Ribut Soal Prize Money dengan BWF, Viktor Axelsen: Buktikan Saya Salah!

Ribut Soal Prize Money dengan BWF, Viktor Axelsen: Buktikan Saya Salah!

Viktor Axelsen vs BWF terkait prize money

DAFTAR ISI

Sediksi.com – Atlet bulu tangkis tunggal putra Denmark, Viktor Axelsen melayangkan protes terbuka kepada Badminton World Federation (BWF) atas belum diterimanya prize money dari turnamen Indonesia Open 2023.

Pada laga Indonesia Open 2023 yang digelar 13-18 Juni lalu di Istora Senayan Jakarta itu, Viktor Axelsen berhasil meraih medali emas usai dirinya menumbangkan Anthony Sinisuka Ginting dengan skor 14-21, 13-21.

Dari kemenangannya tersebut ia berhak menerima hadiah prize money sebesar USD 87.500 atau Rp 1,3 miliar. Sayangnya, hampir satu bulan berlalu Viktor Axelsen belum menerimanya.

Protes Viktor Axelsen ke BWF

Viktor Axelsen mengawali protes terbuka terkait aturan kewajiban membayar denda yang diberlakukan padanya karena tidak bisa mengikuti Singapore Open 2023.

Pemain ranking satu dunia itu masuk dalam top comitted players, di mana diwajibkan hadir selama dua hari di lokasi turnamen berlangsung. Jika tidak, maka diharuskan membayar dengan USD 5.000.

“BWF ingin menjatuhkan denda pada saya USD 5000 karena tidak hadir di Singapore Open selama dua hari saat saya masih melakukan rehabilitasi pada masalah otot sebagai upaya untuk bersiap-siap menghadapi Indonesia Open,” tulisnya pada akun Twitternya @ViktorAxelsen.

“Dengan tiket penerbangan, hotel, dan tiket peluang, semua itu mendekati USD 5000. Dikombinasikan dengan tidak bisa menjalani rehabilitasi dan latihan yang tepat agar bisa siap tampil di ajang Super 1000,” lanjutnya.

Ia lalu menyinggung soal ironisnya masalah prize money Indonesia Open yang belum diterimanya. Ia bahkan menyebutkan poin-poin yang mengikat BWF dalam aturan prize money.

“Ironisnya kami masih belum menerima prize money dari Indonesia yang seharusnya sudah ada di rekening pemain saat ini, Oh ironisnya!,” terangnya yang ditulis pada Rabu, (12/7).

Bukan Salah PBSI

Terkait tulisan Viktor Axelsen tersebut, Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) pun bergerak cepat menanggapi pernyataannya mengingat banyak netizen yang mempertanyakan hal tersebut. Axelsen sendiri sama sekali tidak menyinggung PBSI, ia hanya protes kepada BWF.

Mengingat, belum diterimanya prize money oleh Axelsen ini memang bukanlah salah dari PBSI. Kepala Bidang Humas dan Media PBSI, Broto Happy memberikan klarifikasi soal curhatan Axelsen tersebut.

Ia dengan tegas menyebut bahwa PBSI sudah menunaikan kewajibannya dengan mentransfer money prize ke BWF.

Distribusi pembagian hadiah kepada para juara dalam sebuah turnamen memang tugas BWF. Ada beberapa alur yang harus dilewati agar prize money sampai kepada tangan sang juara.

“Saya sebagai Kabid Humas dan Media PP PBSI menyampaikan bahwa distribusi pembagian prize money kepada juara sebuah turnamen adalah tugas federasi bulutangkis dunia, dalam hal ini BWF,” ucap Broto Happy, dikutip pada Jumat, (14/7) dari unggahan Twitter resmi PBSI @INABadminton.

“Panitia penyelenggara Indonesia Open 2023 melalui PP PBSI sudah menunaikan semua kewajiban dan tanggung jawab kepada BWF pada 5 Juli 2023 atau lima hari lebih cepat sebelum batas waktu yang ditentukan,” tegasnya.

