Mengenang Kevin Keegan dan Misi Eddie Howe Menyelamatkan Newcastle United

Mengenang Kevin Keegan dan Misi Eddie Howe Menyelamatkan Newcastle United

Kevin Keegan Eddie Howe Newcastle United

I’ll tell you, honestly. I will love it if we beat them, love it!

Akankah Eddie Howe mampu ‘menyelamatkan’ Newcastle United seperti yang dilakukan Kevin Keegan dulu?

Di bawah kendali Steve Bruce, Newcastle United mengejawantahkan diri sebagai klub semenjana: tak berprestasi dan ogah turun kasta. Bruce akhirnya dipecat oleh Newcastle United yang kini dikuasai Public Invesment Fund (PIF) pimpinan pangeran Arab Saudi, Mohammad bin Salman. Manajemen klub kemudian mengangkat Eddie Howe sebagai pelatih baru dan memberinya misi menyelamatkan Newcastle United.

Hingga pekan ke-12, Newcastle United masih terjerembab di dasar klasemen sementara Liga Inggris musim 2021/2022. Dari 12 pertandingan, mereka hanya mengemas 6 poin hasil dari 6 kali imbang, 6 kali tumbang, tanpa sekalipun menang.

Sekalipun mendadak menjadi klub kaya baru, kepalang naif untuk menyebut Newcastle United menjelma tim tangguh. Musim depan dan musim-musim selanjutnya tentu lain cerita. Tetapi, musim ini, perhatian mereka mesti terpusat pada satu hal: menyelamatkan diri dari jerat degradasi.

Misi yang dibebankan pada Eddie Howe tampaknya cukup berat, tetapi tidak mustahil. Saat ini, mereka hanya terpaut lima poin dari Leeds United yang duduk di peringkat 17 dengan 11 poin. Jarak itu bisa mereka pangkas bahkan sebelum paruh musim. Itulah tantangannya. Mental penggawa Newcastle United sedang longsor, dan tidak mudah mengangkat moral tim yang sedang terpuruk.

The Toon Army, julukan Newcastle United, seperti menunggu pahlawan untuk menyelamatkan nasib mereka. Misi itu diemban Eddie Howe. Sekiranya ia mau menengok masa lalu, ia bisa mengikuti jejak Kevin Keegan yang bukan hanya menyelamatkan klub, tetapi juga membawa klub naik level.

Kevin Keegan Membawa Newcastle United ke Level Selanjutnya

Kevin Keegan datang pertama kali ke Newcastle United pada 1982 sebagai pemain. Kedatangan Keegan cukup mengejutkan mengingat saat itu Newcastle United sedang berkubang di kasta kedua Liga Inggris.

Sulit mencari padanan kata selain mengejutkan, untuk menggambarkan kepindahan Keegan ke Newcastle United. Pada waktu itu, Keegan merupakan superstar global pertama yang pernah dimiliki sepak bola Inggris. Dua Ballon D’Or, anugrah yang diberikan untuk pemain terbaik Eropa, ada di kabinetnya. Selain itu, Keegan baru berusia 31 tahun. Belum kelewat tua untuk ukuran pemain sepak bola.

Apa yang membuat Kevin Keegan rela bermain untuk Newcastle United?

Kevin Keegan bukan pesepak bola medioker saat tiba di Newcastle. Ia pernah sukses di Liverpool, klub raksasa Liga Inggris. Selama 6 tahun di Liverpool ia meraih 3 gelar Liga Inggris, 1 Piala UEFA, dan 1 European Cup (sekarang Liga Champions). Di Liverpool, nama Keegan meroket, dan kepindahannya ke Hamburg SV memecahkan rekor transfer di Inggris dan Jerman pada saat itu.

Di Hamburg SV ia hanya dibebani ‘tugas remeh’: memenangi liga domestik Jerman, yang belum diraih Hamburg SV dalam kurun hampir 20 tahun. Musim awalnya di Hamburg SV tidak berjalan mulus. Ia bahkan harus menerima skors selama delapan pekan setelah ribut dan menonjok pemain lawan. Tetapi segalanya berubah pada musim setelahnya.

Keegan tampil memikat hati publik Hamburg juga Jerman. Ia mengantar Hamburg SV menjuarai liga Jerman musim 1978-1979 sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak dengan 17 gol. Dua gelar Ballon D’Or beruntun pada 1978 dan 1979 menjadi ganjarannya. Kemudian ia memperoleh julukan “Mighty Mouse”, tokoh superhero fiksi asal Amerika yang sanggup membereskan banyak persoalan.

Setelah masa-masa sukses itu, Keegan kembali ke Inggris untuk bergabung dengan Southampton yang berkompetisi di kasta teratas sepak bola Inggris. Performanya masih impresif dengan mencetak 11 gol pada musim pertama, dan 26 gol pada musim kedua. Hanya dua musim di sana, ia melanjutkan karirnya ke Newcastle United pada 1982.

Catatan itu sejatinya menunjukkan Keegan sebetulnya masih sanggup bermain di level teratas barang dua atau tiga tahun lagi. Itulah yang membuat orang bertanya-tanya, mengapa ia pergi ke klub semenjana macam Newcastle United yang berada di kasta kedua sepak bola Inggris.

