5 Lagu Dangdut Asep Irama, Bapak Melankoli Indonesia pada Zamannya

5 Lagu Dangdut Asep Irama, Bapak Melankoli Indonesia pada Zamannya

Lagu Asep Irama Raja Dangdut Melankoli Min

Dengan suaranya berat-berat-pasrah, pasti anda ingin segera mengingat Tuhan, segera mengambil air wudhu, atau setidaknya mengucap istighfar.

Sebelum alm. Didi Kempot terkenal dengan julukan Bapak Patah Hati Nusantara, ada suatu masa di mana hadir serombongan penyanyi dangdut pria yang mengusung tema patah hati dengan sangat sungguh-sungguh. Oleh karena kesungguhannya, sampai-sampai tema ini terlalu sederhana disebut sebagai lagu patah hati atau melankolis semata. Meminjam istilah Remy Sylado, saya lebih senang menyebutnya dengan lagu bertema Cengeng, Gembeng, Sengsara dan Nelangsa atau CGSN.

Sebut saja Mansyur S, Meggy Z, Fazal Dath, Leo Waldy, Imam S. Arifin, Hamdan ATT, dan Asep Irama. Mereka menghadirkan musik dangdut yang agak lebih sedikit modern. Perpaduan unusr pop dan elektronik tidak terdengar sangat melayu seperti apa yang dilakukan oleh Rhoma Irama dalam formula musiknya.

Meggy Z yang terkenal dengan lagu patah hati berjudul ‘Anggur Merah’, ‘Aku Orang Tak Punya’, ‘Benang Biru’, dan ‘Jatuh Bangun’, memiliki kekuatan dalam lirik dan permainan bunyi kata-kata syairnya. Seperti dalam lagu ‘Anggur Merah’, di mana dia mengulang kata “Teganya” hingga menghadirkan unsur humor di sana.

Leo Waldy, menulis lagu C.G.S.N yang kengeriannya jauh melampaui “Lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati ini” milik Meggy Z. Dalam lagu berjudul ‘Pasrah’, Leo menuliskan syair yang berbunyi, “Lebih baik kau bunuh aku dengan pedangmu, asal jangan kau bunuh aku dengan cintamu. Lebih baik aku mati di tangamu, daripada aku mati bunuh diri”.

Hamdan ATT mengolah isu kemiskinan sebagai seorang lelaki dalam lagu berjudul ‘Lelaki Termiskin di Dunia’. Hal ini patut dicurigai sebagai cikal-bakal pengolahan tema lelaki miskin dan gagal bercinta seperti yang kini dapat kita temui dalam syair-syair NDX-AKA. Karya-karya NDX-AKA banyak mengkontekstualisasikan konsep ini ini dengan simbol-simbol seperti “Jarene ra Ninja ra oleh dicinta” (kalau tidak bermotor ninnja, tidak bisa dicintai).

Di samping nama-nama penyanyi dangdut pria yang telah disebutkan, Asep Irama juga salah satu pelaku industri musik yang menarik perhatian. Karakter vokal dan persona yang sangat kuat, bahkan membuat sang raja dangdut terkesan. Sehingga, kemudian dia memberi restu kepada Asep untuk menyematkan “Irama” sebagai nama panggungnya. Maka jadilah Asep Irama.

Asep Irama acap kali dijuluki Stevie Wonder-nya dangdut Indonesia. Pada setiap penampilan panggungnya, Asep selalu mengenakan kacamata hitam lantaran dirinya adalah seorang tunanetra. Ditambah dengan penjiwaannya dalam menyanyikan lagu-lagu CGSN sangat menyentuh. Karena itu saya kira, lagu-lagu yang dilantunkan oleh Asep Irama sudah cocok menempati puncak lagu bertema CGSN. Lima lagu di bawah ini adalah buktinya.