Lanjut Broto, BWF juga sudah mengonfirmasi telah menerima prize money tersebut.

“Dan BWF juga sudah mengonfirmasi telah menerimanya. Jadi, kami berharap PP PBSI tidak lagi dilibatkan dalam polemik yang terjadi dan semoga isu ini tidak menjadi bola liar,” jelas Broto.

BWF Jawab Protes Viktor Axelsen

BWF pun akhirnya buka suara terhadap pernyataan Axelsen tersebut. Mereka menegaskan bahwa kesejahteraan pemain merupakan hal penting baginya.

“Kesejahteraan pemain adalah hal yang sangat penting bagi BWF dan kami mengapresiasi dan menyambut tiap masukan dari atlet terkait hal tersebut,” tulisnya pada Jumat, (14/7) yang dikutip dari akun Twitter @bwfmedia.

BWF juga menyatakan ketidaksenangannya terhadap protes yang dilayangkan oleh Axelsen.

“BWF ingin mengklarifikasi bahwa beberapa bagian dari pernyataan ini tidak tepat dan keluar dari konteks, dan karena itu [BWF] tidak senang dengan reaksi yang ditunjukkan oleh pemain,” sambungnya.

Meski begitu, klarifikasi BWF ini terasa kurang lengkap karena tidak menunjukkan bagian-bagian mana dari pernyataan Axelsen yang dinilai mereka kurang tepat. BWF sendiri menyebut akan menangani masalah ini dengan Axelsen secara terpisah.

“BWF akan menanggapi masalah ini secara terpisah dengan pemain dan Asosiasi yang bersangkutan,” tutup BWF.

Axelsen Kembali Bereaksi atas Tanggapan BWF

Atas jawaban BWF tersebut, Axelsen pun kembali bereaksi.

“Bagian mana yang salah?” tulis Axelsen mengawali.

“Kewajiban pemain: Saya mengerti bahwa kami punya kewajiban dan itu tidaklah masalah. Secara pribadi saya juga senang mempromosikan olahraga ini, tetapi untuk mendorong atlet berpergian dengan biaya sendiri, ketika dia cedera, apakah adil?” ujarnya Axelsen.

Pada aturan BWF mengatur pemain yang masuk Top Committed Players untuk wajib ikut dalam seluruh turnamen level atas seperti Super 1000 dan Super 750. Apabila mereka berhalangan hadir karena cedera, maka pemain harus melakukan konferensi pers.

Sementara, bagi Axelsen hal itu tidak masuk akal mengingat biaya akomodasi yang harus ditanggung sendiri oleh pemain. Axelsen pun menyaranakan BWF memberi solusi berupa menanggung biaya akomodasi atlet yang masuk Top Committed Players sehingga mereka bisa tetap datang walaupun didera cedera.

“Saya tidak hanya berbicara tentang diri saya sendiri, tetapi untuk beberapa pemain, anggaran terbatas dan harus bepergian dengan biaya sendiri tanpa bermain dalam turnamen merupakan pukulan telak bagi anggaran tahunan mereka yang terbilang ketat, dengan semua turnamen di penjuru dunia.”

“Jika itu yang Anda inginkan, baiklah. Namun, jangan beri tahu saya bahwa kesejahteraan pemain adalah yang paling penting bagi Anda. Jika demikian, Anda akan berinvestasi pada tiket pesawat dan biaya hotel 1-2 hari untuk para atlet yang wajib melakukan promosi,” ujar Axelsen.

Axelsen pun juga memahami terkait alur pemberian prize money hingga akhirnya bisa sampai kepada pemain. Namun, dirinya menginginkan bukti dan keterangan yang lebih jelas dari BWF.

“Kedua, masalah hadiah uang. Jika saya salah bahwa hadiah uang sering tertunda, beri kami bukti bahwa saya salah?” terangnya.

Baca Juga
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-artikel-retargeting-pixel