Bagaimana “Zombie” Menggambarkan Kehidupan Kita yang Melelahkan

Bagaimana “Zombie” Menggambarkan Kehidupan Kita yang Melelahkan

Bagaimana "Zombie" Menggambarkan Hidup Kita yang Melelahkan

Seperti apa itu kemarin, apakah ada yang spesial? Aku mencoba mengingat, tapi tidak banyak yang terlintas dalam pikiran

Di tengah kekacauan yang timbul di tahun 2020, satu hal yang patut saya syukuri adalah Day 6 merilis lagu terbarunya berjudul Zombie dari album The Book of Us: Demon. Zombie terasa amat personal dan dekat bagi saya, My Day (sebutan untuk fans Day 6), dan pendengar lainnya.

Dalam video musik teasernya, ada adegan yang sangat berkesan. Saat seorang anak muda berumur kira-kira 20-an berangkat kerja menggunakan pakaian yang sebenarnya cukup formal, tapi terkesan berantakan. Raut wajahnya nampak sangat lelah, tatapannya kosong, dan berjalan terseok-seok.

Irama musik-nya juga terdengar seperti Pop Rock era 2000-an awal: The Blink 182, Green Day, All Time Low, Boys Like Girl, Good Charlotte, The All American Reject, dan sebagainya. Musik-musik inilah yang akrab di telinga saya ketika masih usia sekolah dasar (SD), melihat Day 6 membawa memori seperti itu lagi, saya menjadi senang dan tidak sabar.

Baca Juga: 5 Lagu Dangdut Asep Irama, Bapak Melankoli Indonesia

Sehari sebelum perilisan albumnya, JYP Entertainment (agensi yang menaungi Day 6) memberikan kabar yang menyedihkan terutama bagi My Day. Dalam rilis tersebut, JYP menyatakan bahwasannya terdapat beberapa anggota Day 6 yang memiliki gejala gangguan kecemasan atau lebih dikenal dengan anxiety disorder.

Membaca pernyataan tersebut tentu saya sedih, karena sebelumnya mereka terlihat baik-baik saja. Memang, beberapa member yang biasanya sangat aktif di Twitter seperti Jae dan Sungjin akhir-akhir ini terlihat menghilang.

Jae biasanya ramai dengan celotehannya yang tidak jelas atau dengan kata-kata motivasinya yang menghangatkan hati, kalau Sungjin biasanya selalu update makanan apa yang hendak dimakan.

Sehingga, saat Zombie rilis, saya tidak bisa menahan air mata, tidak apa-apa jika dibilang lebay. Hehe. Lagu ini jelas menyuarakan apa yang dirasakan anak-anak muda, terutama bagi yang mereka bekerja di kota-kota besar seperti Jakarta. Kalau di videonya mungkin di Seoul, karena terlihat gedung-gedung yang menjulang tinggi, orang-orang yang sibuk berjalan pada pagi hari, dan meja-meja kerja yang dibaliknya terdapat orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing.

Videonya diawali dengan seorang laki-laki yang bangun tidur dengan tatapan kosong dari kamar kosnya yang tidak terlalu besar. Berlatar agak gelap dan berdebu. Laki-laki tersebut, bangun dengan tanpa semangat kemudian menjalani hari-harinya seperti biasa yaitu berangkat kerja.

Baca Juga: Dua Syarat Kerja Paling Janc*k

Jadi video ini menggambarkan kehidupan anak muda urban yang menjalani aktivitas berulang yang sangat membosankan. Bangun tidur, pergi menuju tempat bekerja, bekerja dan tak sadar hingga hari sudah gelap.

Sekarang mari kita kaitkan dengan liriknya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

 “Seperti apa itu kemarin, apakah ada yang spesial? Aku mencoba mengingat, tapi tidak banyak yang terlintas dalam pikiran”

Sudah bisa kita simpulkan bahwasannya disini Day 6 mencoba menggambarkan kegiatan sehari-hari anak muda yang sama, berulang, dan tidak berubah. Sehingga mereka tidak mengingat apa-apa.

“Hari ini sama saja, apa cuma aku satu-satunya yang berjuang? Bagaimana aku bisa melewati ini, apakah semuanya akan lebih baik jika aku menangis?”

Yaa, kita lelah. Kita lelah bekerja, lelah menjadi dewasa dan rasanya ingin menangis.

Lirik-lirik Zombie mencoba menyuarakan jeritan anak muda yang ingin sekali keluar dari rutinitas mereka yang sangat membosankan. Tetapi mereka tidak bisa dan tidak mampu, karena jika mereka berhenti bekerja, mereka tidak akan punya apa-apa lagi. Menjadi miskin dan semakin tak berdata di hadapan dunia yang kejam.

Zombie adalah penggambaran dari orang yang setengah hidup dan mati. Jadi seperti mati segan hidup tak mau, ya sudah anak muda di mv tersebut menjalani hari-harinya seperti itu. Karena kelelahan dengan aktivitasnya, tatapannya menjadi kosong, tidak peduli dengan keadaan sekeliling, dan hanya mengikuti kemana arah angin berjalan.

“I feel I become a Zombie, aku berjalan terus, melangkah tanpa tujuan. Besok tidak akan jauh berbeda. Aku hidup menghitung waktu sampai mata aku tertutup.”

Dari lirik tersebut dapat disimpulkan bahwasannya, anak muda kerap bekerja hingga malam hari dan biasanya sangat produktif pada malam hari harus pasrah menerima nasib mereka yang seperti itu. Dibalik semua itu mereka tetap menyematkan harapan untuk hari esok, karena itu harapan, setidaknya mereka percaya hari esok akan lebih baik. Hanya itu yang mereka punya, harapan.

Baca Juga: Hijrah dan Cari Kerja di Jakarta, Berat Ma Beroooh!!!

Day 6 kemudian menginsyaratkan kepada para pendengar bahwasannya tidak apa-apa untuk menangis dan merasa lelah, keluarkan saja semua emosimu. Di lagu yang sama, seolah-olah pendengar menjawabnya aku sudah sering menangis, hingga aku tidak bisa menangis lagi rasanya. Tidak ada kesedihan lagi dalam hidupku.

Sebenernya Zombie tidak mengandung unsur untuk memotivasi pendengar sama sekali. Day 6 hanya menggambarkan betapa melelahkan dan membosankannya menjalani kehidupan sebagai orang dewasa.

Entah kenapa lagu yang sangat putus asa ini sangat saya sukai, menandakan berarti kita tidak sendirian, semua orang mengalaminya. Jadi harus tetap semangat menjalani kehidupan. Di akhir video ini juga divisualisasikan dengan air yang menggenangi kamar laki-laki tersebut, mungkin air tersebut adalah air mata dan di kamar kos tersebut isinya hanyalah kesedihan.

Penulis

Anatasia Anjani

Masih mahasiswa, suara adalah ciri khasku. Tertarik pada sastra, film, dan kajian media
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp