>
Liputan: Lika-Liku Circle Anak Kuliah: Susah Cari Teman Seperjuangan

Lika-Liku Circle Anak Kuliah: Susah Cari Teman Seperjuangan

mahasiswa terpinggirkan
Ilustrasi oleh Ahmad Yani Ali

Dunia mahasiswa selalu punya banyak cerita. Tak hanya yang senang-senang saja, ada pula kisah-kisah pelik yang dialami mahasiswa. Sebagian menghadapi tantangan pada nilai akademik, yang lainnya harus berjuang mendapat teman yang bisa dipercaya.

Ketiga mahasiswa yang Sediksi temui menghadapi kendala di pertemanan. Adanya ketidakcocokan gaya, perbedaan daerah, rasa skeptis, ketidakpercayaan, dan jabatan yang diemban di UKM jadi sederet alasan sulitnya dinamika berteman di perkuliahan.

Kampus tempatnya kesepian

“Selama kuliah aku bisa ngerasa kesepían itu justru pas ada di kampus, makanya kalau udah selesai urusan langsung aja cepat-cepat pulang,” kata Agung (23), mahasiswa FISIP di salah satu kampus Malang.

Usai pulang biasanya ia beristirahat atau main HP. Setelah kegiatan organisasinya selesai, ia menggunakan waktu luang dengan menghubungi teman-teman lama. Namun, tentu saja waktu untuk diri sendiri lebih banyak.

Memang ada kesulitan berbaur yang dialami Agung karena ia terbiasa dengan kultur yang lebih tenang dan kurang persaingan. Kebiasaan berada di kultur demikian membuat Agung pernah berpikir bahwa dunia perkuliahan pun akan sama suportif dan ramah. 

“Ternyata nggak. Sering juga barengan sama orang yang licik dan kok jahat, ya. Solusinya ya pada akhirnya tetap jadi diri sendiri dengan value yang kupunya, akhirnya seleksi alam itu terjadi. Teman-teman yang datang ke aku, ya, orang yang banyak kesamaan value. Butuh waktu satu semester mungkin untuk melewati fase ini,” ujarnya. 

Lingkaran-lingkaran pertemanan (circle) yang ada kadang menjadi gangguang tersendiri pula. Ditemui Agung mereka yang punya circle tak mau sekelompok kalau bukan dengan circle-nya, bahkan di tugas kuliah yang sudah ditentukan dosen.

Selama ini, Agung menjalani kehidupan kuliah yang membutuhkan kerja kelompok dengan prinsip ‘sedapatnya’. Kembali ke realita bahwa banyak mahasiswa yang telah berkelompok dan tak mau dipisahkan. 

“Aku asal dapat aja sudah okay. Toh, biasanya yang manage tugasnya juga aku. Tapi, ya, pernah juga sekelompok sama orang yang kerjanya ngawur banget, ada pula yang sok iye. Apa yang kukerjakan salah mulu di mata mereka, padahal dosennya aja dah bilang kerjaanku benar. Bukan salah mulu, sih, tapi lebih dianggap aku ini nggak ngerti apa-apa,” terangnya.

Pernah juga ia mendapat pengucilan. Seolah-olah kehadirannya tak ada. Biasanya terjadi di kelasnya yang lintas angkatan atau di kelas yang tak ada kenalan akrab.

“Kadang aku udah ajak ngobrol duluan tapi dianya nggak tanggap. Momen seperti itu sedikit terjadi. Pas awal-awal kuliah atau sebenarnya masih terjadi sampai lama cuma mungkin aku yang udah makin kebal, ya,” kata Agung.

Aktif di lingkup universitas karena kecewa pada sistem prodi

Bukan hanya kelakukan sesama mahasiswa yang dirasakannya tidak bijaksana. Agung bercerita, seorang dosen pun pernah bertindak mengomentari pakaiannya dan berakhir dengan tawa satu kelas. 

Suatu hari ia datang ke kelas dengan buru-buru, jaket pudar yang biasa dipakai untuk panas-panasan tak sempat dilepas agar tak terlambat. Si dosen malah salah fokus dan berkomentar kurang enak.

“Sungguh pandai beliau melukai hati muridnya. Mungkin enggak sadar sudah ngomong seenaknya. Orang-orang mungkin juga udah lupa, meski aku masih ingat. Kebetulan waktu itu di kelas lintas angkatan,” jelasnya.

Selama kuliah, Agung menjalankan banyak kegiatan organisasi. Kesepiannya teralihkan dengan kewajiban menuntaskan program-program kerja.

Lingkup universitas adalah pilihan Agung kala sistem fakultas mengecewakannya. Di awal kuliah, ia ingin gabung salah satu unit kegiatan mahasiswa di fakultas tetapi kecewa dengan cara pemilihan kandidat perwakilan yang tidak adil dari organisasi tersebut.

“Berkali-kali aku pengin lah ya berkontribusi untuk fakultas, tapi tiap ada kompetisi untuk nyari delegasi ke universitas, entah kok nggak transparan. Tiba-tiba udah keluar nama delegasinya. Waktu itu juga sistem pelayanan kemahasiswaan bisa dibilang sangat buruk di jurusan. Petugasnya galak, badmood, nggak profesional. Akhirnya jadi malas untuk aktif di lingkungan yang harusnya jadi home based, ya,” pungkasnya.

Ia menambahkan, berada di lingkup univeritas juga tak lantas bikin organisasi pasti bersih. Permasalahan yang ada tak jauh beda tetapi organisasi universitas cakupannya lebih luas dan orang-orang yang ditemuinya lebih beragam.

Sulitnya cari kelompok buat tugas

Afi (20), mahasiswa Fisip di Malang, tak pernah membayangkan bahwa dirinya salah satu mahasiswa yang bakal terpinggirkan. Bayangannya dunia perkuliahan adalah tempat belajar bersama dan membentuk pertemanan seluas-luasnya.

“Ternyata tidak semudah yang dibayangkan, perkuliahan itu benar-benar memperlihatkan sifat manusia yang sebenarnya. Persaingannya sangat egois, seakan kalau saya tidak menguntungkan mereka maka saya akan dibuang tanpa kasihan,” katanya.

Perbedaan daerah asal rupanya jadi alasan lain, mahasiswa membuat lingkaran pertemanan. Afi yang berasal dari Jawa tidak bisa akrab dengan mahasiswa yang datang dari Jabodetabek.

Afi seringkali menghadapi kesulitan mencari teman sekelompok apalagi jika dosen minta membentuk grup sendiri. Untung kalau masih ada mahasiswa yang ia kenal di kelompok yang kosong. Namun, tak jarang apes kebagian kelompok buangan karena Afi tak mengenal seorang pun.

Bukan hal aneh di jurusannya kalau tak semua mahasiswa saling kenal dan bersikap selayaknya orang asing meski satu kelas.

“Itu juga harus saya yang duluan. Kadang terpaksa saya masuk di kelompok buangan. Dapat anggota yang nggak kerja atau kating yang ilang-ilangan itu udah biasa,” ujar Afi.

Kadang pula untuk mendapat nilai A ia harus kerja keras sebagai satu-satunya orang yang bekerja di kelompok. Begitu pun dalam menjalani dinamika lain di perkuliahan, misalnya saat mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) yang rebutan agar bisa masuk kelas yang direncanakan.

“Saya harus bisa KRS duluan buat dapatin kelas yang saya mau sblum penuh karna circle-circle itu. Kelebihannya mungkin jadi nggak harus nunggu orang lain buat ambil kelas bareng yang sama, tapi, ya, kekurangannya itu tadi kadang ada kelas yang saya nggak kenal anggotanya,” terang Afi.

Berjuang sendirian tanpa teman yang suportif

Afi menyadari keterbatasannya untuk keluar sampai larut malam menjadi satu alasan teman-temannya tak lagi mengajaknya. Ia dianggap ‘kurang asik’ dan perlahan hubungan pertemanan semakin renggang.

“Ada juga yang karena memang saya tidak satu organisasi dan tidak berteman dari semester 1 sama mereka jadinya tidak seberapa dekat. Juga ada yang karena saya capek sama pertemanannya yang toksik, akhirnya saya yang menjauh. Banyak lah alasannya dan rata-rata itu karena saya tidak bisa mengimbangi,” jelasnya.

Hanya ada satu orang di jurusannya tempat Afi berbagi cerita mengenai perkuliahan. Lumayan untuk sekadar ghibah. Itupun sudah punya lingkaran pertemanan lain yang lebih intens main bersama. 

Meski tak ada dorongan semangat yang cukup suportif dari teman-teman di jurusan, Afi merasa UKT yang sudah dibayarkan sudah cukup jadi pendorong. Ia merasa sayang harus menyerah di tengah jalan hanya karena tak punya teman.

