Rasa Apa Aja Boleh

Oleh: Galuh Paramesti (Nama Pena)

Rasa-Apa-Aja-Boleh

credit: coolhunting.com

Sebwa tanggapan untuk tulisan bertopik film Indonesia di luar negeri yang ditulis Ilham Vahlevi. "Baca tulisan itu bikin saya ngilu-ngilu enak. Semoga Mas Ilham gak marah ya tulisannya dibahas. Amin."

Diksiers yang budiman, tulisan saya yang pertama ini pengen ngebahas tulisan mas Ilham Vahlevi yang dimuat disini beberapa pekan lalu. Yang tentang film cinta-cintaan itu. Baca tulisan itu bikin saya ngilu-ngilu enak. Semoga Mas Ilham gak marah ya tulisannya dibahas. Amin.

Jadi gini, di tulisannya, Mas Ilham mengeluh kalau film-film yang laku di Indonesia itu yang berlatar luar negeri sama tema cinta-cintaan. Ini saya ndak bisa bantah. Statistiknya memang menunjukkan begitu. Produsen-produsen film ternama yang cetar-membahana pun bisa kaya karena eksploitasi cinta. Jadi memang, perfilman di Indonesia itu paling jago masalah bercinta.

Dari kecil unyu-unyu, anak-anak Indonesia lebih hafal siasat cari pacar ketimbang cara dapet nilai bagus di sekolah. Masyarakat Indonesia juga lebih hafal siapa saja istri Bung Karno ketimbang dimana saja blio pernah diasingkan. Belum lagi lagu-lagu cintanya, waduh rek, bisa bikin galau di perempatan jalan gara-gara dengerin lagu yang ngingetin sama mantan.

Kita juga gak puas cuma liat film-film cinta. Habis nonton itu, biasanya kita praktekin cara-cara buat dapetin cewek. Dulu waktu AADC yang pertama booming di pasaran, buku “Aku” karangan Chairil Anwar langsung diburu para jombloers. Ludes sampai di pasar loak. Meskipun dari seluruh isi buku, hanya kata “binatang jalang“ yang diinget.

Singkat kata mas, kita ini bangsa yang penuh cinta sampai ke film-filmnya. Sedangkan produsen film, dimana-mana dituntut buat bikin film yang sesuai selera pasar. Dan kalau selera film masyarakat Indonesia adalah cinta-cintaan, itu berarti bukan salah produsennya, tapi isi otak masyarakat Indonesia yang perlu dibawa ke bengkel las.

Selain masalah cinta, daku juga hendak komentar tentang kenapa banyak orang Indonesia suka film-film berlatar luar negeri. Sama-sama luar negeri, tapi orang Indonesia. Terutama yang di kampung-kampung, lebih suka kalau pemainnya orang Indonesia, dibanding misalnya, film-film Hollywood yang memang luar negeri dari sononya (pemainnya, tempatnya, produsennya, bahasanya).

Jadi itu bagus kan? Mereka masih lebih suka liat orang Indonesia di luar negeri ketimbang bule di luar negeri. Toh mereka itu lo mas, dari lahir, besar sampai mati ya disitu-situ aja. Sekali-kali lihat salju lah di Inggris atau Piramida di Mesir yang ada orang Indonesianya pacar-pacaran kan bagus toh? Ndak Ketang cuma di film ya lumayan lah mas. Sedikit-sedikit bisa lah mengobati keinginan mereka yang cuma mau naik haji aja nabungnya seumur hidup mas.

Mas Ilham juga nulis tentang film TKI yang gak laku. Kasian mas TKI itu, udah miskin, dihina-hina juga. Banyak orang Indonesia yang kerja di kota sebelah aja gak berani. Eh ini ada orang kerja di luar negeri ninggal anak- istri malah jadi bulan-bulanan.

Perkara para TKI yang sering direndahkan karena suka main mata sama majikan, lak yo wajar seh? Lha di Indonesia aja pejabat bisa main mata sama penyanyi dangdut, mahasiswa sama ibu kos, dosen sama mahasiswi, mosok TKI sebagai manusia yang berbangsa satu bangsa Indonesia gak boleh main mata sama majikan. Yaopo seh karepe?

Dengan segala caci-maki dan konotasi buruk yang ada pada diri TKI ini, harusnya filmnya gak usah tentang cinta sesama TKI. Sekalian aja cerita cinta terlarang TKW sama majikannya. Atau dibikin judulnya “TKI Undercover. Pasti meledak sampe kakek-kakek juga antre pengen nonton.

Jadi aku gak heran kalau orang Indonesia suka nonton film di luar negeri karena itu fantasi mereka. Dan wajar aja mereka punya fantasi itu karena itu keinginan yang wajar. Yang justru mengherankan justru ketika para cowok suka nonton bokep karena jangan-jangan fantasi mereka isinya gituan semua. Dan itu gak wajar. Itu penyakit. Salam. (Mbak Ely’s style)

Galuh Paramesti (Nama Pena)
Si Cantik pencinta Bandrek. Makhluk astral di Omah Diksi.