Baca Juga: 3 Film Penting Soal Kekerasan Seksual Perlu Ditonton Birokrat UGM Segera

1. Aku di Barat Engkau di Timur

Lagu ini ditulis oleh Fazal Dath. Sebagai penyanyi dangdut, kemunculan Fazal Dath memang spesial, namun sayangnya tidak terlalu berkesan. Lantas ketika dia menuliskan lagu untuk Asep, hasilnya luar biasa.

Simak saja liriknya. Sejak awal lagu kita sudah disambut dengan pertanyaan, “Haruskah diriku membuat sungai dari air mata, sungai dari air mata, sungai dari air mata”. Kalimat dari air mata yang diulang sampai tiga kali memiliki unsur CGSN dalam yang sangat kuat dan tidak tertandingi.

Menangis hingga air matanya berubah menjadi sungai adalah tingkat tertinggi dari kerinduan. Bukti ke-cengenggembengsengsaranelangsa-an Asep Irama, benar-benar tidak dapat diremehkan.

Bayangkan anda berada di posisi sebagai orang diberi pertanyaan seperti itu oleh Asep Irama. Dengan suaranya yang berat-berat-pasrah, pasti anda ingin segera mengingat Tuhan, segera mengambil air wudhu, atau setidaknya mengucap istighfar.

Asep Irama - Lagu Dangdut Asep Irama

2. Aku Dilahirkan Untuk Siapa?

Biarpun lagu-lagu Asep Irama lekat dengan kesedihan, tapi Asep selalu mengingat Tuhannya. Dialog dalam lagu ini terjadi antara Asep dengan Tuhan, dialog yang sangat intim dan personal. Tapi di satu sisi dialog ini lebih terkesan sebagai monolog, karena kita tahu Tuhan tidak mudah diajak bercakap-cakap.

Kalau Dia ditanyai, jawabannya kadang mengalami delay atau dihadirkan melalui pertanda yang tidak selalu mudah dipahami. Dengan kata lain, dialog dengan Tuhan tidak semudah seperti berdialog antara manusia dengan manusia, atau antara Muhammad Isa Dawud dengan Jin Muslim.

Dan yang lebih menakjubkan lagi, ada pertanyaan-pertanyaan eksistensialis dalam lirik lagu ini, seperti “Tuhan kini ‘ku bertanya/sebenarnya aku siapa/Tuhan coba tolong diriku/yang sebenarnya untuk siapa/tunjukan coba tunjukan/aku dilahirkan untuk siapa”.

3. Kembalilah Sayang...

Jika dibaca sekilas kita akan sulit memahami sebenarnya lagu ini sedang bercerita tentang kejadian apa. Tapi setiap lagu Asep Irama yang saya hadirkan di sini mempunyai video musik yang tak kalah jempolan. Dengan melihat video musik lagu ini kita akan sedikit paham, sedikit saja, tentang apa yang sebenarnya sedang diratapi oleh Asep Irama dalam lagu ini.

Bayangkan betapa sulitnya berada dalam kondisi berpisah dengan kekasih yang tidak ada kabar beritanya, apalagi Whatsapp atau sosial media belum di zaman itu. Lagu ‘Kembalilah Sayang’ membuat lagu ‘Alamat Palsu’ yang dipopulerkan Ayu Tingting tidak ada seujung kukunya.

Ditambah dengan lirik “Namamu kan menjadi ucapan terakhir ku, disaat nyawaku ini akan terlepas dari tubuhku”. Hal ini melampaui tradisi orang muslim yang kebanyakan menyarankan untuk bersyahadat kepada Tuhannya saat nyawanya di ujung badan. Ataukah ini yang dinamakan syahadat cinta?

4. Hentikan Tangismu

Caca Handika termasuk nama yang populer dalam jajaran penyanyi dangdut pria C.G.S.N. Kemahirannya menulis lagu dibuktikan dengan keterampilannya mengolah tema yang belum pernah diolah penyanyi lain. Yakni cinta dan klenik dalam lagu ‘Mandi Kembang’. Dalam lagu ini Caca Handika mengolah tema cinta rumah tangga orang tak punya.

Berbeda dengan lagu ‘Gelandangan’ milik Rhoma Irama yang belum punya anak istri yang harus ditanggung, dalam lagu ini Asep mengeluarkan suara sebagai suami dari seorang tunawisma yang harus berjuang menghidupi anak-istrinya, dan membuat mereka terus bersabar menghadapi persoalan hidup.

Tema dalam lagu ini sepadan dengan tema yang dihadirkan Ebiet G. Ade dalam lagu berjudul ‘Nasihat Pengemis Untuk Istri’.

5. Kembalikan Dia

Lagu ini adalah puncak dari puncak lagu bertema C.G.S.N. Ini adalah lagu patah hati terpatah sepanjang masa bagi saya. Bukan ‘The End’ milik The Doors, bukan ‘Black’ milik Pearl Jam, tapi ‘Kembalikan Dia’.

Lagi-lagi, ditulis oleh Fazal Dath syairnya bikin keblinger, bikin ingin cuci muka tanpa air. Simak, “Kalau memang dia telah mati/Tunjukkan padaku di mana kuburnya/Kalau memang dia bukan milikku/Tunjukkan padaku siapa suaminya”. Sedih. “Walaupun sedetik saja/Ijinkanlah aku untuk membelainya/Aku rela melepaskan nyawaku ini”.

Betapa nelangsa dan menyayatnya lirik dalam lagu ini, bukan?

Lagu cinta yang dinyanyikan oleh Asep Irama, meskipun sangat sedih dan patah, namun tidak membuatnya lupa menyebut nama Tuhan. Jika saya amati, hal ini merupakan sebuah pernyataan bahwa persoalan yang dialami oleh Asep dalam lagunya telah melampaui batas yang bisa diselesaikan oleh manusia. Untuk itulah satu-satunya jalan ialah berserah pada Yang Mahakuasa.

Boleh jadi, lagu-lagu yang dinyanyikan Asep bisa memberi jawaban atas pertanyaan Remy Sylado dalam artikelnya yang berjudul ‘Satu Kebebalan Sang Mengapa’, yang dimuat di Jurnal Prisma, Juni 1977.

Remy mengkritik bagaimana penggunaan kata “mengapa” sebagai suatu rumus utama ratapan terus diulang dalam lirik-lirik lagu pop, kemudian mengakhiri lagu tersebut tanpa suatu pengharapan atau semangat dalam hidup.

Saya kemudian mencurigai bagaimana Remy membandingkan lagu sedih (patah hati) dengan Kitab Ratapan dalam perjanjian lama. Kitab tersebut berisikan lima syair yang meratapi jatuhnya Yerusalem ke tangan tentara Babel pada tahun 586 S.M, dan kehancuran serta masa pembuangan sesudah itu.

Dalam bahasa Ibrani disebut Eikhah, yang artinya adalah “Kenapa,” yang merupakan rumus dalam memulai nyanyian ratapan. Dalam Septuaginta, yang berbahasa Yunani, hal ini disebut threnoi (dari bahasa Ibrani qinoth, yang berarti “ratapan”). Walaupun kitab ini pada umumnya bernada sedih, namun di dalamnya tampak juga segi kepercayaan kepada Tuhan dan harapan akan masa depan yang cerah. Dan begitulah yang terjadi di dalam lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Asep Irama.

Kalau anda berpikir Chrisye sudah cukup melankolis bagi anda, atau Betharia Sonata yang pernah dilarang Harmoko karena lagunya dianggap cengeng, atau ada grup musik indie jaman sekarang yang mengusung aliran musik pop-nelangsa itu sudah cukup sedih, berarti anda belum mengenal Asep Irama.

Beliau adalah penyanyi lagu Cengeng-Gembeng-Sengsara-Nelangsa paling hakiki. Beliau adalah Bapak C.G.S.N Nusatara.

Penulis
Irfan R. Darajat

Irfan R. Darajat

Penulis dan peneliti, tinggal di Yogyakarta
Opini Terkait
Studio Musik: Nasibnya Kini
Opini Menjadi Jomblo Idealis Morrissey min min
opini september ceria min min optimized
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp