Tafsir Alternatif Snow White: Ibu Tiri adalah Kita

Tafsir Alternatif Snow White: Ibu Tiri adalah Kita

Ilustrasi mirror

Seandainya cermin ajaib ibu tiri itu mahasiswa psikologi, tentu saja kisah Snow White akan jadi berbeda

Rizqi Nurhuda Ramadhani Ali Tweet

“Mirror, mirror on the wall, who’s the fairest of them all?”

“Thou, O Queen, are the fairest in the land.”

Demikianlah potongan dialog dari tokoh sang ratu, si ibu tiri di dalam Snow White-nya Carl Grimm. Hampir semua orang di dunia sudah familiar dengan kisah serupa: Cinderella, Si Kerudung Merah, Putri Duyung, atau bahkan Majunya Perekonomian Indonesia. Seberapa sering kita dininabobokan dengan kisah-kisah fantasi semacam itu?

Mungkin tanpa sadar, dongeng-dongeng sebelum tidur tersebut memengaruhi sudut pandang kita semenjak bocah. Atau bahkan, gara-gara dongeng itu, ada yang meyakini bahwa sosok ibu tiri selamanya adalah sosok yang kejam. Kasihan bapakmu yang pengen kawin lagi lho.

Potongan dialog di atas bisa kita renungi dari sudut pandang berbeda. Sekalipun si ibu tiri itu hidupnya turah-turah sebagai the first lady, namun si ibu tiri juga memiliki permasalahan tersendiri. Bukan karena tidak bisa mengupas salak, tapi obsesi untuk jadi yang paling cantik. Lha piye lur, Ibu Negara.

Bagi perempuan bangsawan di masa imperialisme, kecantikan adalah nilai yang bisa dibanggakan. Tidak cantik akan mencoreng citra mereka.

Untungnya, si ibu tiri punya alat canggih yang mampu mensurvey kecantikan perempuan seluruh negeri. Maka begitulah, si ibu tiri hidup dalam rasa cemas. Perasaan itu, meminjam bahasa Nadin Amizah, membuatnya hidup “dalam rasa aman yang ternyata palsu”.

Baca juga: The Age of Adaline: Merasakan Lelahnya Jadi Awet Muda

Lalu apa kaitannya si ibu tiri dengan kita semua? Setidaknya ada dua hal yang menunjukkan kemiripan si ibu tiri dengan kita semua. Pertama, kebiasaannya setiap hari untuk ngecek penampilan di depan cermin dan menipu diri bahwa kita baik-baik saja. Kedua, rasa dengki terhadap pencapaian orang lain.

Menipu Diri di Depan Cermin

Pertama, mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita tidak menyadari bahwa rutinitas ibu tiri yang insecure dengan pencapaian orang lain itu sebenarnya sedikit banyak dilakukan oleh kita semua?

Mari kita berhitung, berapa kali dalam sehari kita bercermin dan berusaha menenangkan kecemasan atas penampilan, seraya terus bertanya: “How do I look today?”

Charles Cooley memperkenalkan sebuah istilah bernama looking-glass self. Terma yang merujuk pada fenomena ketika tiap individu cenderung merefleksikan dirinya dengan orang lain dalam lingkungan sosial mereka: teman, keluarga, idola, bahkan komentar akun bot di twitter.

Refleksi itu akan lahir menjadi citra terhadap diri sendiri. Walau sebenarnya citra tersebut bukanlah penggambaran yang memadai atas kedirian kita, melainkan anggapan kita tentang bagaimana orang lain memandang kita.

Rada ribet, ya? Sederhananya, citra itu cuma ada dan dibuat oleh kepala seseorang. Toh orang lain ngga peduli-peduli amat dengan kehidupan mereka.

“Image is powerful. But also, image is superficial, ungkap Cameron Russell, seorang model busana. Russel pernah berbicara di panggung TedTalk tentang bagaimana perasaan insecure juga melanda model-model terkenal sekalipun. Mereka merasa dituntut oleh ‘perusahaan’ tentang bagaimana seharusnya perempuan ideal berpenampilan.

Russell menambahkan bahwa di balik kamera, sebenarnya ia merasa insecure dengan tubuh dan penampilannya. Ia selalu merasa takut dan tidak pede karena harus memikirkan tentang “how do i look every day?” atau “If I have thinner thighs and shinier hair, will it be happen?”

Ia menegaskan bahwa perempuan dengan paha paling ramping, rambut paling berkilau, dan pakaian paling update mungkin merupakan perempuan paling insecure se-dunia. Maka, berbahagialah kalian para wibu dan wota yang halu dan bahagia dengan dunianya yang bisa berpuas dengan diri sendiri.

Teknologi membuat mata kita melihat semakin luas, telinga kita mampu mendengar bisikan-bisikan paling lirih, dan kepala kita dicekoki hal-hal yang sebenarnya kita tidak perlu tahu. Ya, internet sudah menjadi kebutuhan mutlak dan sangat mudah diakses, kecuali masyarakat pelosok yang internetnya megap-megap. Konsekuensinya, lingkup sosial yang mempengaruhi proses looking-glass self pun semakin luas.

