Bikin Konten Collabs Kok Berantem, Nggak Sekalian Kolaps Beneran?

Bikin Konten Collabs Kok Berantem, Nggak Sekalian Kolaps Beneran?

Duel tinju
Ilustrasi oleh Ahmad Yani Ali

Meski rindu sama ulah konyol para seleb, namun di sisi lain juga nggumun. Mereka ini kalau mau collabs dengan konten berantem, kok tanggung amat. Mbok ya, kolaps beneran sana!

Sembari menunggu panggilan kerja dan membantu orang tua di rumah, saya merasa bosan dengan isu seleb di media sosial yang isinya kalo nggak perselingkuhan, ya perceraian. Kadang saya rindu dengan kelakuan konyol seleb negeri ini yang bisa menjadi hiburan selingan rutinitas sehari-hari.

Seleb Indonesia memang demen banget jadi hiburan. Sayangnya, hiburannya tak melulu dalam pengertian positif. Beberapa kali malah bikin ulah, misalnya berantem.

Topik terkait berantemnya para seleb tanah air ini rasanya agak gimana gitu. Mereka barangkali berpikir kalau berantem itu keren kali. Dikira berantem bisa bikin masalah selesai gitu?

Baru-baru ini, Jefri Nichol juga dapet tantangan berantem dari TikTokers. Lagi-lagi berantem. Duh, bang jago!

Ajakannya memang berantem sekalian bikin konten. Dengan kontrak pula! Tantangan itu dijawab Jefri Nichol buat berantem beneran, tanpa konten-kontenan. Lha ini juga aneh karena kan selain dapat kepuasan mukulin lawan, dapat duit juga.

Daftar seleb yang berantem pun juga lumayan panjang. Contohnya: Jefri Nichol vs Haters, Vicky Prasetyo vs Azka Corbusier, Farhat Abbas vs Al, Vicky Prasetyo vs Aldi Taher, Nikita Mirzani vs Dinar Candy dan masih banyak lagi tantangan-tantangan adu tinju yang belum atau gagal terlaksana.

Meski berantemnya kadang-kadang bukan berantem yang beneran, tapi kok ya ngontennya gitu amat sih? Sok asik!

Meski rindu sama ulah konyol para seleb, namun di sisi lain saya juga nggumun. Mereka ini kalau mau collabs dengan konten berantem, kok tanggung amat. Mbok ya, kolaps beneran sana!

Bikin konten kok konten berantem

Satu kata buat mereka semua: WHY? Kenapa harus adu tinju? Kenapa nggak adu yang lain saja, misalnya adu cerdas cermat fisika atau matematika?

Dengan begitu, akan ketahuan siapa yang punya logika jongkok dan siapa yang layak bangga dengan isi otaknya.

Lagian adu tinju itu nggak jelas. Apalagi untuk menyelesaikan polemik yang nggak ada kaitannya dengan fisik.

Memangnya habis adu tinju kita bisa tahu siapa yang benar dan salah? Misalnya, seperti Jefri Nichol vs Hatersnya yang sedang beradu tinju dan ternyata pemenang dari adu tinju tersebut adalah si haters

Apakah kita harus membenarkan perbuatan haters tersebut karena dia menang adu tinju?

Selain nggak nyambung sama problemnya, adu tinju juga nanggung.

Sebagai orang yang suka menonton kekonyolan tokoh publik, saya menginginkan tontonan yang lebih seru. Memang ketimbang berita perceraian dan perselingkuhan, tinju lebih asyik. Tapi masih bisa di-level up lagi tuh. Tinju itu kan masih pake sarung tangan dan ada wasitnya, ya. Masih cemen dan kurang barbar.

Opsi selain berantem

Duel Carok

Nah, sebagai orang Pasuruan yang merupakan kombinasi maut Madura swasta dan Pantura, saya menawarkan carok sebagai pengganti adu tinju. Saling nantangin buat gelut di atas ring itu kan niatnya mempertaruhkan pride buat tahu mana yang lebih jantan, ya kan? Kalo emang niatnya mau adu jantan ya sekalian aja carok.

Jika dibandingkan dengan solusi yang satu ini, adu tinju sangatlah cemen dan tidak solutif untuk menyelesaikan permasalahan secara cepat.

Kembali lagi kita ambil contoh kasus Jefri Nichol vs Haters, apabila Jefri Nichol yang menang dalam adu carok maka tidak akan ada lagi orang yang berani menghina dan menghujatnya karena takut (ditantang carok). Apabila haters yang menang, maka si haters akan merasa puas dan berhenti untuk menghujat Jefri Nichol karena ya memang sudah pergi ke alam lain.

Olahraga Ekstrim

Belum puas dengan solusi di atas? Tenang, saya masih punya beberapa solusi lain yang dapat menggantikan duel tinju. Jika kalian semua berpikir bahwa olahraga ekstrim adalah balap motor, arung jeram, panjat tebing dan lain-lain, solusi saya tidak sebanal itu.

Bagaimana kalau misalnya mengadakan lomba berenang melintasi Selat Bali. Caranya mudah, hanya perlu berenang dari titik A ke titik B melintasi Selat Bali dengan rintangan yang lebih proper yang disiapkan oleh Tuhan berupa gelombang dan arus air laut.

Eitss jangan khawatir. Saya pikir lomba ini sangat-sangat adil bagi keduanya. Bagi yang menang maka dia terbebas dari permasalahannya dan bagi yang kalah akan masuk surga karena mati tenggelam. Mudah bukan?

Adu kepintaran

Solusi yang satu ini akan bisa menjadi indikator kecerdasan otak dan kekuatan mental anda. Jika anda membayangkan tentang lomba matematika atau lomba nge-roasting pemerintah, anda semua lemah. Solusinya lebih dari itu.

Tepatnya adalah adu cepat menemukan pelaku pembunuhan Alm. Munir. Bayangin, 19 tahun kasus ini mengendap di tangan pemerintah dan aparat penegak hukum. Siapa tahu mereka butuh bantuan orang lain untuk menyelesaikannya tapi enggan untuk meminta tolong.

Apa salahnya membantu, tinggal cari bukti, lakukan pembuktian dan temukan pelakunya. Bagi yang menemukan pertama kali akan sangat dipertuan agungkan di Indonesia dan dunia dengan resiko yang menantang. Paling-paling hilang diculik.

Tontonan bermutu

Itu beberapa opsi menggantikan duel tinju para seleb. Selain tak bermutu, konten duel tinju atau berantem-berantem lainnya itu nanggung banget.

Baiklah, saya tidak ingin ndakik-ndakik soal kebutuhan kita saat ini adalah konten bermutu. Toh, konten bermutu juga sudah banyak, meski nggak serame konten tak bermutu.

Sebetulnya, mereka bikin konten duel itu karena emang demen duel atau cuma mengikuti selera pasar?

Apapun alasannya, muaranya satu: kenapa kita memberi panggung untuk seleb dengan konten tak bermutu?

Editor: Rifky Pramadani J. W.
Penulis

Nuril Zainal Fanani

Tukang foto dengan gaji murah meriah. Hobi naik gunung sekaligus jalan-jalan.
Topik

Cari Opini

Opini Terbaru
Artikel Pilihan

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-opini-retargeting-pixel