Sesat Pikir Konten Bersyukur ala TikTok

Sesat Pikir Konten Bersyukur ala TikTok

Sesat Pikir Konten Bersyukur ala TikTok
Ilustrasi oleh Ahmad Yani Ali

Kenapa harus melihat orang “di bawah” kita untuk bersyukur? Kenapa kita harus merasa kasihan pada seseorang agar kita sadar untuk bersyukur?

Pernah nggak fyp-mu (for your page) lewat video orang lagi duduk merenung di pinggir jalan, videoin orang lagi kehujanan, orang lagi narik gerobak, orang lagi makan menu paling murah di warung. 

Kemudian dibumbuhi caption, “Lagi cape-capenya hidup, dikasih liat kayak gini. Tetap tersenyum. Dan terus bersyukur ya,” , “Mau ngeluh hidup, tapi masih ada yang di bawah kita. Hidup memang harus selalu disyukuri yah,” dan sejenisnya, ditambah sound yang mendayu-dayu.

Atau pernah nggak, ketika sedang keluar dengan temanmu, menaiki sepeda motor, dan berhenti saat lampu merah. Lalu seorang anak kecil menghampiri, menjajakan bakpao. 

Kemudian temanmu membeli bakpao tersebut. Setelah itu mengatakan, “Kasihan yaa dia, masih kecil udah jualan kayak gitu panas-panasan. Dia kayak gitu pasti karena tuntutan hidup. Gimana pun aku lebih beruntung yaaa, kenapa aku masih ngeluh, aku emang kurang bersyukur,”

Konten-konten seperti ini dan sejenisnya-lah yang akhir-akhir ini membuat saya resah. Rasanya, ada yang keliru pada konsep bersyukur yang sudah kita lakukan.

Bersyukur memang baik. Tapi, kenapa harus melihat orang “di bawah” kita untuk bersyukur? Kenapa kita harus merasa kasihan pada seseorang agar kita sadar untuk bersyukur?

Parahnya, belakangan saya mengetahui bahwa video konten bersyukur yang masif di Tiktok tersebut diambil atau direkam tanpa izin.

Yaa… memang siapa juga siih yang mengizinkan seseorang untuk merekam kita saat berpakaian compang-camping, sedang kucel? Apalagi dijadiin konten bersyukur! Yang seenaknya diberi caption yang seakan merendahkan satu pihak untuk meninggikan pihak lainnya (si pembuat konten).

Belakangan, ada konten tandingan, bahwa subjek yang direkam sebagai konten bersyukur itu sebenarnya yaa sedang baik-baik saja, tidak seperti apa yang dituduhkan pada konten tersebut. 

Hanya kebetulan memang sedang duduk pinggir jalan dan melamun sehingga wajahnya terlihat memelas, kebetulan kehujanan saat menaiki motor padahal punya mobil di rumah, dan kebetulan-kebetulan lainnya. 

Konyol sekali kan.

Konten Bersyukur dan Superiority Complex

Dalam psikologi positif, yang diungkap oleh Peterson dan Seligman, syukur merupakan respon perasaan penuh terima kasih dan rasa senang, ketika menerima sebuah pemberian. Baik sesuatu yang jelas manfaatnya dari momen tertentu, maupun keadaan berkah dan damai yang ditimbulkan oleh keindahan alam.

Bersyukur pada dasarnya adalah berterima kasih. Bisa berterima kasih dan memuji pada Tuhan yang telah melimpahkan nikmat. Sehingga dapat memotivasi diri kita untuk lebih baik, dan tidak mudah mengeluh

Atau kalau mau diartikan secara non-spiritual, bersyukur juga bisa berterima kasih pada diri sendiri sebagai refleksi. Juga berterima kasih pada orang-orang sekitar kita yang selalu ada.

Bersyukur pada keadaan kita yang sekarang, setelah melihat kondisi orang-orang yang menurut kita kurang beruntung. Sehingga membuat kita merasa lebih baik daripada orang tersebut. Hal ini rasanya kurang etis.

Secara tidak langsung kita sedang merendahkan orang tersebut. Ada rasa lebih unggul daripada orang tersebut, padahal bukan soal pencapaian yang setara, membandingkan diri dengan orang lain, ditambah dijadikan konten bersyukur, jelas ini hanyalah soal mencari validasi saja.

Kalau kamu memiliki konsep bersyukur seperti itu, bisa jadi kamu punya kecenderungan akan Superiority complex, yakni keyakinan bahwa kemampuan atau pencapaianmu lebih baik daripada orang lain.

Menurut artikel What is a Superiority Complex, yang ditulis oleh Kimberly Holland, superiority complex sebenarnya adalah reaksi terhadap perasaan rendah diri yang mendalam. Untuk mengatasi perasaan rendah diri, sebagian orang bereaksi dengan bekerja keras dan menguasai keterampilan untuk menunjang kehidupannya. 

Namun, pada superiority complex, orang dengan perasaan rendah diri sulit menyakinkan dirinya untuk mencapai sesuatu. Dan untuk menutupi hal tersebut serta melindungi harga dirinya, dengan kerap merendahkan orang lain dan meyakini bahwa dirinya lebih baik.

Merasa diri baik menunjukkan self-esteem yang bagus. Namun merasa diri lebih baik daripada orang lain mengarah pada kesombongan, ketidakpuasan, dan sejenisnya. 

Mengapa harus ada embel-embel “lebih baik daripada” atau “lebih baik dibandingkan” untuk merasa diri kita ini baik? 

Bersyukur Yaa Bersyukur aja!

Syukur, menurut Robert dalam The Blessings of Gratitude: A Conceptual Analysis, merupakan sebuah konsep three-term construal. Dalam bersyukur “seseorang” mesti menerima “sesuatu” dan menyadari bahwa hal tersebut adalah karena “pihak lain”.

Seseorang dalam kondisi emosi syukur tidak hanya menikmati dan merasa senang ketika menerima “sesuatu”, namun juga memikirkan adanya “pihak lain” yang turut andil saat kamu menerima “sesuatu” itu. 

Misalnya, saat kita membeli sesuatu lewat online shop (olshop). Barang sampai dengan selamat di tangan kita. Karena siapa? Karena seller yang membungkusnya dengan apik dan pengamanan yang bagus, kemudian kurir yang mengantarkannya dengan hati-hati.

Atau lebih radikal. Yakni dengan memperhatikan apa yang kita miliki, kemudian memikirkan asal-muasalnya. Misal, baju yang kita kenakan saat ini. 

Sebelum menjadi baju, mulanya ia adalah tanaman kapas, yang dipanen dan dipintal. Selanjutnya, menjadi benang, benang digulung, dicelupkan ke dalam pewarna. Lalu benang ditenun, sehingga menjadi kain. 

Berikutnya, dicuci agar lilin alami atau biji dari serat-serat kain hilang. Hingga kain siap diperjual-belikan.

Tapi belum selesai. Kemudian seseorang membelinya, dibawa ke suatu pabrik atau ke tukang jahit. Jadilah baju, yang dijual di toko. Dan dari sekian banyak orang yang keluar-masuk toko, kamu lah yang membeli baju itu. Atau seseorang membelikanmu.

Dan kamu menyukainya atau kamu sudah lamaa menginginkan model baju seperti itu. Untuk satu barang yang kamu pakai, kamu bisa mensyukurinya sedalam itu, bahwa sejak dari masih menjadi kapas, baju itu seakan tercipta untukmu.

Alih-alih kasihan pada kehidupan orang lain, baiknya kita berkontemplasi. Pada apa saja yang sudah kita lalui dalam hidup, apa saja yang sudah capai dalam hidup, apa saja yang kita punyai dalam hidup. Lalu berterima kasih pada Tuhan, atau berterima kasih pada orang-orang yang menjadi “pihak lain” itu.

Jadi, memang seharusnya bersyukur yaa bersyukur saja. Berkaca ke diri sendiri, bukan membandingkan diri dengan orang lain, apalagi sampai videoin, ngekontenin tanpa ada persetujuan dari orang terkait dengan maksud dibandingkan dengan nasibnya yang katanya masih mending itu.

Memang kamu sendiri suka, kalo lagi enak-enak makan mi—yaa meskipun harganya palng murah di warung, tapi karena lagi pengen, tau-tau viral di Tiktok dan dijadikan bahan konten bersyukur?

Editor: Pramana Jati
Penulis

Mita Berliana

Instagram: @berliana_mita
Opini Terkait
Regretting Motherhood: Ketika Tak Semua Perempuan Ingin Jadi Ibu
Malaka Project dan Bias Kritik Alfian
Perempuan dan Hantu Keberdayaan
Mlijo: Sinetron Desa ala Foucault
Mengenang Kejayaan Warnet: Kerinduan Manusia akan Ruang Aman
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-opini-retargeting-pixel