Sepertinya, Sal Priadi Memang Dari Planet Lain

Sepertinya, Sal Priadi Memang Dari Planet Lain

Sepertinya, Sal Priadi Memang Dari Planet Lain
Ilustrasi oleh Ahmad Yani Ali

Setelah memutar lagu ini secara utuh dan berulang-ulang, saya semakin yakin kalau Sal Priadi memang dari planet lain.

Baru-baru ini, Sal Priadi meliris album bertajuk Markers and Such Pens Flashdisks. Jujur, saya awalnya merasakan keanehan saat pertama mendengarnya.

Album berisi 15 lagu ini terasa lebih mirip album kompilasi. Seperti mix tape seseorang yang merangkum semua lagu favoritnya sepanjang masa dari berbagai musisi yang pernah ia dengarkan karyanya.

Cukup sulit menemukan benang merah yang bisa menggambarkan album ini maunya apa. Di dalamnya ada banyak genre, nuansa, dan cara berbeda dalam menampilkan sebuah karya musik.

Beberapa di antaranya bahkan terdengar sebagai hasil eksplorasi ekstrim dari seorang Sal Priadi. Tak hanya pop jazz, yang menurut saya menjadi urat nadinya. Sal juga mengemas jenis musik soul jam hingga pop rock balada yang mengajak kita kembali ke era 80/90-an.

Pengalaman mendengarkannya mengingatkan saya pada salah satu cemilan masa kecil. Di dalamnya ada ada kacang polong, jagung marning, dan kripik kedelai. Dimakan satu per satu terasa enak. Dimakan bersamaan, jauh lebih enak.

Secara urutan, album ini dibuka dengan 3 lagu yang sudah pernah dirilis beberapa tahun lalu, seperti Kita Usahakan Rumah itu, Mesra-mesraannya Kecil-kecilan Dulu, dan Sudah Lewat Pukul Dua, Makin Banyak Bicara Kita. Ya, Sal memang gemar menggunakan judul yang panjang.

Setelah sedikit bernostalgia dengan lagu-lagu lama, barulah ia mulai dengan menu pembuka, yaitu sebuah tembang yang tengah viral di mana-mana.

Lagu Dari Planet Lain memang sedang digandrungi netizen. Ia dijadikan sound untuk tiap unggahan di dunia maya. Hampir setiap kali scroll linimasa, lagu ini terputar dengan berbagai versi cerita. Fenomena ini sekaligus menjadi bukti bahwa pendengar punya interpretasi yang beragam terhadap lagunya.

Jika ditelisik lebih dalam, sebenarnya ada banyak lagu menarik di dalam album ini. Bagi kaum milenial seperti saya, ini terasa sangat menyegarkan. Ia mematahkan opini urban—yang sempat saya aminkan—bahwa seseorang berhenti mendengarkan musik saat menginjak usia 30 tahun.

Rasanya memang sulit move on dari meriahnya karya musik masa lalu yang memorable. Namun, Sal Priadi membuat saya akhirnya menolak opini itu.

Saya sebenarnya sangat bersemangat ingin membedah satu per satu isi album baru Sal ini ke dalam tulisan. Tetapi, rasanya akan makan banyak halaman.

Jika diringkas, saya khawatir malah akan terlalu dangkal. Sehingga, di sini saya akan mencoba berfokus pada lagu yang sedang hits itu saja.

Penuh Nuansa Kemeriahan

Tak bisa dipungkiri, salah satu keberhasilan seorang musisi hari ini diukur dari seberapa banyak lagunya dijadikan backsound untuk tiap unggahan di media sosial.

Meski yang didengarkan memang hanya berupa potongan dan sama sekali tidak bisa dijadikan bahan penilaian kualitas sebuah lagu secara utuh. Akan tetapi, lewat potongan-potongan itu kita akan dibawa untuk kenalan dengan berbagai karya.

Saya pun demikian. Berangkat dari seringnya potongan lagu Dari Planet Lain seliweran di mana-mana, saya jadi penasaran untuk mendengarkannya.

Awalnya, saya menduga ini akan menjadi lagu cinta biasa. Sebab, liriknya seperti bukan Sal yang biasanya. Ia menggunakan diksi “dari planet lain” untuk menggambarkan seseorang dengan karakter yang tak banyak ditemukan dalam keseharian.

Konsep seperti ini sudah terlalu basi bahkan terkesan klise. Terlebih lagi, topiknya masih perkara cinta yang bagi saya sudah tidak bernyawa lagi. Sekadar romansa remaja yang baru merasakan ketertarikan satu sama lain.

Namun, karena notasi lagunya menarik, saya dengarkanlah sampai habis. Hasilnya ternyata bikin saya cukup terkejut. Setelah bagian awal yang sedikit pelan, tempo lebih cepat tiba-tiba menghantam.

Secara garis besar, formatnya mirip dengan lagu Serta Mulia. Nuansa musiknya pun tidak banyak berubah. Masih seperti Sal Priadi yang saya kenal.

Yang berbeda adalah nuansa kemeriahan yang ditawarkan melalui instrumen yang digunakan. Saat mendengarkannya, saya merasa seperti anak kecil yang sedang jalan-jalan di sebuah karnaval, mencoba berbagai wahana, dan ditutup dengan jajan es krim.

