Pengetahuan adalah Kekuatan dalam Hadapi Bencana, Berdaya Sekarang!

Pengetahuan adalah Kekuatan dalam Hadapi Bencana, Berdaya Sekarang!

hadapi bencana

DAFTAR ISI

Indonesia merupakan kawasan yang memiliki potensi bencana alam terbesar di dunia. Secara geografis, letak Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada pada jalur ring of fire.

Membuat Indonesia menjadi wilayah yang rentan mengalami gempa bumi dan terdampak letusan gunung berapi. Mempersiapkan masyarakat menghadapi situasi darurat dengan pengetahuan kebencanaan menjadi amat krusial.

Bencana gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004 lalu, menelan korban sebanyak 170.000 jiwa. Tersebut menjadi semacam wake up call, untuk perbaikan manajemen kebencanaan di Indonesia. Termasuk pendidikan tentang kewaspadaan bencana.

Pentingnya wawasan tanggap bencana

Pengetahuan adalah Kekuatan dalam Hadapi Bencana, Berdaya Sekarang! - pendidikan kebencanaan 1024x683 jpg

Wawasan kebencanaan yang memadai perlu dimiliki tiap-tiap individu. Khususnya pengetahuan kebencanaan yang sesuai konteks dengan hazard bencana di tempat tinggal masing-masing.

Di tengah meningkatnya eskalasi bencana dan situasi darurat saat ini, kecanggihan teknologi dalam memperoleh pengetahuan kebencanaan, dan penerapannya dalam tindakan nyata, menjadi cara efektif untuk meminimalisir risiko bencana yang terjadi.

Selain itu, pendidikan kebencanaan juga aspek penting terhadap pengurangan risiko bencana dan kesiapsiagaan pada kelompok masyarakat rentan. Seperti  anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas.

Minimnya pendidikan bencana di masyarakat menjadi salah satu penyebab risiko bencana yang mungkin terjadi tidak dapat dihindari, bahkan dampak yang diterima kian destruktif. Terutama pada kelompok-kelompok rentan dalam masyarakat.

Sosiolog Elaine Enarson memaparkan pikirannya perihal ini di dalam tulisannya tentang  perempuan sebagai kelompok paling rentan menjadi korban bencana alam dan kaitannya dengan pengetahuan kebencanaan.

Mula-mula, kontruksi sosial yang terbangun akibat ketimpangan posisi antara laki-laki dan perempuan menempatkan perempuan pada peran dan posisi yang tidak mudah. Konstruksi sosial ini membentuk nilai budaya di mana perempuan fokus pada urusan domestik sehingga jarang bisa keluar rumah.

Kondisi ini seringkali menyebabkan ketidak-hadiran perempuan dalam pelatihan kebencanaan. Sehingga wawasan terkait pencegahan dan penanggulangan bencana yang dimiliki tidak memadai. Terbatasnya pengetahuan yang dimiliki soal teknik penyelamatan diri berdampak pada kondisi di mana perempuan lebih rentan menjadi korban bencana alam.

Pembekalan wawasan kebencanaan sejak dini

Pengetahuan adalah Kekuatan dalam Hadapi Bencana, Berdaya Sekarang! - wawasan kebencanaan 768x1024 jpg

Dari hal ini, kita mampu menilai bahwa pendidikan kewaspadaan bencana punya urgensi di tengah masyarakat, untuk mereduksi risiko bencana. Solusi atas kasus terkait tentu saja penyebaran intensif pendidikan kebencanaan ke berbagai elemen masyarakat.

Tak hanya itu, pembekalan pengetahuan kesiapsiagaan darurat kepada anak-anak sebagai salah satu kelompok rentan menjadi hal penting untuk mengurangi dampak risiko bencana. Mempersiapkan generasi muda menghadapi situasi darurat dengan memberdayakan mereka lewat pengetahuan kewaspadaan bencana.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di berbagai negara seperti Jepang, terdapat hubungan langsung antara pendidikan, peningkatan persepsi risiko, dan langkah-langkah pengurangan risiko yang dilakukan anak-anak.

Pendidikan kebencanaan yang dimulai sejak dini memudahkan anak-anak memahami masalah bencana, ketahanan, dan pengurangan risiko sejak dini. Di usianya, anak-anak cenderung merenungkan apa yang telah mereka pelajari dari orang dewasa. Dengan begitu, pendidikan yang tepat terkait kewaspadaan bencana dapat meningkatkan tingkat kesadaran masyarakat di masa yang akan datang.

Mempersiapkan anak-anak yang berwawasan kesiap-siagaan bencana dan situasi darurat, mampu menumbuhkan masyarakat yang siap dan tangguh, terhadap bencana di masa yang akan datang.

Masyarakat yang tangguh terhadap segala macam bencana alam, yang mungkin hadir tak kenal waktu dan tempat, bisa terwujud dengan cara yang paling efektif dan murah. Yakni pendidikan dan peningkatan kapasitas literasi tiap-tiap individu tentang bencana dan bahayanya. Dengan begitu, risiko bencana bisa direduksi sekecil mungkin dampaknya atau bahkan dihindari.

Selain itu, berkaitan dengan kecanggihan teknologi masa kini, pendidikan kebencanaan diupayakan menjadi kebutuhan yang melengkapi keberadaan teknologi Early Warning System (sistem peringatan dini). Respons masyarakat atas alarm peringatan dini harus dilengkapi dengan wawasan memadai tentang kebencanaan. Serta, wawasan kebencanaan mampu menambal kekurangan dari operasional early warning system, yang cenderung belum menyeluruh ke berbagai daerah pelosok.  

Kawan Baik, ketika bencana alam terjadi di suatu kawasan, yang hancur tidak hanya tembok dan atap, melainkan juga hubungan antar manusia, mata pencaharian, dan tujuan hidup yang telah ditata selama bertahun-tahun.

Namun, segala kerugian yang mengancam sebagai dampak dari kehadiran bencana masih bisa kita kendalikan apabila kita merespons situasi dengan tangguh, tepat dan penuh persiapan. Pengetahuan menjadi langkah ampuh untuk menangkal risiko bencana itu. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (MAA/DMC Dompet Dhuafa)

Baca Juga
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-artikel-retargeting-pixel