5 Manuver Terbaik Menghadapi Netizen ‘Ngegas’

Ilustrasi by: Ilustrator/Rizqi Ramadhani Ali

Uhuk, nomor tujuh akan membuatmu menganga!

Saya percaya, kita sesama netijen sering menemukan tingkah pola netijen lainnya yang kadang membuat dada kita geleng-geleng. Entah itu di aplikasi media sosial seperti FB, Twitter, Youtube, Instagram, atau aplikasi instant messaging kayak Whatssapp, Line, BIGO Live sampai merembet ke ranah website serius seperti portal berita on line.

Ada saja komentar liar yang dapat menorehkan senyum setengah detik di bibir kita. Tapi tidak jarang pula membuat urat di kepala bagian atas kita menegang, dan menyanyikan lagu: BCL – Kecewa.mp3.

Padahal sudah ada UU ITE yang siap sedia dipakai oleh manusia sumbu pendek untuk menjerat siapa pun yang dianggap kebablasan menggunakan hak bebas berpendapatnya. Tidak tanggung-tanggung, bisa nginep bertahun-tahun di hotel prodeo. Hiii serem …

Baiklah itu UU ITE si pisau bermata dua. Artikel ini tidak membahas tetek bengek bagaimana UU itu bisa muncul dan kenapa netijen bisa tetap memiliki jiwa pemberani untuk berkomentar NGEGASSSS di setiap saat dan di platform apa saja. Yang akan menjadi fokus saya dalam opini yahud ini adalah cara-cara menghadapi netijen yang ngegas, berikut daftarnya:

1. Tanggapi dengan Woles

Hidup menjadi manusia itu berat, enakan jadi kucing. Kucing gak perlu mikirin dimarahi bos, malam mingguan tak ada gandengan, akhir bulan harus bayar listrik, air, kontrakan, kerja, lembur, skripsi, ditanyain kapan nikah, kapan lulus, dan banyak hal lainnya yang menekan hidupmu. Sesekali kita ingin kabur dari kerasnya realita kehidupan kita yang tidak sesuai ekspektasi. Ke mana kita kabur? Yang paling murah dan dekat dengan kaum milenial yang suka denial apa lagi kalau bukan dunia maya. Di tengah perjalanan pulang kerja, kita sudah membayangkan betapa enaknya sesampainya di kamar kos nanti kita tiduran sambil hapean.

Tapi apa jadinya jika kenikmatakan yang kita damba dirusak oleh komentar netijen yang lebih ganas dari lidah mertua atau dosen pembimbing. Bukannya relaksasi yang kita dapat, malah menambah ereksi di kepala. Kepala tegang pengen nyruduk orang aja.

Jadi apa tips pertama mengatasinya?

Balesin aja dengan bercandaan. Gak usah dianggap serius, toh mereka sebenarnya tidak memiliki dampak signifikan yang nyata ke kamu. Dan kalau pun ia adalah orang yang signifikan dalam kehidupanmu, semisal bos atau gebetan, humor bisa menjadi salah satu perekat hubungan, heheh (ketawa karir*).

2. Berikan referensi valid dan panjang.

Ada banyak peribahasa mengajarkan kita agar tidak usah menanggapi sesuatu yang tidak perlu: diam itu emas, tong kosong nyaring bunyinya; semakin sering berkomentar semakin sedikit isi kepalanya, and so on so on  ̴

Tapi gaes, itu tidak selalu benar! Kadang kala kita harus meluruskan komentar-komentar yang keluar dari pemikiran yang keliru. Apalagi sebagai makhluk in-telek-tual, ada beban tanggung jawab untuk memberi pencerahan orang-orang yang otaknya kadang pindah ke dengkul itu. Agar hidup kita berfaedah, dan hidup orang itu lebih berarti dengan pengetahuan barunya.

Syaratnya, jangan asal comot atau berargumen dengan kata “pokoknya”. Kita harus bisa memberikan beberapa referensi valid yang menjadi rujukan dasar komentar kita. Kalau perlu se-komprehensif mungkin. Sampai orang itu tak sanggup lagi membalas karena belum selesai membaca deretan referensi yang kamu paparkan. Ya berat memang. Gak sanggup? Ikuti langkah selanjutnya!

3. Berdoa

Kalau kalian suka nonton film-film dokumenter di Discovery Channel, maka kalian pasti sadar bahwa manusia, dibandingkan dengan alam semesta ini bagaikan upilnya pasir. Cilik poll.

Sehingga apalah artinya memikirkan satu komentar netijen yang tidak jelas asal-usulnya. Lebih baik kita pasrahkan kepada Tuhan semata untuk mendoakannya. Siapa tau dia segera berhijrah dari gelapnya dunia per-netijen-an. Tapi bagi kalian yang jek tasan atheist, anggap saja kalian lagi bertuhan saat baca ini. Palingan di kolom agama e-ktp kalian juga belum strip :p

4. Balas dengan akun anonim

Sudah menjadi taktik dasar para keyboard warrior bahwa identitas personal wajib dirahasiakan. Mereka sadar bahwa UU ITE bukanlah gertakan sambal. Tapi apa daya, libido untuk menyinyir selalu saja muncul. Untuk melampiaskannya cukup buat akun email baru dan aktifkan VPN. Tadaaaa… perang komentar sudah siap dijalankan.

Nah untuk itu, kita juga bisa menggunakan cara yang sama. Buat saja akun cadangan untuk menjadi senjata kalian ketika netijen tak diinginkan muncul. Kita bisa membalas komentar-komentar pedas mereka sama pedasnya, atau kalau tidak lebih pedas. Umpatan-umpatan sekebun binatang luapkan saja, tidak ada yang menahan kita kecuali kuota.

Eits, tapi saya sangat tidak menyarankan ini.  Karena secanggih-canggihnya kita menutupi identitas, divisi cyber crime polri masih lebih jago. Iyalah mereka dibayar kok, masa noob.

“Terus kenapa ditulis, suuu?”

“biar pas jadi lima daftarnya hehehe…”

5. Matikan gawai-mu.

Haduh capek ngetik. Pasti kalian juga capek bacanya kan? Sabar ini yang terakhir. Solusi paling mantap dan paling simpel. Matikan saja hapemu. Kita kembali ke masa di mana komunikasi dominan kita hanya diperantarai oleh udara.

Kembali ke dunia nyata saja. Satu dunia saja ribet, kok capek-capek punya dua dunia!


* Ketawa demi kepentingan karir

PENULIS

Faizal Ad Daraquthny

Ilustrator handal, dipuja banyak wanita

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.