auto-correct yang menyebalkan. Batin saya, biarpun saya dosen baru magang, modal tombol caps lock harusnya sudah bisa terlihat garang sekalipun di hadapan mahasiswa-mahasiswi semester tua.

Perkenalkan, Santoso. Saya Dosen magang di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Malang. Beberapa hari lalu pagi saya agak kacau setelah mendapat pesan singkat dari salah seorang mahasiswi. Setelah mengirim pesan dengan kesan marah tadi saya langsung menutup gawai. Badmood. Perasaan saya ini ndak punya bakat Fakboi apalagi jadi dosen cabul.

Setelah beberapa menit mikir keras, saya yakin seyakin-yakinnya, kalau saya belum pernah ngajak mahasiswi kelon. Wong saya ini anggota paguyuban Sutris (Suami Takut Istri).

Setelah menengok istri yang lagi sibuk memasak di dapur. Saya beranikan diri untuk membuka gawai lagi. Pagi ini saya ada jadwal mengajar satu mata kuliah yang lebih penting dari ajakan kelon gak jelas.

Setelah membuka kunci layar, ada pesan balasan dari mahasiswi yang ngajak kelon tadi. “Mohon maaf Pak, saya memastikan KelOn (Kelas Online). Ada kelas pagi ini dengan Bapak”.

“Iya. Sesuai jadwal. Kelon-nya dimulai sebentar lagi,” balas saya singkat.

Bukannya saya kudet. Di kalangan pengajar, pembelajaran secara online lebih sering disebut virtual learning. Saya baru tahu kalau mahasiswa lazim menyebutnya “kelon”; Istilah yang belakangan membuat saya geli. Apalagi rententan peristiwa dosen predator di Perguruan Tinggi sebelah yang, menjadikan ‘kelon’ sebagai transaksi upgrade nilai bikin saya parno dengan ajakan kelon pagi itu.

Saya gampang saja untuk sepakat menggunakan istilah Kelon. Kalau dipikir-pikir ada kesan hangat, dosen dan mahasiswa jadi lebih dekat, suasana belajar jadi lebih bersemangat. Sedap. Sebaiknya istilah ini tidak diasosiasikan dengan predator selangkangan yang banyak berkeliaran di kampus-kampus loh ya. Catet, Santoso adalah dosen magang baik-baik. Dan, takut sayang istri.

Nah, biarpun masih dosen magang, saya mau berbagi kisah soal kelon yang saya jalani di masa pandemi ini. Kurang fair saja kalau sediksi suma diisi sama pengalaman-pengalaman mahasiswa. Katanya menolak keseragaman berpikir, Bos!

Perjuangan Dosen Magang Sebelum Kelon

 Setiap kali mau Kelon, saya selalu menyiapkan materi sebelumnya, semalam suntuk. Sekian tebal chapter beragam buku dan jurnal telah tuntas terbaca. Rententan peristiwa dari beragam media juga telah mengendap, sebagai bahan pengayaan. Peristiwa ini nanti akan digunakan untuk memberikan konteks pembelajaran.

Semalam suntuk itu, hanya untuk satu pertemuan. Semalam suntuk yang sering membuat lingkar mata hitam. Begitu juga waktu untuk matakuliah lain. Jadi dosen memang berat, Lurqueeehhh. Bukan hanya untuk duit, genksi status sosial, bisa kelon gratis; pekerjaan, tapi kecerdasan kehidupan bangsa. Jah!

Pembelajaran online ini biasanya menggunakan aplikasi Google Meet, Class Room, Zoom, atau Virtual Learning yang berbeda di setiap Perguruan Tinggi. Eits, tapi ada juga dosen pemalas yang sekadar memberikan materi melalui Grup Whatsapp dengan respon seminggu kemudian.

Kalau saya, paling sering menggunakan aplikasi Google Meet. Maklum, gratisan. Kampus saya belum mampu membeli aplikasi Zoom karena dananya terbatas. Makanya, mahalin lagi pak rektor SPP Mahasiswanya! Hehe bercanda lurqueeh. Jangan pak rektor, mahasiswa kita sudah cukup susah, mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar, bunda relakan… Eh.  

Saya minta bantuan ke mas menteri saja. Tolong ya, yang punya kenalan orang dalam diteruskan ke Mas Menteri. Naikin gaji dosen magang!! Kasih subsidi kampus medioker seperti kampus saya, untuk beli Zoom yang bisa dipakai berjibun ribu peserta. Zoom gratisan hanya bisa 40 menit, pak.

Kelon Gak Selalu Ena

Kembali ke persoalan Kelon, Kelas Online, ya! Kelon dianggap memunculkan banyak batasan, terutama distorsi ruang. Dari yang awalnya tidak berjarak; mempertemukan dosen dan mahasiswa di satu ruang tanpa sekat. Menjadi, pertemuan bermediasi layar monitor buluk, diselai dengan koneksi internet ngadat. Brat bret, aaa ii u..  Setengah jam sudah ngomong, tanpa respon…

Trying to connect to wifi.

Saat koneksi sehat, pas Indianahome lagi baik-baiknya, tidak lantas kelon otomatis lancar. Tidak semudah itu.

Hambatan lain, adalah memamparkan materi pembelajaran. Maunya, semangat mengajar berapi-api, berbahan bacaan yang sudah semalam suntuk dikumpulkan. Maunya, semua bisa didiskusikan sedetil-detilnya. Rasanya dosa berat, jika tidak memberikan penjelasan detil. Tapi, apa daya. Saya juga harus menyesuaikan dengan daya tahan Kelon mahasiswa di kelas. Terlebih, harus mempertimbangkan mahasiswa dan dosennya yang faqir kuota. Tidak semua mahasiswa punya darah Soeharto yang super kaya, dan tak sekuat bawang putih yang tahan terhadap ocehan ibu tiri.

Pembelajaran tatap muka di kelas bertembok dan kelas online sebenarnya sama saja. Sama-sama dilakukan untuk mendialogkan persoalan. Bedanya, perantara pembelajarannya saja. Yang pertama butuh tatap muka langsung, satunya tatap muka tak langsung. Materi yang disampaikan dan masalah yang didiskusikan sama saja. Harusnya tidak ada persoalan, kalau frekuensinya sama. Tapi… ada-ada saja kelakuan mahasiswa saya.

Baca Juga: Walau Miskin, Mahasiswa Jangan Jadi MLM

Kamera di perangkat yang dimatikan. Ini ya. Kalau sedang Kelon, mata harus ketemu dengan mata. Agar intens, interaksi terjaga, serta menciptakan suasana yang hangat. Tapi, seringnya, kamera di device mahasiswa dimatikan semua. Ini Kelon, Kelas Online, kenapa malah gelap-gelapan? Dikiranya kelon apa?

Kamera itu kan agar kita saling tahu ekspresi mahasiswa dan dosen. Harapannya kelas bisa lebih interaktif. Saya pernah mengajar kelas dengan hanya sepuluh mahasiswa. Dua mahasiswa menyalakan kamera. Satu terlihat kumal, muka masih bercap bantal dengan samar tato putih di ujung bagian pipinya. Satu lagi, berparas rapi, badan tegap, senyum terukur. Beberapa waktu posisi tidak berubah. Belakangan ternyata hanya foto muka. Jan.

Matinya kamera, membuat saya seperti pemain lenong amatir yang disuruh senior seniman bicara dengan tembok; uji mental. Saya, bicara sendiri dengan layar monitor. Sesekali beralih dari presentasi, ke layar utama google meet. Masih mengharap, ada tatapan mahasiswa antusias. Apa daya, tetapan yang saya temukan, mata sayu si mahasiswa bermuka bantal tadi. Alih-alih wajah antusias, dia lebih sering garuk ketiak.

Saat sesi dialog saya membuka pertanyaan, “ada yang punya sudut pandang lain dalam membaca fungsi indra dan realitas kebudayaan?” Saya mengulang pertanyaan yang sama hingga 3 kali. Sampai ada satu mahasiswa tanpa muka yang bersuara, “Tidak pak, jelas semua”.

Sial! Baru kali ini saya merasakan kelon yang ndak ena.

Penulis
Foto Pak Santoso Dosen Magang

Pak Santoso

Dosen magang berkepala empat. Pengajar di kampus medioker di Kota Malang dan menjadi spesialis PPKN (Pendidikan Pancaindra dan Kemaslahatan)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp