Kisah Para Wanita North Platte Selama Perang Dunia Kedua: Memberi Makan Enam Juta Tentara

Kisah Para Wanita North Platte Selama Perang Dunia Kedua: Memberi Makan Enam Juta Tentara

Kisah Para Wanita North Platte

DAFTAR ISI

Sediksi.com – Sekelompok wanita di kota kecil North Platte, Nebraska, Amerika Serikat, mendengar bahwa sebuah kereta api yang membawa tentara asal Nebraska akan berhenti di stasiun mereka tepatnya pada tanggal 17 Desember 1941.

Ini kisah para wanita North Platte selama Perang Dunia kedua. Mereka pun berinisiatif untuk menyambut para tentara dengan keranjang makanan. Namun, ketika kereta api tiba, mereka terkejut mengetahui bahwa para tentara bukanlah asal Nebraska, melainkan asal Kansas.

Walaupun tidak seperti apa yang mereka kira sebelumnya, mereka tetap memberikan hadiah-hadiah mereka kepada para tentara dengan senyum dan ucapan terima kasih.

Kejadian inilah yang menjadi awal dari sebuah gerakan yang luar biasa, di mana selama lebih dari empat tahun, para wanita di North Platte itu dan sekitarnya mengoperasikan sebuah kantin sukarela yang menyediakan makanan, minuman, dan hiburan gratis bagi lebih dari enam juta tentara yang melintasi stasiun mereka.

Kantin ini bukanlah sebuah bangunan, melainkan sebuah ruang tunggu yang diubah menjadi dapur dan ruang tamu. Setiap hari, para wanita bekerja bergiliran untuk memasak, membersihkan, dan melayani para tentara yang datang dengan kereta api.

Mereka juga mengumpulkan sumbangan dari masyarakat untuk membeli bahan-bahan makanan dan barang-barang lainnya.

Bagaimana lengkapnya dari kisah para wanita di kantin North Platte selama Perang Dunia kedua memberi makan enam juta tentara? Simak ulasannya di bawah ini.

Kisah Para Wanita North Platte Selama Perang Dunia Kedua

Kisah Para Wanita North Platte Selama Perang Dunia Kedua: Memberi Makan Enam Juta Tentara - Kantin North Platte jpg
Image from Smithsonianmag

Pada tanggal 25 Desember, Kantin North Platte yang baru dibentuk bertemu dengan kereta pertamanya dengan keranjang makanan yang disiapkan. Inilah awal kisah para wanita North Platte selama Perang Dunia kedua.

Seminggu sebelumnya melihat kejadian para wanita membagikan makananya kepada tentara Kansas tersebut, Rae Wilson seorang perempuan yang pada waktu itu berusia 26 tahun tersentuh oleh kegembiraan dan keheranan para prajurit yang mendorongnya untuk menulis surat kepada surat kabar local, Buletin Harian North Platte.

Isi surat kabar yang ia kirimkan tersebut adalah mengusulkan tentang pendirian kantin atau kafetaria untuk memenuhi setiap kereta pasukan yang melewati stasiun.

Jika dihitung antara hari Natal tahun 1941, pembukaan kantin pertama hingga 1 April 1946, pengoperasian kantin terakhir, relawan kantin bertemu sebanyak 24 kereta yang membawa 3.000 hingga 5.000 personel militer setiap harinya.

Secara total, mereka melayani sekitar enam juta pria dan wanita. Upaya penting itu melibatkan 55.000 sukarelawan, kebanyakan perempuan dan dari 125 kota yang berbeda, beberapa sejauh 320-an km jauhnya.

Bahkan penerapan penjatahan masa perang tidak mengganggu operasi kantin. Penyelenggara hanya menemukan cara baru untuk mewujudkan sesuatu, mulai dari menyumbangkan perangko ransum ekstra dan surplus hasil pertanian hingga mengumpulkan ransum gas sehingga sukarelawan dapat melakukan perjalanan ke North Platte dari kota-kota yang jauh.

