Pilpres 2024 Butuh Sosok Nurhadi-Aldo

Pilpres 2024 Butuh Sosok Nurhadi-Aldo

Pilpres 2024 Butuh Sosok Nurhadi-Aldo
Ilustrasi oleh Ahmad Yani Ali

Sebagaimana Maradona, Messi, atau Pele, Nurhadi-Aldo menyuguhkan keindahan politik sesungguhnya.

Tidak ada yang lebih menjenuhkan dari Pemilihan Presiden (Pilres) jika bukan soal timbulnya polarisasi. Sebagaimana Pilpres tahun-tahun sebelumnya, yang kemudian memunculkan fenomena Cebong vs Kampret.

Namun Pilpres tahun depan sepertinya berbeda. Perlahan pengkotak-kotakan itu memang memudar. Bersamaan dengan perubahan peta koalisi Pilpres 2024 mendatang. Apalagi terdapat 3 calon presiden dan wakil presiden (Capres-Cawapres) untuk kali pertama setelah 10 tahun. Seperti diketahui Pilpres 2024 akan diikuti pasangan Anies-Muhaimin, Ganjar-Mahfud, dan Prabowo-Gibran.

Tapi jujur saja, sejauh ini belum muncul pembeda dari semua kontestan yang ada. Pembeda yang saya maksud bukan seperti Poros Tengah atau poros partai Islam yang memecah suara Pilpres di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1999 silam, yang sekaligus menaikan nama Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pemenang kala itu. Sama sekali bukan.

Yang saya maksud adalah Poros Santuy yang seharusnya diisi sosok Nurhadi-Aldo. Dan keduanya adalah sosok yang paling mengerti keresahan anak muda. Ke mana mereka? 

Menariknya, Pilpres 2024 akan menjadi panggung pertarungan untuk merebut suara anak muda. Gimana nggak? Melansir Katadata, terdapat 54 persen pemilih muda berdasarkan data daftar pemilih tetap (DPT) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Rinciannya sebanyak 66,8 juta atau 33,6 persen merupakan milenial dan pemilih generasi Z mencapai 46,8 juta atau 22,8 persen. 

Dengan tingginya corong anak muda di Pilpres nanti, kehadiran sosok capres-cawapres fiktif Nurhadi-Aldo patut dinantikan. Sebagaimana 2019 silam, sosok pasangan calon (Paslon) yang nampak santuy itu jadi poros tengah; sebagai lambang persatuan di tengah polarisasi saat itu.

Nuhaldi-Aldo atau biasa disebut Dildo merupakan pasangan yang 2019 lalu diusung ke media sosial melalui Koalisi Indonesia Tronjal-Tronjol Maha Asyik, dari Partai untuk Kebutuhan Iman. 

Tahun 2019 lalu Dildo mengklaim sebagai pasangan nomor urut 10. Ya, nomor yang di sepak bola menjadi top of mind untuk pemain-pemain yang menampilkan estetika mengolah si kulit bundar. Sebagaimana Maradona, Messi, atau Pele, Nurhadi-Aldo menyuguhkan keindahan politik sesungguhnya.

Nurhadi-Aldo: Duet yang Paling Mengerti Anak Muda

Apa yang dilakukan Dildo 2019 memang cukup visioner. Ia berjalan tidak sebagaimana politik saat itu. Politik yang bisa dikatakan masih kaku, atau belum sepenuhnya mencapai puncak masa depan Pilpres di Indonesia.

Pasangan Dildo tidak menggerakan buzzer, sebuah fenomena yang marak terjadi beberapa tahun ke belakang di berbagai negara macam Konoha. Tidak ada keributan yang coba ditimbulkan pendukungnya. Sebaliknya, suara Nurhadi-Aldo muncul secara organik.

Baik langsung maupun tidak langsung, Dildo tidak menggerakan atau memicu pertarungan politik tiada guna, seperti menyerang isu suku, ras, dan agama. Jauh dari itu, suara Dildo cukup menjadi pelipur di tengah keributan di luar sana.

Cara visioner lainnya, Dildo hanya bergerak di Medsos. Tidak ada upaya-upaya konvensional seperti memasang baliho di berbagai sudut kota dan perkampungan, yang kadang kala menjadi polusi visual.

