Cara “Nakal” Civitas Akademika: Fenomena Publikasi Jurnal di Indonesia

Cara “Nakal” Civitas Akademika: Fenomena Publikasi Jurnal di Indonesia

Cara "Nakal" Civitas Akademika: Fenomena Publikasi Jurnal di Indonesia

Sulitnya publikasi jurnal ilmiah, membuat sebagian akademisi akhirnya menggunakan cara "nakal" untuk menuntaskan kewajibannya. Cara-cara ini sebenarnya bukan rahasia umum di lingkungan civitas akademika.

Membaca tulisan Mohammad Maulana Iqbal dalam “Ketika Jurnal Ilmiah Menjadi Ladang Bisnis”, saya jadi ingat pada Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) nomor 20 tahun 2017 lalu.

Di sana disebutkan bahwa publikasi jurnal ilmiah menjadi syarat kenaikan setiap jenjang jabatan untuk fungsional, salah satunya dosen.

Kelulusan mahasiswa magister dan doktor menurut Standar Nasional Pendidikan Tinggi juga mensyaratkan hal yang sama.

Para akademisi mesti memiliki publikasi jurnal ilmiah yang bereputasi. Catatan yang bisa dipetik dari SK yang terbit itu, terselip kata “menjadi syarat”. Yang mana mengarah untuk menuntut.

Sulitnya publikasi jurnal ilmiah, membuat sebagian akademisi akhirnya menggunakan cara “nakal” untuk menuntaskan kewajibannya. Cara-cara ini sebenarnya bukan rahasia umum di lingkungan civitas akademika.

Cara nakal pertama: Ada uang, ada barang

Fun fact! untuk mengambil hak mereka, seperti tunjangan gaji dan sejenisnya, Lektor dan profesor setidaknya menerbitkan paling sedikit satu jurnal internasional bereputasi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Keresahan itu tentu saja menimbulkan kebut-semalam asal tulisan mereka terbit pada jurnal yang dituju, agar hak tersebut diperoleh. Bahkan ada cara praktis dengan embel-embel article processing charge (APC) atau biaya pengolahan artikel.

Yaaa ada uang, ada barang

Dewasa ini banyak jurnal yang tidak bereputasi menawarkan percepatan proses penerbitan. Dengan catatan menambah biaya. Akhirnya, banyak yang tergiur dengan kompensasi tersebut tanpa berpikir panjang apakah tulisannya telah melalui prosedur layak.

Jadi jangan kaget, bila mengakses google scholar mendapatkan jurnal-jurnal yang memiliki kesalahan gramatikal, tak kesesuaian tema yang mestinya melalui prosedur pemeriksaan ketat dari tim reviewer jurnal.

Padahal mengacu kepada aturan jurnal bereputasi, minimal sebuah tulisan dari proses pemeriksaan sampai benar-benar terbit butuh enam bulan.

Cara nakal kedua: Nalar kapitalisme yang mencederai intelektual tulisan ilmiah

Keadaan ini semakin erat, ketika akademisi terobsesi mengikuti seminar atau konferensi. Dengan penawaran prosiding yang diindeks Scopus—salah satu pengindeks produk jurnal dan prosiding terbaik saat ini.

Penyelenggaraan dua acara tersebut hanya berlangsung 1 sampai 2 bulan saja. Sehingga akademisi berbondong-bondong mendaftar sebagai presenter untuk menyajikan manuskrip.

Padahal marwah dari kedua acara ini sebagai ajang bertemu para akademis berbagi hasil diskusi kajian, kritik, dan pengembangan. Namun, sekarang banyak dijadikan sekadar penyelamat publikasi apalagi prosiding yang ditawarkan terindeks Scopus.

Bahkan panitia penyelenggara memanfaatkan konsep yang buruk ini dengan mengusahakan peserta sebanyak mungkin.

Misalnya pendaftaran ditutup minggu ini, tapi demi menghindari angka kerugian diperpanjang agar mendapatkan untung lebih demi membayar jasa para pembicara, penyeleksi serta ke penerbit yang bersedia mempublikasikan dengan terindeksasi Scopus. Secara reputasi Scopus merupakan indeksasi dari penerbit besar Elsevier. Artinya nalar kapitalisme tidak bisa dihindari di sini.

Hingar-bingar keberadaan Scopus banyak dikritik karena hegemoninya serta soal orientasi bisnisnya dengan nyaring oleh Jon Tennant. Tentu saja cara-cara ini mencederai intelektual tulisan ilmiah.

Cara nakal ketiga: Ikut-ikutan, yang penting lulus studi

Sebenarnya dikalangan mahasiswa sama saja. Mereka mengikuti cara-cara tersebut untuk menyelesaikan studi mereka.

Misalnya mahasiswa dituntut menerbitkan artikel terindeks Sinta (nasional) atau Scopus sebagai syarat pengambilan ijazah. Adapun tak memenuhi sertifikat itu akan ditahan tanpa waktu yang tak bisa diprediksi.

Mahasiswa rela menghamburkan uang demi lulus dan kebahagiaan kepada kedua orang tua. Tak ayal, banyak terjebak dengan jurnal predator yang menjanjikan penerbitan secepatnya dengan persyaratan tertulis.

September tahun lalu, sempat jadi  perbincangan, soal dicabutnya akreditasi Sinta Budapest International Research and Crtitics Institute (BIRCI-Journal) Humanities and Social Sciences dan Konfrontasi: Jurnal Kultural, Ekonomi, dan Perubahan Sosial. Yang menjadi lumbung mahasiswa menerbitkan tulisan di sana.

Banyak mahasiswa menyampaikan keresahan bahwa mereka diminta membayar ratusan ribu sampai jutaan, tergantung paket eksklusif terbit.

Berdasarkan SK No. 1000/E5.3/HM.01.00/2022, Direktur Diristek menjawab keresahan itu, bahwa (BIRCI-Journal) Humanities and Social Sciences dicabut status akreditasi Sinta 3-nya karena dicurigai terindikasi dan disinyalir tidak melalui proses review semestinya, dan jumlah terbit di setiap volume tak lazim.

Salah satu dari sekian banyak alasan yang diungkapkan bahwa jurnal tersebut didapat dari dosen pengampu mata kuliahnya atau teman kampus yang telah dulu menerbitkan.

Cara nakal keempat: Mengunduh jurnal di situs gratis!

Banyak akademisi yang melanggar hak cipta. Misalnya mengunduh buku atau pun jurnal, melalui situs gratis yang disediakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas kepemilikan dokumen tersebut.

Sebut saja Z-Library serta Sci-Hub.

Bukan hanya ratusan, tapi jutaan orang yang mengakses penyedia dokumen ilegal ini untuk mendapatkan bahan rujukan makalah, tesis, artikel maupun jurnal.

Z-Library menyalurkan dokumen yang memiliki hak cipta secara gratis sehingga pemilik karya tidak mendapatkan royalti. Nasib situs ini berakhir pada pemblokiran FBI Amerika Serikat dan pemiliknya didakwa hak cipta; penipuan elektronik; dan pencucian uang.

Sementara Sci-Hub di tengah berbagai ancaman untuk menyeret situs ini di meja hijau, tahun 2021 lalu pemilik malah merayakan 10 tahun keberadaan situs dengan membobol 2.337.229 artikel baru berbayar milik Elsevier dan Springer salah satunya.

Kondisi seperti inilah yang terjadi dengan dunia publikasi, yang sebenarnya civitas akademika telah memahami bahwa praktik-praktik tersebut mencederai keilmuan.

Namun tetap dilakukan bahkan mengajak civitas akademika lain untuk kembali menyelami, berputar pada fenomena itu.

Barangkali diandaikan seperti semut tersesat dari koloni, hingga akhirnya membentuk lingkaran berjalan dan berputar terus-menerus tanpa henti sampai mati.

Penulis

Saharul Hariyono

Gemar menemukan dan mempekerjakan kata di dalam diri.
Opini Terkait
Salah Kaprah Nasionalisme dalam Pendidikan
Oppenheimer dan Masa Depan Riset Indonesia
Kampanye Politik di Kampus dan Dampak Undangan BEM UI
Bagaimana Caramu Membaca Dongeng?
Kebaya: Bentuk Rasis yang Diperhalus
notix-opini-retargeting-pixel