Drakor Menye-menye Mengagungkan Laki-laki Kaya, dan Kita Dipaksa Menikmatinya

Drakor Menye-menye Mengagungkan Laki-laki Kaya, dan Kita Dipaksa Menikmatinya

Drakor Menye-menye Mengagungkan Laki-laki Kaya, dan Kita Dipaksa Menikmatinya
Ilustrasi oleh Ahmad Yani Ali

Kebanyakan film dan series menye-menye mengisahkan percintaan antara si miskin dan si kaya. Tokoh miskin biasanya diperankan perempuan, dan yang kaya biasanya laki-laki. Formula ini sering saya temui di film dan series ‘Barat’. Drama Korea (drakor) pun juga demikian.

Pengalaman pribadi saya menonton film atau series belum banyak, tetapi cukup untuk menilai mana tontonan bagus dan mana yang jelek.

Saya ogah nonton genre yang menye-menye. Selain karena perlu menjaga wibawa seorang lelaki yang konon tak boleh cengeng, genre ini juga hanya umbar kemeseraan.

Pada akhirnya, butuh banyak pertimbangan untuk memberanikan diri nonton film atau serial menye-menye. Didorong rasa penasaran, dan saking gabutnya, jadilah saya menonton yang menye-menye itu.

Kebanyakan film dan series menye-menye mengisahkan percintaan antara si miskin dan si kaya. Tokoh miskin biasanya diperankan perempuan, dan yang kaya biasanya laki-laki. Formula ini sering saya temui di film dan series ‘Barat’. Drama Korea (drakor) pun juga demikian.

Kendati demikian, beberapa hal memang perlu diakui jadi daya tarik, seperti misalnya aktrisnya yang cantik maupun aktor yang tampan.

Walaupun nyaris selalu sukses di pasaran, format default ini bikin saya gelisah. Apa sih alasan orang nonton film atau series yang ceritanya gitu-gitu aja?

Berhubung saya seringnya nonton drakor, kebanyakan ulasan ini akan berhubungan dengan drakor.

Sebagai contoh, drama formulaik antara laki-laki kaya dan perempuan biasa saja cukup banyak. Untuk menyebut beberapa, yakni: ‘What’s Wrong with Secretary Kim (2016)’, ‘Business Proposal (2022)’, hingga ‘King the Land (2023)’.

Kegelisahan saya bermuara pada dua hal, yakni: “mengapa stereotip perempuan miskin dan laki-laki kaya sebagai inti cerita sukses di pasaran?”, dan “apakah ini merupakan refleksi realitas sosial?”

Seketika, pertanyaan lain juga ikut bermunculan. Apakah ini merupakan strategi yang efektif menarik penonton? Apakah ini merupakan bentuk diskriminasi pada perempuan dan laki-laki yang berasal dari kelas sosial berbeda?

Mendambakan yang superior

Korea punya sejarah yang penuh luka. Semenanjung Korea terbelah karena perang dingin menjadi dua negara, Korea Utara dan Korea Selatan.

Sejak Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata pada 1953, Korea Selatan terus melesat. Dari yang dulu negara miskin dan terbelakang, kini Korea Selatan berubah jadi negara maju dan berpengaruh.

Selain memang menguntungkan secara ekonomi, perkembangan ekonomi luar biasa dalam 70 tahun terakhir ini juga tak luput menghadirkan beragam persoalan sosial. Salah satu yang kentara ialah kesenjangan sosial.

Selain bekerja demi mobilitas vertikal, orang Korea butuh hiburan. Produk budaya populer juga disukai sebagai ruang mengalihkan diri untuk sementara dari realitas sosial. Mereka juga merupakan sarana hiburan, inspirasi, dan menggantung harapan.

Satu atau dua dekade belakangan, industri hiburan Korea Selatan melesat begitu cepat. Gelombang Korea atau biasa disebut Hallyu menjangkau seluruh dunia. Dua produk utamanya, K-Pop dan drakor kian digandrungi.

Brianna Jacson dalam jurnal Confucianism and Korean Dramas: How Culture and Social Proximity, Hibridization of Modernity and Tradition, and Dissimilar Confucian Trajectories Affect Importation Rates of Korean Broadcasting Programs between Japan and China mengatakan bahwa perkembangan budaya pop Korea ini tak jauh-jauh dari pengaruh konfusianisme.

Budaya pop Korea jadi cerminan ambisi Korea Selatan mengubah diri dari negara yang disepelekan jadi diperhitungkan. Brianna menyebut adanya antagonisme Barat yang kemudian membuat produk budaya pop Korea menyajikan tandingan bagi Barat.