Dan yang paling epic, gerakan Dildo jauh dari politik uang. Ini dikarenakan mayoritas pemilih Dildo tidak pamrih dalam memberikan dukungan. Saya contohnya, saat 2019 lalu bergerak mandiri membuat akun Instagram Medsos Nurhadi-Aldo yang berbasis di salah satu daerah.

Tidak ada keinginan untuk mendapatkan uang apalagi jabatan. Saya sekadar turut menyuarakan aspirasi anak muda, yang saya pikir saat itu cuma bisa ditampung Koalisi Tronjal-Tronjol Maha Asyik. 

Dalam semalam, berlandaskan solidaritas dan kejenuhan politik, akun yang saya buat langsung mendapatkan banyak followers

Banyak akhirnya yang membuat akun serupa. Namun beberapa bulan pasca Pilpres, akun-akun pendukung Dildo menghilang bahkan menjelma sebagai akun-akun jualan.

Seharusnya, Dildo tidak hanya muncul saat momen Pilpres saja, namun keduanya harus didorong untuk infinity agar para pendukungnya fokus pada gerakan awal. 

Nurhadi-Aldo Masih Relevan, kah?

Tahun ini geliat Nurhadi-Aldo belum muncul kembali. Padahal saya pikir Nurhadi-Aldo masih cukup relevan untuk kehidupan anak muda saat ini. Kenapa begitu?

Kita lihat saja pola kampanye Nurhadi-Aldo yang masif, tidak terstruktur, dan ngawur pada 2019 silam. Mayoritas cara yang digunakan Dildo dan pendukungnya adalah mengunggah kutipan-kutipan “fiktif” yang cukup menggemaskan.

Bayangkan, bahwa ada capres-cawapres membuat peryataan semacam, “Kalau yang lain bisa. Mengapa harus kita?”Dari sini nampak, bahwa Nurhadi-Aldo adalah pasangan yang benar-benar nothing to lose demi kebaikan bangsa. 

Atau kutipan lain dibuat pendukungnya sendiri, seperti “Sebagai Capres pilihan saya tidak bisa berjanji, kita jalani dulu saja siapa tahu cocok.” Sungguh relevan dengan kehidupan kita yang dipenuhi dinamika percintaan atau hubungan tanpa status (HTS). Dan Dildo mengerti ceruk anak muda tersebut.

Jika dianalisis, sebenarnya kekuatan quotes menjadi kekuatan terbesar Dildo. Kata-kata mereka tidak saja retoris atau menumbuhkan optimisme semu. Jauh dari itu, kata-kata mutiara Dildo adalah healing yang tentu dibutuhkan anak muda saat ini yang tengah gamang akan masa depan.

Ingat, salah satu tren yang masif tahun ini? Ya, yang saya maksud adalah tren “Kata-kata hari ini, dong?” Jika Dildo kembali, maka akan memenuhi kebutuhan anak muda yang selalu ingin termotivasi melalui quotes.

Terlepas dari Dildo yang hanya paslon fiktif, ada cocoklogi menarik dari Pilpres 2019 lalu. Pada edisi terakhir Pilpres kala itu, tercatat cuma ada 18,03 persen pemilih yang golput (golongan putih/abstain).

Angka yang masih tinggi, namun masih lebih rendah dibanding golput pada Pilpres 2014 yang mencapai 30,42 persen, 2009 sebesar 28,3 persen, atau bahkan lebih rendah dari Pilpres 2 putaran 2004 sebesar 23,4 persen dan 21,8 persen.

Saya curiga, bahwa kehadiran Nurhadi-Aldo mampu menekan keinginan golput masyarakat terutama dari kalangan muda. Yang tentu saja, kehadirannya 2024 nanti masih layak dinantikan.

Editor: Mita Berliana
Penulis
dicky setyawan

Dicky Setyawan

Insan daerah. Suka merokok sebelum sikat gigi.
Opini Terkait
Daripada Nyuruh BEM UI KKN di Papua, Mending TNI Belajar Feminis
Karena Sengkarut Istilah Buzzer, Diskusi Tak Lagi Asyik!!
Rekognisi Seniman (terhadap dan oleh) Daerah
Apakah Kita Harus Percaya Pada Pakar?
Jebolnya Taktik Parkir Bus PDIP
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-opini-retargeting-pixel