Penjatahan merupakan system yang melibatkan penetapan Batasan pembelian barang-barang permintaan tinggi tertentu. Waktu itu pemerintah AS mengeluarkan sejumlah “poin” untuk setiap orang, bahkan bayi, yang harus diserahkan bersama dengan uang untuk membeli barang-barang terlarang.

Pada tahun 1943 misalnya, satu pon bacon berharga 30 sen, tetapi seorang pembelanja juga harus menyerahkan tujuh poin ransum untuk membeli daging.

Poin-poin ini dating dalam bentuk perangko yang dibagikan kepada warga dalam buku-buku sepanjang perang. Kantor Administrasi Harga (OPA) bertanggung jawab atas program ini, tetapi sangat bergantung pada sukarelawan untuk membagikan buku ransum dan menjelaskan sistemnya kepada konsumen dan pedagang.

Kisah para wanita North Platte selama Perang Dunia II itu berahir pada tahun 1946, pada saat kantin ditutup, acara penggalangan dana dan sumbangan pribadi telah menyumbang hampir $ 138.000 dalam bentuk tunai.

Oiya, yang membuat kisah para wanita North Platte selama Perang Dunia II ini menjadi haru adalah fakta bahwa banyak wanita yang menjalankan kantin juga memiliki putra, saudara laki-laki, suami maupun pacar yang sedang bertempur dalam perang.

Kantin menjadi outlet emosional bagi sukarelawan dan pasukan. Sebenarnya waktu itu ada sekitar 120 kantin berbasis komunitas ada di seluruh negeri selama Perang Dunia II, namun North Platte adalah kantin terbesar dan juga menjadi salah satu upaya sukarelawan masa perang terbesar dalam bentuk apa pun.

Kata seorang jurnalis, Bob Greene, penulis dari Once Upon a Town: Miracle of the North Platte Canteen, mengatakan bahwa Industri perang North Platte bukanlah amunisi seperti pesawat terbang atau tank, namun itu meningkatkan moral, dan setiap sukarelawan tahu itu.”

Untuk menjalankan kantin tersebut adalah tanggung jawab yang sangat besar, dan upaya itu segera berdampak buruk pada Kesehatan Wilson. Dia akhirnya pindah ke California, meninggalkan wanita lokal lainnya, yakni Helen Christ, untuk mengawasi operasi selama sisa Perang Dunia II.

Mengutip dari Smitsonian Magazine, seorang penulis Bless Your Hearth: The North Platte Canteen, Charlotte Endorf, telah mewancarai banyak orang yang terlibat dalam kantin, termasuk tentara yang lewat.

“(para veteran) akan berkata, ‘Ketika saya berada dalam panasnya pertempuran, saya akan fokus pada kantin. Saya ingat wanita-wanita baik memeluk kami, dan saya fokus pada hal itu,” kenang Endorf.

Statistik kantin North Platte ini sangat mencengangkan. Pada bulan Maret 1945, kantin menyajikan rekor 40.161 kue, 30.679 telur rebus, 6.547 donat, 2.419 roti, 2.845 pon daging dan lebih dari selusin item lainnya dalam jumlah yang sama mengesankannya.

Lalu pada hari biasanya, relawan membagikan 1.080 kue, 2.000 roti, 1.000 botol susu, 100 pon ham, 80 pon daging giling, 70 ayam goreng, 720 telur rebus, 23 pon mentega, 1 pon kopi, 2 peti jeruk, 8 gantang apel, dan 36 kue ulang tahun.

Fakta uniknya, ada tradisi memberikan kue ulang tahun kepada setiap prajurit yang merayakan pada hari kunjungan mereka dimulai pada tahun 1942. Beberapa anak setempat menyerahkan kue ulang tahun mereka sendiri untuk memastikan tentara tidak pergi tanpanya.

Baca Juga
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-artikel-retargeting-pixel