Meaghan Ramsey mengatakan bahwa hari ini media sosial adalah cermin. Melebihi omongan tetangga, like, komen, dan followers menjelma hakim yang menentukan seseorang itu baik atau buruk, menarik atau tidak, bahkan salah atau benar. Terkait masalah anxiety tadi, ada puluhan ribu orang tiap bulannya menanyakan pada yang mulia google: “am i ugly?”

Ramsey menceritakan kisah tentang Faye, seorang gadis 13 tahun dari Denver, AS. Faye mengunggah video di youtube dan bertanya apakah dia cantik? Faye merasa ragu, sebab setiap saat ibunya meyakinkan bahwa dirinya cantik, sementara teman-teman di sekolahnya mengatakan bahwa dirinya jelek.

Faye bingung siapa yang harus ia percaya. Namun nahas, dengan kejamnya, banyak orang-orang yang memberikan komentar negatif atas videonya. Anak-anak seusia Faye adalah awal tahap panjang dari proses pencarian jati diri.

Faye tidak sendiri. Ada ribuan video yang sebagian besar diposting oleh gadis usia remaja yang menanyakan apakah dirinya jelek. Coba saja ketik kata kunci “am I ugly” di pencarian youtube.

Dewasa ini, orang-orang berlomba menghabiskan energi dan uang demi penampilan, dan mulai mengabaikan atau bahkan mengorbankan hal lain. Individu yang sudah mapan secara mental maupun penghasilan saja masih belum bisa lepas dari tuntutan sosial ini, apa lagi para remaja? Menurut Ramsey juga, sekitar 6 dari 10 remaja perempuan memilih membatalkan suatu pekerjaan karena mereka pikir mereka tidak cukup menarik.

Setali tiga uang, remaja laki-laki juga tidak kebal dari semua itu. Rahang kokoh, perut sixpack, dan penampilan ala selebriti adalah standar yang terlalu tinggi bagi remaja pria yang baru puber.

Rasa Dengki Terhadap Orang Lain

Suatu hari cermin ajaib milik si ibu tiri mengatakan hal yang berbeda. Ibarat bom waktu, kecemasan si ibu tiri yang selama ini mengendap kemudian meletus saat apa yang paling ia takutkan benar-benar terjadi:

Then one day, the mirror said to the queen,

“Snow White, O Queen, is the fairest of them all.”

Nah, lho. Ternyata kecantikannya ditandingi oleh anak tirinya sendiri. Ia tak punya pilihan, obsesi jadi yang paling cantik mendorongnya menyingkirkansi Purti Salju. Sebenarnya bisa saja ia memastikan kematian si Putri Salju kapanpun di istana. Misal di saat si Putri Salju sedang hepi-hepinya menangkap kodok atau saat ia memetik bunga di halaman istana. Lelepin aja kepalanya ke danau atau garukkan saja mukanya ke batang kayu ek. Namun, sepertinya si ibu tiri memilih jalan lain: Ia memilih untuk melenyapkan si putri dengan anonim.

Buktinya ia lebih memilih untuk menyuruh tukang bakso membawa walkie-talkie patihnya menghabisi si Putri Salju di hutan, kan? Buktinya lagi saat nanti ia harus membunuh si Snow White secara langsung, ia juga lebih memilih untuk menyamar menjadi nenek tua lalu meracuninya dengan apel, bukan sianida di kopi vietnam. Singkatnya, si ibu tiri ingin melenyapkan Putri Salju tanpa identitasnya ketahuan.

Familiar?

Wah kalau ini mah, netizen banget. Sudah berapa kali ghibah, komentar nyinyir, caci maki, dan perundungan bertebaran menyesaki kehidupan orang lain? Kita merasa aman mengetikkan apapun seenak jempol, padahal kalau kegep bakalan gupuh memberi klarifikasi. Dalam dunia maya, kita merasa berjauhan namun begitu dekat. Setiap orang bisa saja menjadi korban sekaligus pelaku.

Media sosial kemudian menjadi tolok ukur atas standar hidup orang-orang. Pengaruhnya begitu kuat sampai menyelinap ke dalam ruang-ruang pribadi yang kemudian menjadi tuntutan hidup terhadap life style. Tentang bagaimana si A sudah beli rumah, si B yang bisnisnya sukses, si C yang rabi sama model, misalnya. Karena sambat ke Tuhan adalah urusan masing-masing, maka maido adalah urusan berjamaah.

Seperti si ibu tiri, kita kerap membanding diri dengan orang lain. Lalu dengan gelisah, kita selalu menerima jawaban yang sama: selalu ada orang yang lebih cantik, lebih sukses, dan lebih bahagia dari kita. Seandainya saja cermin ajaibnya adalah mahasiswa psikologi, maka saat si ibu tiri bertanya, “who’s the fairest of them all?” mungkin ia akan menjawab, “not thou, O Queen. But that doesn’t matter. Thou do not haven to be the fairest of all.” dan tentu saja kisah Snow White akan menjadi berbeda.

Penulis
Rizqi Nurhuda Ramadhani Ali

Rizqi Nurhuda Ramadhani Ali

Ilustrator Sediksi
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp