Jika Saya Menjadi Seorang Pustakawan

Jika Saya Menjadi Seorang Pustakawan

Jika Saya menjadi Seorang Pustakawan

Bahkan ketika Borges buta pun, dia membayar orang untuk membacakan buku untuknya.

Beberapa tahun lalu saya sempat berpikiran, jika sekiranya saya berkesempatan untuk kuliah di luar negeri, saya akan kerja paruh waktu di sebuah toko buku. Bukan toko buku milik korporasi besar seperti Gramedia atau Togamas, toko buku kecil saja. Seperti Shakespeare and Company di Paris, atau yang lebih kecil dari itu. Pokoknya bukan milik korporasi dengan toko yang ada di mana-mana.

Saya pikir jika saya berkesempatan studi di Paris, saya pasti akan melamar kerja paruh waktu di sana. Rasanya pasti menyenangkan. Saya membayangkan pengunjung Shakespeare and Company adalah the next F. Scott Fitzgerald, Thomas Mann, José Saramago, Le Clézio, dan  James Joyce.

Sembari melayani mereka, saya bisa ngobrol-ngobrol dengan calon-calon penulis besar itu, visi mereka tentang buku, buku-buku yang akan mereka tulis, dan mungkin diselingi dengan obrolan tentang mengapa Juventus FC adalah klub sepakbola yang begitu menjengkelkan.

Saya tertarik untuk kerja paruh waktu di toko buku karena saya begitu terobsesi mengoleksi buku. Tapi belakangan minat untuk mengoleksi buku menurun drastis. Salah satu alasannya karena penulis idola saya, Jorge Luis Borges (yang setiap malam jum’at saya kirimkan Al-Fatihah), ternyata bukan seorang kolektor buku, yang berarti jarang membeli buku.

Baca Juga: Toko Buku Terbesar itu Melanggengkan Logika Mistika, Datuk!

Setahu saya, sastrawan yang paling banyak membaca buku adalah Borges. Bahkan ketika dia buta pun, dia membayar orang untuk membacakan buku untuknya. Bolehlah saya katakan kalau Borges ini adalah kutunya kutu buku.

Kalau jarang membeli buku, lalu di mana dia membaca? Di mana lagi kalau bukan di perpustakaan. Dia seorang pustakawan dan pernah menjabat sebagai  kepala perpustakaan nasional Argentina. Maka minat untuk kerja di toko buku pun berganti dengan minat untuk menjadi pustakawan.

Terus terang saya bukan orang yang sering ke perpustakaan. Buku-buku yang ingin saya baca bisa dengan mudah saya dapatkan tanpa harus ke perpustakaan. Selama studi S2 beberapa tahun lalu, saya baru empat kali ke perpustakaan. Saya tidak punya alasan untuk sering ke sana.

Buku-buku yang saya perlukan sebagai bahan bacaan dan referensi membuat makalah bisa dengan mudah saya dapatkan di Libgen. Ini cara ilegal tentu saja. Tapi koleksi Libgen jauh lebih lengkap dan terkini ketimbang koleksi di perpustakaan mana pun di Indonesia.

Untuk mengakses jurnal dan hasil penelitian seperti tesis dan disertasi, hampir semua kampus besar Indonesia sudah menyediakan akses gratis tanpa harus berkunjung ke perpustakaan. Saya baru ke perpustakaan jika membutuhkan literatur berbahasa Indonesia, sebab Libgen tidak menyediakannya.

Di antara semua perpustakaan yang pernah saya datangi, perpustakaan Universitas Brawijaya (UB) lah yang paling sering saya kunjungi. Perpustakaan ini menurut saya bagus, koleksinya lumayan lengkap. Sayangnya pengunjungnya jarang yang membaca buku di sana. Kebanyakan hanya internetan di gazebo yang berada di sekeliling perpustakaan. Mereka seperti saya, tidak punya alasan khusus untuk masuk dan membaca buku di sana. Rasanya sayang jika koleksi yang melimpah ini jarang dibaca.

Jika sekiranya saya adalah pustakawan di perpustakaan UB, ada beberapa hal yang akan saya lakukan untuk menarik pengunjung datang.

Pertama, membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat umum untuk datang dan meminjam buku. Saya pikir tidak rumit membuat sistem peminjaman buku bagi masyarakat umum. Akses ini bisa lah kita sebut bagian dari pengabdian untuk masyarakat.

Kedua, menyediakan tempat gratis untuk diskusi buku (termasuk peluncuruan buku), pemutaran dan diskusi film, atau peluncuran album musisi lokal. Tentu saja masyarakat umum dapat menggunakan fasilitas ini.

Khusus untuk diskusi buku, sekali dalam seminggu tim pustakawan memilih satu buku koleksi perpustakaan untuk dibedah. Yang membedah tidak harus dosen, mahasiswa pun boleh jadi pembedahnya. Asalkan dia sudah membaca buku itu. Untuk diskusi film pun begitu, seminggu sekali kita adakan (harinya bebas asal berbeda dengan hari bedah buku), dan siapa saja bisa menjadi narasumbernya.

Ketiga, memasang kutipan mengenai perpustakaan di dinding depan perpustakaan UB.

Ada dua kutipan yang sangat saya suka. Pertama, dari Jorge Luis Borges. “I have always imagined that paradise will be a kind of library.” Kedua dari Michael Embry, “I don’t have to look far to find treasures. I discover them every time I visit a library.” Intinya hanya sekedar mengingatkan, kalau perpustakaan itu adalah surga dan tempat harta karun berada.

Keempat, dan ini yang paling penting, pustakawan wajib tahu tentang isi buku. Dihampir semua perpustakaan negara yang saya datangi, termasuk milik universitas negeri, kerja pustakawannya hanya berhubungan dengan masalah administrasi. Alangkah menyenangkannya kalau pustakawannya juga mengerti dengan hal-hal seputar buku.

Jika ada seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi yang sedang menulis skripsi tentang “ngerasani dalam masyarakat Jawa” misalnya, saya bisa merekomendasikan mahasiswa itu untuk membaca Communication Theory: The Asian Perspective yang disunting Wimal Dissanayake.

Saya akan memberikan semacam resensi lisan tentang isi buku itu, kalau buku itu mencoba untuk mengkritik teori komunikasi Amerika yang dianggap tidak begitu kompatibel dalam menjelaskan perilaku berkomunikasi masyarakat Asia.

Jika ada mahasiswa Ilmu Sastra yang sedang kebingungan dalam membahas karya-karya Franz Kafka, saya akan merekomendasikan mahasiswa tadi membaca The Art of the Novel nya Milan Kundera, atau Illuminations nya Walter Benjamin, serta memberikan sedikit pengantar mengenai perbedaan perspektif dua orang pemikir itu dalam menilai karya-karya Franz Kafka.

Tentu saja mustahil bagi saya untuk tahu semua hal tentang buku. Saya bukan jenis manusia ensiklopedi berjalan, dan tidak tertarik menjadi manusia seperti itu. Lagipula, minat saya juga sangat terbatas pada topik-topik tertentu saja, seperti komunikasi perspektif Asia, budaya pop, dan karya fiksi. Untuk topik-topik lain, katakanlah hukum agraria atau ekonomi manajemen, ada pustakawan lain yang menguasai topik itu. Dengan demikian, kerja pustakawan dalam menjelaskan isi buku adalah kerja tim, bukan kerja perorangan.

Kelima, ada yang mau memberikan saran tambahan mungkin?

Penulis
foto diri Abdul Hair

Abdul Hair

Pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya.
Opini Terkait
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp