Ketika Jurnal Ilmiah Menjadi Ladang Bisnis

Ketika Jurnal Ilmiah Menjadi Ladang Bisnis

Ketika Jurnal Ilmiah Menjadi Ladang Bisnis
Ilustrasi oleh Ahmad Yani Ali

Publikasi atau penerbitan jurnal ilmiah mirip dengan penerbitan buku. Ada proses editing di dalamnya. Keduanya sama-sama melakukan pekerjaan jasa. Dan yang namanya pekerjaan harus ada bayarannya dongg.

Mahasiswa semester akhir pasti tidak asing dengan publikasi artikel ilmiah. Selain berjuang menyelesaikan tugas akhir skripsi, tesis maupun disertasi, mahasiswa juga punya kewajiban publikasi artikel ilmiah karyanya.

Di lingkungan pertemanan saya, setiap ada individu yang sukses mempublikasikan artikelnya, pastilah orang sekitar menyambutnya sumringah. Karena memang proses publikasi tidak bisa dianggap mudah. Sehingga patut diapresiasi.

Dan kesumringahan itu selalu dibarengi pertanyaan-pertanyaan. Seringkali saya mendengar, pertanyaan yang dilontarkan seragam. Paling awal ditanyakan bukan persoalan apa yang dikaji, topik, ataupun judul, tapi tentang terindeks apa jurnal tersebut.

Seperti, Sinta berapa? Tiga, dua, atau Sinta satu?

Quartile berapa? Q3, Q2 atau Q1?

Atau bahkan lebih tinggi lagi, Scopus kah?

Setelah mengetahui indeksasi, pertanyaan selanjutnya masih bukan substansi. melainkan tentang biaya publikasinya. Jika pertanyaan ini dijawab dengan nominal ratusan ribu atau bahkan jutaaan rupiah, saat itupula rengut wajah yang mengetahui publikasi artikel tersebut seketika berubah, bahkan menganggap remeh suatu perjuangan publikasi.

Yang awalnya berwajah sumringah kemudian berubah dengan wajah merendahkan ketika mendengar terdapat biaya dalam publikasinya. Seolah-olah kalau ada biaya publikasinya, bahkan hingga jutaan itu publikasinya gampang, auto lolos, atau tanpa revisi yang panjang dan memakan waktu lama, alias penerbit jurnal predator.

Padahal semua penerbitan jurnal itu pastilah berbayar.

Tidak selalu yang berbayar itu jurnal predator

Alasan lain yang menjadikan jurnal berbayar itu dianggap remeh adalah karena dianggap jurnal predator, yang segala proses penerbitannya guampang banget. Memang benar jurnal predator itu penerbitannya berbayar, tapi tidak semua jurnal berbayar dalam publikasi itu jurnal predator.

Jurnal predator adalah jurnal abal-abal biasanya menerima semua jurnal dan tanpa revisi sedikitpun, sehingga publishnya cepeet. Asalkan mau membayar dengan nominal tertentu ajaa.

Alhasil, artikel di jurnal ini biasanya nggak karuan layout-nya, pembahasannya beragam, website Open Journal System (OJS)nya acak-acakan, waktu terbitnya suka-suka karena ketika ada yang bayar maka saat itu juga terbit.

Selain itu, cara mudah lain untuk mendeteksinya yakni focus and scope dari jurnalnya yang menampung dari berbagai disiplin ilmu. Sedangkan jurnal yang memang berkualitas biasanya hanya fokus pada satu disiplin ilmu saja atau rumpun ilmu terkait, atau sekurang-kurangnya fokus pada satu topik dan beberapa topik yang terkait saja.

Sedangkan jurnal predator, semuanya masuk, ilmu sains masuk, ilmu sosial masuk, ilmu bahasa masuk, semuanya daahh.

Sampai sini, stop memiliki stereotipe buruk pada jurnal yang berbayar dalam publikasi. Karena tersebut tidak selalu jurnal predator. Ada proses panjang dalam perjuangannya. Berbayar bukan berarti nggak berkualitas, itu hanya persoalan administrasi keuangan pihak jurnal saja, nggak lebih.

Jurnal ilmiah adalah bisnis

Publikasi atau penerbitan jurnal ilmiah mirip dengan penerbitan buku. Ada proses editing di dalamnya. Jika di penerbitan buku ada editor yang selain mengedit tulisan, juga berkomunikasi dengan penulis, di penerbitan jurnal ilmiah ada reviewer.

Keduanya sama-sama melakukan pekerjaan jasa. Dan yang namanya pekerjaan harus ada bayarannya dongg.

Selain itu, jurnal ilmiah selalu bersifat online, jadi dalam bentuk website. Kalo berhubungan dengan website, pasti ada domain, hosting, dan lain-lain. Yang mana ini juga perlu perawatan. Butuh biaya juga kan pastinya.

Lalu, saat membaca artikel ilmiah pasti tidak asing sama Digital Object Identifier atau DOI. Yakni pengidentifikasi persisten (bersinambung) yang digunakan untuk mengidentifikasi objek secara unik dan telah distandarisasi oleh ISO. Dan biaya mendapatkan DOI tuh mahal. Sedangkan, jurnal harus memiliki itu.

Nah, kesemua itu ditanggung oleh penerbit jurnal ilmiah. Setelah jurnal terpublish, kamu sudah terima jadi. Namun sebagai gantinya, kamu perlu membayar dengan nominal yang sudah ditentukan.

Jadi, entah itu jurnal yang terindeks paling tinggi sekalipun pasti berbayar. Soalnya yaaa penerbitan jurnal ilmiah itu bisnis!

Biasanya, yang membedakan adalah sumber keuangan mahasiswa. Ada jurnal yang sumber keuangannya dari kampus. Dalam artian segala pekerja belakang layar jurnal, pengembangan jurnal dan lain-lainnya itu dibiayai kampus. Mahasiswa bisa mendapatkan ini, jika sedari awal tergabung dalam payung penelitian dosen.

Ada juga jurnal yang sama sekali nggak mendapatkan kucuran dana dari kampus. Jadi segala proses publikasi, maupun pengembangan jurnal, dibebankan kepada mahasiswa atau penulis. Biasanya ini karena mahasiswa melakukan riset mandiri.

Terus kalo udah bayar auto publish? Eits, nggak dong. Tidak semudah itu. Kamu harus melalui revisi berdasarkan catatan reviewer.

Seberapa banyak revisiannya, tergantung pada kualitas jurnal ilmiah yang ditulis tentu saja. Kalau asal-asalan nulis, nggak sesuai kaidah ilmiah, bahkan formatnya nggak nyesuain guideline penerbit jurnal, pasti penulisnya akan mendapatkan revisi mayor.

Itupun kalau topiknya menarik, kalau nggak menarik ditambah ngerjainnya asal-asalan, sudah dapat dipastikan artikelnya pasti ditolak mentah-mentah, meskipun jurnalnya berbayar.

Dari proses pengiriman ke penerbit hingga akhirnya di-review ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bisa sebulan. Belum lagi kalo ternyata ada yang direvisi. Kemudian dikirimkan lagi ke penerbit. Sampai akhirnya jurnal dipublish, ini membutuhkan waktu yang lama.

Namun, itulah ciri penerbit jurnal ilmiah yang bagus. Kalo dari waktu pengiriman, review, sampai publish dalam hitungan minggu saja, patut dicurigai. Jangan-jangan itu penerbit jurnal predator!

Jurnal bukan media online yang ada iklannya

Selain itu, perlu diketahui juga bahwa jurnal itu bukan media online, yang bisa mencari pendanaan untuk segala operasionalnya dari iklan. Jurnal sama sekali berbeda dengan itu.

Sekalipun penerbit jurnal ilmiah mau menerapkan sistem adsense, saya rasa nggak bakal ada komersil yang tertarik untuk beriklan di jurnal tersebut.

Yaa bagaimana mau tertarik, lah wong pengunjung jurnal aja nggak sampek ratusan ribu pembaca layaknya media online. Mentok itu cuma ribuan, itupun untuk mencapainya perlu bertahun-tahun.

Disamping karena pembuatan jurnal ilmiah itu perlu waktu yang lama, karena membutuhkan penelitian yang tervalidasi, jurnal tuh isu-isunya nggak update amatt. Nggak secepet media online. Bahasa yang digunakan pun rumit dan panjang, sehingga tidak semua orang “mampu” membacanya.

Hanya golongan tertentu, seperti mahasiswa dan dosen saja yang mengunjungi website jurnal ilmiah. Itupun demi kepentingan tugas, skripsi, tesis, atau penulisan artikel. Dah lah, nggak mungkin ada produk yang mau ngiklan di OJS.

Penulis
Mohammad Maulana Iqbal

Mohammad Maulana Iqbal

Terkadang sedikit halu. Juru ketik tugas anak SD asal Gresik.
Opini Terkait
Pinjol ini Membunuhku: Cerita dari ITB
Budaya Toksik Pasca Sidang Tugas Akhir
Kampanye Politik di Kampus dan Dampak Undangan BEM UI
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-opini-retargeting-pixel