Dianggap berpotensi jadi serigala berbulu domba

Eka (21) mahasiswa dari salah satu kampus di Malang, tidak tenang belakangan karena jabatan yang diembannya di salah satu unit kegiatan mahasiswa. Ia dianggap berpotensi jadi musuh dalam selimut karena ketertarikannya pada sebuah isu pelecehan seksual di jurusan.

Rupanya menjadi kepala bagian yang menyeleksi isu untuk dijadikan sebuah berita tak semudah yang dibayangkan, menurut Eka. Ia menghadapi intervensi dari awal periode dan merasa terus diawasi setelahnya.

“Aku merasa itu awal periode baru menjabat, baru bilang aku tertarik sama kasus ini (pelecehan seksual), intervensi masuk,” kata Eka.

‘Jaga rumah dari luar’ adalah doktrin yang kerap kali diterimanya. Eka merasa muak sebab menurutnya kasus pelecehan seksual seharusnya tidak diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Pun seharusnya tidak ditutup-tutupi untuk menjaga nama baik. Namun, apabila informasi yang dihimpun Eka diketahui publik, posisinya sangat riskan.

Pihak yang mengintervensi Eka adalah anggota himpunan, tak lain teman-teman sejurusan yang kadang bertemu di kelas. Mereka mendatangi langsung untuk meminta agar isu disimpan dalam lingkup jurusan saja. 

“Teman-teman datang padaku saat ada kebutuhan. Karena aku ada jabatan di salah satu ukm, identitas yang melekat, ya, organisasi tersebut. Orang-orang juga skeptis ke aku. Teralienasi (terpinggirkan) bukan dijauhi tapi diawasi,” katanya.

Di sisi lain ia pun tak kalah skeptisnya sebab di momen-momen lain, intervensi berbentuk titipan ‘isu’. Bukan hanya isu pelecehan seksual, isu lain yang dianggap mengotori marwah jurusan juga diminta tak dinaikkan. 

“Karena sering dapat intervensi, aku was-was berteman dengan orang sejurusan. Temanku jadinya itu-itu aja,” ujarnya.

Tak cocok jokes

Dirinya berasal dari Jabodetabek yang dikenal cukup banyak menyumbang mahasiswa. Namun, pertemanan tak lantas berjalan mulus.

“Menurutku anak jabodetabek juga banyak circle yang menyesuaikan sama vibes-vibesnya. Misalnya jabodetabek Jaksel yang lebih eksklusif, kultur yang dibawa kota banget, jadinya mereka cenderung satu circle,” terang Eka.

Di sisi lain, Eka banyak kali menemui momen merasa ‘tak diajak’ akibat jokes yang kurang cocok dengan teman-teman Jawa-nya. Apalagi ia sama sekali tak memahami bahasa Jawa, bagaimana bisa ngejokes kalau bahasa saja tak paham.

Seperti Afi, Eka pun merasa bahwa perkuliahan membawanya menemui fakta bahwa mahasiswa cenderung membuat lingkaran-lingkaran pertemanan. Masalahnya di semester 1, jurusannya menggembar-gemborkan ‘main bareng’ atau ‘satu jiwa’.

“Semester sekarang-sekarang misah-misah. Himpunan justru eksklusif,” ujarnya.

Untungnya ia masih punya dua tiga orang teman untuk berdiskusi dan berbagi keresahan. Mereka pula yang kerap memberi informasi kepada Eka.

“Mungkin ada beberapa hal yang baru (ditemui di perkuliahan). Hal baru yang ditemui itu dengan teman-teman beda kultur, orang Jawa satu circle orang Jawa. Kalau hal yang udah lama tahu, orang jabodetabek cenderung eksklusif, nggak kaget lagi dengan pertemanan keras. Dua tiga orang aja cukup, it works,” jelasnya.

Sejauh dua tahun kuliah, Eka pun menemukan ada orang-orang yang dipinggirkan dengan berbagai alasan. Ada yang dijauhi karena permasalahan di organisasi, ada yang dijauhi karena malas-malasan, dan ada pula yang seperti dirinya yang dianggap patut diawasi demi menjaga nama baik jurusan dan solidaritasnya.

Penulis

Sara Salim

Melanjutkan hidup dari satu topik ke topik lain.
Baca Opini
Pinjol ini Membunuhku: Cerita dari ITB
Tren Mahasiswa Akhir Pergi Memancing
Budaya Toksik Pasca Sidang Tugas Akhir
Topik