Agustinus Tjhay menghadiri International Chemical Recovery Conference di Toronto, Kanada (dok. pribadi Agustinus Tjhay)
Setiap tahun, ribuan sarjana teknik mesin lulus dari kampus-kampus di Indonesia. Banyak dari mereka membawa pertanyaan yang sama: setelah wisuda, lalu apa? Sebagian membayangkan karier yang lurus dan sempit, bekerja di pabrik, naik jabatan pelan-pelan, dan berhenti di posisi teknis. Padahal, jalan seorang insinyur bisa jauh lebih berwarna dari itu.
Kisah Agustinus Tjhay adalah salah satu contohnya. Ia berangkat dari bangku teknik mesin, belajar bahasa pasar lewat pendidikan bisnis, mengasah diri di lantai pabrik dan meja penjualan, lalu membangun sebuah perusahaan di Indonesia dari seorang diri. Kini ia menjabat sebagai Managing Director Clyde Industries South East Asia, dengan cakupan wilayah negara-negara ASEAN, Australia, dan Selandia Baru. Bukan kisah sukses semalam, melainkan rangkaian keputusan karier yang masing-masing punya pelajaran.
Insinyur yang Mau Belajar Bahasa Pasar
Agustinus meraih gelar Sarjana Teknik Mesin dari National Cheng Kung University (NCKU), Taiwan, salah satu kampus teknik terkemuka di Asia. Dari sana ia membawa bekal tentang mesin, sistem termal, dan cara kerja peralatan industri.
Yang menarik, ia tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan meraih MBA bidang Pemasaran dari Oklahoma City University. Bagi banyak insinyur, pemasaran sering dianggap dunia lain, urusan orang bisnis yang tidak perlu dipahami. Agustinus justru melihatnya sebagai pelengkap. Insinyur yang hanya paham mesin akan kesulitan menjelaskan nilai solusinya kepada pembeli. Orang pemasaran yang tidak paham mesin akan kesulitan dipercaya oleh pelanggan industri. Menguasai keduanya membuat seseorang bisa berdiri di tengah, menjembatani kebutuhan teknis dan keputusan bisnis.
Lantai Pabrik dan Meja Penjualan sebagai Ruang Kuliah Kedua
Sebelum memimpin perusahaan, Agustinus bekerja di sejumlah perusahaan manufaktur di Taiwan dan Indonesia. Pengalaman di lingkungan produksi mengajarkan hal yang tidak selalu ada di buku kuliah: bagaimana mesin bekerja dalam kondisi nyata, bagaimana gangguan kecil bisa menghentikan produksi, dan bagaimana tim di lapangan memecahkan masalah dengan cepat.
Setelah itu ia menjabat sebagai Sales Marketing Manager di sebuah perusahaan multinasional asal Amerika Serikat. Di posisi ini, ilmu pemasaran dari bangku MBA diuji langsung di pasar. Ia belajar mendengarkan pelanggan, memahami cara keputusan pembelian dibuat di perusahaan besar, dan bekerja dengan standar korporasi global.
Bagi insinyur muda, fase ini memberi pesan sederhana: pengalaman di posisi yang berbeda-beda bukan tanda karier yang tidak fokus. Justru dari situlah terbentuk cara pandang yang utuh, yang kelak sangat dibutuhkan ketika memimpin.
Peta Perjalanan Karier Agustinus Tjhay
Agar lebih mudah dibaca, berikut ringkasan tahapan karier Agustinus beserta pelajaran yang bisa dipetik dari masing-masing tahap.
| Tahap | Yang dijalani | Pelajaran untuk insinyur muda |
| Pendidikan teknik | Sarjana Teknik Mesin, National Cheng Kung University, Taiwan | Fondasi teknis yang kuat adalah modal utama untuk dipercaya di sektor industri. |
| Pendidikan bisnis | MBA Pemasaran, Oklahoma City University, Amerika Serikat | Memahami pasar membuat keahlian teknis bisa “dijual” dan bernilai. |
| Manufaktur | Bekerja di perusahaan manufaktur di Taiwan dan Indonesia | Lapangan mengajarkan hal yang tidak ada di ruang kelas. |
| Penjualan dan pemasaran | Sales Marketing Manager di perusahaan multinasional Amerika Serikat | Kemampuan mendengarkan pelanggan sama pentingnya dengan kemampuan teknis. |
| Merintis (2009) | Bergabung dan mendirikan Clyde Bergemann Indonesia, dimulai seorang diri | Berani memulai kecil, meski belum punya tim. |
| Membangun (2010 hingga kini) | Memimpin PT Clyde Industries Indonesia hingga lebih dari 100 karyawan | Pertumbuhan perusahaan bergantung pada kemampuan membangun orang. |
| Memimpin kawasan | Managing Director Clyde Industries South East Asia (ASEAN, Australia, Selandia Baru) | Kepercayaan yang dibangun di satu negara bisa membuka peran yang lebih luas. |
Berani Memulai dari Nol
Pada 2009, Agustinus bergabung dan mendirikan Clyde Bergemann Indonesia. Sejak 2010, perusahaan beroperasi sebagai PT Clyde Industries Indonesia. Di awal, tidak ada tim besar yang menunggu. Ia memulai seorang diri sebagai managing director, dan pada prakteknya juga menjadi tenaga penjual, perwakilan teknis, sekaligus pengelola hubungan pelanggan.
