Glorifikasi Fangirling Berkedok Self-Love

Glorifikasi Fangirling Berkedok Self-Love

Glorifikasi Idol K-Pop berkedok Self-Love
Ilustrasi oleh Arkandy Velkan Gisaldy

Tidak jarang saya melihat kasus self-love ini dijadikan alasan untuk bermalas-malasan atau bahkan berlaku konsumtif.

Bagi sebagian orang, mendengar kata K-Pop saja sudah cukup untuk membuat mereka muak. Hal ini dikarenakan citra dari penggemarnya. Banyak yang menganggap kalau penggemar K-Pop (K-Popers) itu “gila”. 

Sekilas memang seperti judgmental. Tapi anggapan umum ini, tidak berangkat dari sesuatu yang tidak berdasar. 

Banyak sekali tingkah penggemar yang di luar nalar demi idol mereka. Misalnya, rela merogoh kocek hingga ratusan juta hanya untuk membeli album bertanda tangan, tidur di emperan untuk nunggu konser, war sama fandom atau fans club lain, bahkan ada yang mengirimkan surat pada bias-nya dengan menggunakan darahnya sendiri, ngeri kan? 

Dalam kasus yang lebih sederhana, saya nggak habis pikir ketika melihat beberapa teman saya, rela menghabiskan uang jajan hanya untuk membeli photocard bias mereka. Sebenernya buat apa sii sampe beli mahal-mahal gitu? 

Atau kalau memang ingin dalam bentuk fisik, kenapa nggak dicetak sendiri saja? Bukannya itu lebih murah? 

Maraknya penggemar fanatik, yang cenderung melakukan hal-hal di luar nalar hanya demi idol mereka seperti inilah, yang membuat orang-orang menggeneralisasikan semua penggemar K-Pop.     

Belajar Self-Love melalui K-Pop

Belakangan ini, banyak K-Popers yang mengklaim, kalau fangirling atau fangirl yang sedang memperhatikan aktivitas idolanya, mengajari mereka tentang self-love dan membuat mereka lebih semangat. 

Tidak hanya melalui lirik-lirik lagu yang di dalamnya terkandung pesan positif, tetapi ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh idol mereka melalui media sosial juga menjadi sebuah inspirasi tersendiri bagi para penggemar.

“Aku sekarang lebih bahagia dan lebih cinta sama diri sendiri sejak aku jadi fans-nya (salah satu  boyband)”, “Lagu-lagu mereka bikin aku semangat buat ngejar mimpi yang menurutku ‘impossible’,” Begitulah ungkapan dari beberapa teman tentang bagaimana fangirling berdampak pada kehidupan mereka. 

Saya sendiri tidak membenci hal-hal yang berbau Korea Selatan ini. Bahkan, saya menikmati beberapa lagu Korea yang memang catchy dan dapat membangun mood saya. Kisah-kisah tentang kerja keras para idol, juga saya jadikan sebagai inspirasi untuk menjadi seseorang yang pantang menyerah.

Tapi di sisi lain, tidak jarang saya melihat kasus self-love ini dijadikan alasan untuk bermalas-malasan atau bahkan berlaku konsumtif. Dan tidak sedikit dari mereka yang akan cenderung tersinggung ketika ada yang mengingatkan mereka tentang hal itu. 

Mereka akan menekankan kalau mereka hanya peduli dengan diri mereka sendiri dan tidak akan membiarkan orang lain mengendalikan kehidupan mereka. Menurut mereka, melakukan itu adalah bentuk dari self-love yang mereka terapkan di kehidupan mereka. Namun, benarkah itu self-love

Secara sederhana, self-love berarti mencintai diri sendiri. Namun, istilah tersebut tidak bisa digunakan secara mentah

Dalam artikel What is self-love? Redefinition of a controversial construct yang ditulis oleh Henschke dan Sedlmeier (2023) dalam jurnal Humanistic Psychologist, bahwa self-love mengarah pada pada dua perspektif: positif (mengarah pada sikap yang mengutamakan kesehatan diri) dan negatif (mengarah pada sikap yang cenderung sombong dan narsistik). 