Segala kesan riang dan ringan itu dibalut dengan topik yang sedikit berat, mengenai pasang surut hidup berpasangan.

Menjadi Puitis Tanpa Kata-kata Mahal

Mengulik karya Sal Priadi rasanya tak akan sah jika tidak membicarakan liriknya. Selain komposisi musik yang unik, lirik adalah identitasnya.

Menurut interpretasi saya, lagu ini bercerita tentang seseorang yang tak tahu apa-apa dalam sebuah hubungan percintaan. Bahkan tak bisa mendefinisikan apa itu cinta, bentuknya, dan bagaimana menunjukkannya. Bingung dan rumit sebab kadang harus ada perpisahan. Mesti meninggalkan dan ditinggalkan.

Di tengah kebingungan itu, datanglah seseorang yang mau menerima semua isi kepalanya. Memulai semuanya pelan-pelan sambil memberikan pemahaman bahwa perjalanan sebuah hubungan memang seperti itu, jadi tidak perlu buru-buru.

Karakter seperti itu tak ditemukannya selama ini. Orang yang mau ikut ribet dan jalan sama-sama menikmati setiap episode yang lebih banyak ruwetnya.

Setelah memahami hal ini, saya jadi menarik kembali kata-kata saya di awal tentang diksi “dari planet lain” sudah terlampau basi dan klise.

Lirik lagu ini menjadi tamparan bahwa puitis tak mesti menggunakan kata-kata yang “mahal”. Kata-kata nyeleneh dan umum bisa menjadi indah kalau digunakan dalam konteks yang tepat.

Membicarakan Cinta dengan Cara Berbeda

Selain notasinya yang renyah dan mudah diterima, lagu Dari Planet Lain seperti didesain agar dapat dinyanyikan oleh siapa pun. Chord-nya memang ada beberapa yang “miring”, namun vokalnya tidak terlalu atraktif.

Ada perasaan menyenangkan saat menyanyikannya. Tipikal lagu yang tidak membutuhkan teknik vokal tinggi, tapi tidak membuatnya terdengar murah juga. Lagu ini semestinya akrab di ruang karaoke dengan versi yang lebih bergaya.

Namun, lebih dari itu, lagu ini pantas menggaung di berbagai media dari segi kualitas penceritaannya. Sal berupaya membicarakan cinta dengan cara berbeda, dari sudut pandang yang jarang dijamah musisi lain.

Mayoritas lagu cinta lebih banyak menjual patah hati dan hidup bahagia dalam porsi yang berlebihan. Jika tidak galau segalau-galaunya, pasti girang segirang-girangnya. Seolah hidup itu hanya perkara romansa yang menyita waktu seumur hidup.

Lagu Dari Planet Lain hadir mengisi kekosongan di bagian tengah, mewakili orang-orang yang terjepit oleh realita bahwa hubungan yang ideal adalah hubungan yang mengalami jatuh bangun. Ia memberikan pengertian bahwa patah hati itu hal yang lumrah dan tak perlu didramatisasi.

Lagu ini juga mewakili perasaan orang-orang yang isi kepalanya semrawut dan tak menemukan kepala yang sama untuk diajak bercerita. Di sini, Sal seperti mengungkapkan bahwa segala kerumitan dan pertanyaan terkadang tak mesti dijawab saat itu juga.

Sepertinya, Kau Memang dari Planet yang Lain

Banyak yang menilai perspektif Sal Priadi ini absurd. Nadin Amizah bahkan pernah berkata, “Di atas absurd, masih ada Sal Priadi.”

Tapi, menurut saya, Sal hanya mencoba untuk tampil manusiawi. Perbedaannya hanya perihal nyali. Musisi kebanyakan lebih memilih mengikis ego dalam berkarya, sementara Sal membiarkan egonya keluar dan bergerak liar.

Mungkin hasilnya tak akan seramai yang lain. Bisa dilihat dari jumlah penonton di kanal YouTube-nya. Tak banyak yang menyentuh angka jutaan. Hanya ada satu dua yang bisa dikatakan trending.

Tapi, Sal sepertinya benar-benar mengamalkan ideologi bahwa setiap musisi punya pendengarnya masing-masing.

Tidak hanya dari segi komposisi musik, tapi lirik yang terkesan semaunya hingga video klipnya diproduksi dengan sangat matang. Meski yang ramai di kolom komentarnya adalah orang-orang yang tidak begitu mengerti apa maksud lagunya, tapi tetap menikmati juga.

Idealnya, bagi saya, karya musik yang bagus itu memberikan ruang interpretasi yang beragam. Bahkan, menikmati tanpa harus mengerti justru merupakan sebuah pencapaian.

Impresi saya begitu positif terhadap lagu Dari Planet Lain. Sebab, lagu tak melulu soal nada. Mesti ada cerita yang layak disampaikan dan orang-orang yang layak diwakilkan.

Pada akhirnya, setelah memutar lagu ini secara utuh dan berulang-ulang, saya semakin yakin kalau Sal Priadi memang dari planet lain.

Penulis

Fadhli Amir

Penggemar Coldplay yang suka menyendiri.
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-opini-retargeting-pixel