Di sinilah semua bekal sebelumnya bertemu. Latar belakang teknik membantunya berbicara dengan bahasa yang dipahami operator pembangkit. Pengalaman pemasaran membantunya membangun kepercayaan dan menawarkan solusi yang tepat. Hasilnya bertumbuh pelan tapi pasti: dari satu orang, perusahaan kini memiliki lebih dari 100 karyawan dan melayani perusahaan swasta serta Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di seluruh Indonesia.
Bidang yang Jarang Disorot, Tetapi Penting
Kalau ditanya soal karier impian, jarang ada anak muda yang menjawab “perawatan boiler pembangkit listrik”. Bidang ini memang tidak sering muncul di media sosial. Namun, di balik listrik yang menyala setiap hari, ada boiler yang harus dijaga tetap bersih dan efisien. Perusahaan yang dipimpin Agustinus bergerak di bidang sootblowing dan pembersihan boiler, yaitu teknologi untuk membersihkan endapan abu dan jelaga di dalam boiler agar pembangkit bisa bekerja optimal.
Pelajarannya bagi insinyur muda: peluang karir yang kokoh sering ada di bidang yang tidak populer. Sektor energi dan industri berat membutuhkan orang-orang yang kompeten secara teknis, mau turun ke lapangan, dan sabar membangun keahlian. Selama listrik dibutuhkan, keahlian semacam ini akan selalu dicari.
Terus Belajar, Bahkan Setelah Memimpin
Satu hal yang menonjol dari perjalanan Agustinus adalah kebiasaannya untuk terus terhubung dengan perkembangan industri di tingkat global. Pada 24 hingga 26 September 2025, ia hadir di International Chemical Recovery Conference di Toronto, Kanada, forum internasional yang membahas teknologi recovery boiler di industri pulp dan kertas. Setiap tahun, ia juga menghadiri konferensi penjualan di Jerman bersama rekan-rekan dari jaringan internasional perusahaan.
Pada 22 hingga 24 September 2026, PT Clyde Industries Indonesia tampil di Enlit Asia 2026 di ICE BSD, Tangerang, dengan stan yang menampilkan solusi sootblowing dan pembersihan boiler. Di sana, Agustinus berdiri bersama timnya, banyak diantaranya anak muda, yang siap menjelaskan solusi perusahaan kepada para pemangku kepentingan sektor energi.
Posisi tinggi tidak membuatnya berhenti belajar. Bagi insinyur muda, ini pengingat bahwa gelar dan jabatan hanyalah titik singgah, bukan garis akhir.
Lima Pelajaran untuk Insinyur Muda
1. Kuasai dasar teknismu. Kredibilitas di sektor industri dimulai dari pemahaman yang kuat tentang cara kerja mesin dan sistem.
2. Jangan alergi terhadap bisnis. Belajar pemasaran, penjualan, atau manajemen akan membuat keahlian teknis lebih bernilai.
3. Hargai pengalaman lapangan. Pabrik, proyek, dan pertemuan dengan pelanggan adalah ruang kuliah yang tidak tergantikan.
4. Berani memulai kecil. Agustinus memulai seorang diri. Yang penting bukan besarnya langkah pertama, melainkan konsistensinya.
5. Bangun orang di sekitarmu. Perusahaan tumbuh dari satu menjadi lebih dari 100 orang karena ada kemauan merekrut, melatih, dan mempercayai tim.
Penutup
Kisah Agustinus Tjhay menunjukkan bahwa jalan karier seorang lulusan teknik mesin tidak harus berhenti di ruang mesin. Dengan perpaduan keahlian teknis, pemahaman pasar, pengalaman lapangan, dan keberanian untuk memulai, seorang insinyur bisa membangun perusahaan dan memimpin operasi di kawasan yang luas. Bagi anak muda yang sedang menimbang langkah setelah lulus, perjalanannya layak dijadikan bahan renungan.
Profil lengkap perjalanan karier dan kepemimpinannya dapat dibaca dalam artikel Agustinus Tjhay, Managing Director Clyde Industries South East Asia di Jakarta Invest.