Oleh karena itu, sangat penting memperhatikan perilaku kita dalam hal ini. Jangan sampai yang seharusnya membuat kita memiliki kehidupan yang lebih baik, bisa-bisa malah menjadi bumerang dan menghancurkan masa depan dan kerja keras kita selama ini.

Khoshaba, dalam artikel berjudul A Seven-Step Prescription for Self-Love, menyebutkan bahwa self-love bukan hanya semata-mata melakukan sesuatu yang membuat kita merasa “senang”. Tapi juga tentang menerima kelemahan sekaligus memotivasi diri untuk terus berkembang menjadi lebih baik.

Self-Love dan Glorifikasi Idol K-pop

Pemahaman yang salah tentang self-love ini juga mengarah ke perilaku K-Popers yang alih-alih memanfaatkan inspirasi dari idol mereka untuk terus maju, malah dijadikan tameng agar mereka bisa bermalas-malasan. 

Contoh sederhananya, ketika sedang ada tugas sekolah, kuliah, atau pekerjaan kantor yang membuat mereka stress. Bukannya mengerjakannya agar cepat selesai, malah memutar video atau reality show yang menayangkan idol mereka. 

Dengan dalih kalau itu bentuk self-love mereka, karena tentu saja, menonton hiburan lebih membuat mereka senang daripada mengerjakan tugas!

Nggak cuma itu, perilaku konsumtif dan menghambur-hamburkan uang juga menjadi salah satu hal yang paling sering orang-orang lakukan di balik embel-embel self-love

“Ini kan uang hasil kerja kerasku sendiri, suka-suka aku dong mau aku pakai buat apa,”

Memang benar, setelah bekerja keras sedemikian rupa untuk menghasilkan pundi-pundi uang, siapa pun berhak untuk mendapatkan reward, meskipun itu dari diri sendiri. Hanya saja, seringkali mereka lebih mengutamakan reward ini daripada kebutuhan lain yang lebih penting. 

K-popers rela mengeluarkan uang hasil kerja keras mereka demi mendukung idol, sebagai reward mereka. Aneh nggak sih? 

Mereka beramai-ramai membeli merchandise, album, atau tiket konser hanya agar idol mereka bisa memenangkan sebuah penghargaan. Mereka beralasan kalau melihat idol unggul itu sudah menjadi kepuasan tersendiri. 

Sementara idol memperoleh penghasilan dari hal-hal itu, K-Popers justru tidak sadar, bahwa mereka sudah mengorbankan kesenangan pribadi mereka dan mengabaikan nilai-nilai self-love yang seharusnya.

Sebenarnya, nggak ada yang salah dengan fangirling, syukur-syukur kalau ini mengajarkan sesuatu yang positif. Tapi yaa jangan berlebihan. Pada dasarnya, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. 

Mungkin para idol memang berjasa besar dalam kehidupan kita, tetapi kita juga nggak tahu bagaimana mereka sebenarnya di dunia nyata. Ingat, mereka adalah seorang entertainer yang dilatih untuk membuat audiens merasa senang. 

Kita cuma tahu penampilan mereka di layar kaca. Bagaimana mereka di balik layar? Apa mereka peduli dengan kita seperti yang mereka ucapkan? Atau mereka cuma memanfaatkan rasa senang kita agar mereka bisa meraup keuntungan? Be wise, Yeorobun!

Editor: Mita Berliana
Penulis

Arik Rahma Eka Puteri

Sarcasm Connoisseur
Opini Terkait
Ke Mana Perginya Para Bapak?
Kenyang Makan Stereotipe Superlemot di Medan
Mlijo: Sinetron Desa ala Foucault
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-opini-retargeting-pixel