Bonek dan Arema Harus Tahu: Sejarah dan Cinta antara Malang-Surabaya

Bonek dan Arema Harus Tahu: Sejarah dan Cinta antara Malang-Surabaya

Bonek dan Arema Harus Tahu: Sejarah dan Cinta antara Malang-Surabaya
Ilustrasi oleh Ahmad Yani Ali

Dahulu pernah terjalin hubungan erat nan mesra antara kedua kota ini. Baik kemesraan dalam perang maupun dalam cinta.

Apa yang terlintas kala mendengar “Malang-Surabaya”? Rivalitas abadi? Permusuhan tak berkesudahan? Fanatisme Sepak bola yang saling serang?

Kalau gambaran itu yang terlintas, maka tampaknya kita perlu belajar ulang soal sejarah.

Dahulu pernah terjalin hubungan erat nan mesra antara kedua kota ini. Baik kemesraan dalam perang maupun dalam cinta.

Malang dan Surabaya Pernah di Bawah Satu Panji

Sejarah mencatat bahwa arek Malang di bawah panji Laskar Sabilillah pimpinan K.H. Masjkur ikut serta bertempur langsung dengan arek Surabaya di depan Stasiun Gubeng dan Jalan Pemuda, Surabaya.

Padahal mereka belum pernah mendapatkan pelatihan pertempuran—bahkan merasakan perang sungguhan pun belum. Tetapi, dengan modal semangat dan wani mati, serta karakteristik budaya arek Jawa Timur yang solid, mereka tak ciut nyali.

Dengan bermodal keris yang disucikan, parang yang mengkilat, bambu runcing, serta ketapel, mereka gas saja berangkat.

Bersama pejuang daerah lain, rasa takut lenyap ditelan perasan senasib dan solidaritas yang kuat. Mereka hanya takut negerinya dikuasai oleh bangsa asing.

Nah, di antara gigihnya perjuangan dan riuhnya perang, sebuah kisah asmara antara arek Malang dan arek Surabaya tercatat oleh sejarah. Ibarat pepatah, “di balik ngerinya perang, kerap ada cinta yang bersemai,” kisah ini abadi sampai hari ini.

Romansa dari Blauran ke Lowokwaru

Tersebutlah Sulistina, gadis asal Lowokwaru, Malang, yang turut bergabung ke medan laga. Meski tidak mengokang senjata, ia tergabung dalam PMI Malang. Tangan terampilnya digunakan untuk merawat para pejuang yang tumbang.

Di saat yang sama, BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia) sedang menghimpun anggota dari rakyat sipil untuk melawan tantara Belanda yang memulai agresi. Di dalam barisan semua berkumpul: tukang becak, kusir delman, penjual makanan, hingga pemuda kampung yang berani mati. Pokoknya, semua dipersilahkan join BPRI.

Di BPRI Malang, Sulistina dan anggota PMI lainnya dibekali kursus kilat cara memakai pistol, karaben, granat dan mitraliur. Sedangkan di lain waktu, Sulistina dilatih keterampilan Palang Merah oleh Dr. Soemarno di RS Sukun.

Berbekal itu, Sulistina berani melangkah saat pertempuran pecah di Surabaya. Pada 11 November 1945 ia tiba di Surabaya, tepatnya di Tembok Dukuh, dekat markas BPRI Surabaya.

Keesokan harinya, bersama ledakan mortir yang menggelegar, serta riuh bunyi pesawat sekutu, takdir cinta akhirnya menyapa.

“Jeng, kita pindah markas. Kita pindah ke Jalan Mawar. Di sini tak aman lagi. Keadaan bertambah gawat. Palang merah juga harus pindah.” ucap kalem seorang pemuda Surabaya kelahiran Blauran. Pemuda itu mengenakan setelan drill ala Jepang, beserta peci hijau yang tersemat emblem banteng merah putih.

Benar, pemuda itu adalah Bung Tomo! Tapi sayang, Sulistina tak ngeh bila itu adalah Bung Tomo. Dia tak tahu, itu adalah sosok yang suaranya kerap mengudara di radio setiap sore untuk membakar semangat perjuangan melawan Belanda.

Biar begitu, diakui Sulistina saat mendengarnya berbicara, hatinya seketika bergetar. Matanya juga menancap pada sosok pemuda itu. Mungkin itulah sinyal jatuh cinta pandangan pertama. Jatuh cinta yang murni, yang tak didasari nama besar.

Hari berlanjut, Sulistina pun sadar bila yang dijumpainya adalah Soetomo. Seiring silih bergantinya pelarian dan pertempuran, cinta dua sejoli itu saling bertambat.

Lambat laun, Bung Tomo akhirnya menyatakan cintanya. Bermula di Ijen, setelah keluarga Bung Tomo pindah dari Surabaya ke Malang di Jalan Ijen nomor 71, Bung Tomo menanyakan suatu hal yang bikin deg deg ser setiap wanita pada saat itu. Di depan Sulistina, Bung Tomo berkata, “Jeng Lies, apakah sudah ada yang punya?” yang kemudian diakhiri dengan sebuah lamaran untuk menikah.

Dua Kota dalam Satu Rahim Sejarah

Jauh sebelum kisah romansa Bung Tomo dan Jeng Lies, wilayah memanjang antara Malang-Surabaya memiliki sejarah dan budaya yang khas. Terutama jika dibandingkan dengan wilayah di sekitarnya.

Mengutip ulasan antropolog Darmanto Simaepa dalam Tamasya Bola, ia menuliskan bahwa Malang-Surabaya adalah dua kota yang menjadi anak kandung subkultur budaya Jawa Timuran yang paling otentik.

Wilayah ini secara budaya berbeda dengan kota-kota di kawasan Tapal Kuda yang terpengaruh Budaya Madura dan Keislaman Pesantren yang kental. Malang-Surabaya juga memiliki perbedaan budaya yang kontras dengan kota-kota di bagian baratnya yang terpapar pengaruh Mataraman dari Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Secara historis, terdapat garis membujur yang menjadi nadi sejarah kerajaan dengan corak yang khas. Mulai dari Kerajaan Kanjuruhan, Singasari, Kediri, sampai Majapahit, yang memiliki budayanya sendiri.

Maka sebab itu, sebetulnya keduanya mempunyai banyak persamaan. Terutama dalam hal prinsip dan nilai yang dianut.

Bonek, dengan salam satu nyali yang ditimpali kalimat wani mewakili spirit budaya Arek perihal kebersamaan dan keberanian. Sementara Arema, salam satu jiwanya melambangkan persatuan serta rasa senasib sepenanggungan yang dijunjung tinggi-tinggi. Artinya serupa, yaitu soal susah senang ditanggung bareng-bareng. Ini identik dengan prinsip solidaritas dan rasa setia kawan.

Meski terbilang subkultur Jawa, namun nilai-nilai tersebutlah yang membuat wilayah Malang-Surabaya menjadi unik.

Pasca Tragedi Kanjuruhan kemarin, seharusnya kita sadar akan persamaan budayanya. Bahwa ternyata kita semua telah keliru merayakan semangat, keberanian, dan solidaritas yang sebelumnya menjadi permusuhan tanpa alasan.

Garis merah antara Malang-Surabaya cukuplah hanya jadi tinta sejarah perlawanan pada jaman Belanda dulu. Jangan lagi ditebalkan oleh darah arek-arek yang tumbang gara-gara sepakbola. Jika perlu ganti dengan tinta merah muda seperti jejak romansa Bung Tomo dan Jeng Lies.

Kita harus ingat bahwa hubungan Malang-Surabaya adalah hubungan yang erat dan tak terpisahkan. Mulai dari sejarah, budaya, solidaritas dalam mengusir penjajah, sampai kisah cinta. Eman rasanya jika semua hal itu dirusak oleh fanatisme sepak bola semata.

Satu Jiwa, Wani!

Editor: Rizqi Ramadhani Ali
Penulis

Andi Setiono

Tukang tulis amatir yang lagi sibuk cari lowker | memutuskan berhenti sementara mendukung PS Arema | Suka cari saudara~
Opini Terkait
Kenyang Makan Stereotipe Superlemot di Medan
Mlijo: Sinetron Desa ala Foucault
Sesat Pikir Konten Bersyukur ala TikTok
Mengenang Kejayaan Warnet: Kerinduan Manusia akan Ruang Aman
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-opini-retargeting-pixel