Mereka mengekspor produk mereka berikut nilai budayanya. Drama Korea, misalnya, menggambarkan nilai-nilai kekeluargaan, kesetiaan, kerja keras, hingga romansa.

Nilai-nilai itu tampak menonjol dalam cerita-cerita bikinan Korea Selatan, Jepang dan Tiongkok. Drama Korea kini jadi ‘ujung tombak’ dari ketiga negara yang terhubung oleh konfusianisme.

Satu hal yang kentara dari konfusianisme dalam budaya pop Korea ialah Chun-tze. Prinsip ini menggambarkan sosok ‘superior’ yang kebanyakan adalah laki-laki. Mereka terus berusaha mencapai kesempurnaan dan aktualisasi diri.

Chun-tze memadukan antara dua nilai, yaitu otonomi diri dan altruisme. Ia menunjukkan sosok pria yang ideal. Biasanya sosok “pria ideal” ini dimanifestasikan dalam diri para penguasa, suami, dan kakak laki-laki yang memiliki posisi superior dalam spektrum otoritatif.

Kembali ke konteks sebelumnya, stereotip perempuan miskin dan pria kaya dalam drama Korea dapat dipahami sebagai salah satu bentuk fantasi yang digemari oleh penonton. Perempuan miskin melambangkan karakter yang relatable, sederhana, rendah hati, dan berjuang untuk bertahan hidup.

Sebaliknya, ‘pria kaya’ melambangkan karakter yang ideal, tampan, sukses, berkuasa, dan mampu memberikan perlindungan dan kebahagiaan. Kisah cinta antara mereka berdua menawarkan kemungkinan untuk mengubah nasib, menembus batas sosial, dan mencapai impian.

Berhubungan dengan pasar

Cerita macam ini mudah diterima, baik di pasar domestik maupun internasional. Drakor bergenre romance menonjolkan kisah cinta yang menghangatkan hati. Dua insan berjuang semampu mereka menembus batas-batas sosial, termasuk soal perbedaan kelas.

Formula kisah romantis antara laki-laki kaya dan perempuan miskin sanggup menarik simpati dan empati penonton. Dua dunia yang kontras diterjang berikut sisipan ketegangan, drama, konflik, humor, dan romansa yang dibayangkan.

Secara umum, kisah macam ini disukai penonton karena familiar, mudah diprediksi, dan memuaskan. Jika memang ingin menonton tontonan yang ringan, untuk apa menonton yang sulit-sulit.

Dalam pengertian ini, ketiganya berperan untuk menentukan produksi. Jika formula ini terbukti sukses, kenapa tidak mereplikasinya?

Memenuhi keinginan khalayak dan mengikuti selera pasar tidak ada ruginya.

Mejual harapan punya hubungan romantis dengan orang kaya

Formula ini bagaimanapun menunjukkan bahwa kelas sosial beneran ada. Mereka menawarkan fantasi bahwa kaya dan miskin bisa diterabas demi cinta.

Hal semacam itu mungkin saja terjadi di dunia nyata, tetapi kemungkinan besar itu sulit terjadi.

Kendati fiksi dan realitas tak bisa disamakan, setidaknya penonton perlu membedakan keduanya. Tak jadi soal jika kisah fantasi jadi inspirasi maupun motivasi. Beda soal jika kemudian ada tuntutan untuk bersikap sebagaimana kisah fantasi.

Jika kemudian ada efek dari kisah semacam ini, stereotip pada kelas sosial tak bisa dihindarkan. Sosok perempuan lebih sering jadi korban.

Poin ini yang kiranya membuat formula kisah cinta laki-laki kaya dan perempuan miskin perlu dipersoalkan.

Kisah ini menampilkan gambaran yang melenceng terkait perempuan dan laki-laki dari kelas sosial yang berbeda. Ilusi dan harapan seolah dilekatkan pada sosok perempuan. Tindakan mereka dikerdilkan semata demi memenuhi fantasi punya hubungan romantik dengan sosok superior.

Tiba-tiba, saya teringat suatu anjuran dari salah satu menteri Indonesia. Untuk memutus rantai kemiskinan, ia mengajurkan agar orang miskin menikah dengan orang kaya.

Mungkin dia sering terpapar kisah semacam itu.

Editor: Rifky Pramadani J. W.
Penulis
Pramanajati

Pramana Jati Pamungkas

Belasan semester kuhabiskan di bangku kuliah jurusan pertanian. Sehari-hari menjadi buruh tulis di Sediksi.
Opini Terkait
Masyarakat Menengah: Hidup Segan, Mati Banyak Tanggungan
Kenyang Makan Stereotipe Superlemot di Medan
Mlijo: Sinetron Desa ala Foucault
Sesat Pikir Konten Bersyukur ala TikTok
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-opini-retargeting-pixel