Keegan tampaknya memang ditakdirkan menyelamatkan Newcastle United. Ia disambut bak seorang pahlawan. Pendukung Newcastle United merayakan kedatangan Keegan dan berharap ia mampu membawa klub itu ke First Division, kasta tertinggi sepak bola Inggris.

Dalam otobiografi Keegan, kepindahannya ke Newcastle United berhubungan dengan impian ayahnya yang ingin ia bermain untuk Newcastle United. Sambutan meriah dari para pendukung meyakinkan Keegan bahwa Newcastle United adalah rumah yang tepat untuknya.

Pada musim keduanya di Newcastle United, Keegan benar-benar menjadi pahlawan. Ia membawa Newcastle United promosi ke kasta teratas sepak bola Inggris.

Prototip Pelatih Newcastle United

Setelah pensiun sebagai pemain, Kevin Keegan kembali ke Newcastle United pada awal 1992 sebagai pelatih. Ia datang saat klub itu terseok-seok di papan bawah dan berjuang lolos dari degradasi.

Meski pada waktu itu Newcastle United berada di First Divison, musim 1992/1993 merupakan musim perdana Premier League sebagai kompetisi sepak bola tertinggi di tanah Inggris. Artinya, ia tiba saat klub itu berada satu level di bawah kasta teratas. Keegan sanggup membawa Newcastle United menjuarai First Division 1992/1993 dan berhak atas tiket promosi ke Premier League 1993/1994.

Promosi belaka seakan tidak cukup. Pada musim 1993/1994, berstatus sebagai tim promosi, Newcastle United melejit ke peringkat 3 klasemen akhir. Sekali lagi, Keegan membuktikan bahwa ia memang ditakdirkan menjadi pahlawan. Keegan bukan hanya sekadar membawa klub melejit, sebagaimana para pahlawan, ia menyingkirkan mental medioker, dan mengisinya dengan mental pemenang.

Berkat Keegan, Newcastle United menjelma jadi klub yang disegani di Premier League pada periode 1990-an. Nama-nama seperti Les Ferdinand hingga Alan Shearer turut dikenang para pendukung sebagai legenda klub.

Puncaknya, pada musim 1995/1996 Newcastle United benar-benar sanggup bersaing untuk memperebutkan gelar Premier League. Hingga pertengahan musim, mereka menduduki posisi pertama di klasemen sementara, dengan 12 poin dari pesaingnya. Petaka tiba justru saat garis finis hanya berjarak sepelemparan batu. Kekalahan dari Manchester United (MU), Liverpool, Arsenal, dan Blackburn Rovers memangkas selisih poin di momen-momen krusial, dan pada akhirnya gelar juara mesti mereka relakan pada Manchester United.

Saat itu, dalam sebuah wawancara  dengan SkySport menjelang musim berakhir, Keegan murka sebab timnya diolok-olok oleh Alex Ferguson, pelatih MU. Raut muka Keegan mengeras dan telunjuknya menuding ke arah kamera seraya mengatakan:

“I’ll tell you, honestly. I will love it if we beat them, love it!”

Kevin Keegan

(Biar kukatakan pada kalian, aku akan sangat senang jika kami mengalahkan mereka (dalam perebutan gelar juara), senang sekali!”

Respon Kevin Keegan yang merasa diolok-olok Alex Ferguson (Youtube/SkySport)

Keegan dan Newcastle memang kalah dalam perebutan gelar juara. Kendati demikian, apa yang ia sampaikan menanggapi perang urat saraf Ferguson, menunjukkan mental medioker Newcastle United hanyalah masa lalu. Anak buah Keegan menyanjungnya kendati orang-orang merayakan kemenangan Ferguson dan MU dalam perang urat saraf tersebut.

Keegan sempat berhenti sebagai pelatih Newcastle United pada 1997 sebelum kembali pada Januari 2008. Keadaannya tidak jauh berbeda. Ia mesti kembali saat tim itu kepayahan dan ia membuat musim itu tidak jadi lebih buruk. Tak sampai setahun, pada September 2008, Keegan akhirnya berhenti sebab ia berseteru dengan manajemen klub.

Misi Menyelamatkan Newcastle United

Apa yang dihadapi Howe sedikit banyak mengingatkan kita pada jejak Keegan. Menjadi pelatih saat klub terperosok di klasemen sementara, dan moral pemain berantakan. Satu hal yang membedakan keadaan Keegan dan Eddie Howe: kekuatan finansial.

PIF telah mengakuisisi klub dan punya kekuatan finansial mumpuni. Pemilik baru Newcastle United jelas berambisi membawa klub mereka bersaing untuk gelar Liga Inggris. Bukan musim ini tentu saja, sebab misi mereka musim ini adalah mengerek performa klub menjauhi degradasi.

Modal Howe untuk menjaga Newcastle United bertahan di Premier League adalah skuat yang mereka miliki saat ini. Sulit mengharapkan pembelian pemain dengan nama besar di bursa transfer mendatang jika mereka tak sanggup mengerek posisi di klasemen sementara. Keadaan itu yang rupanya membuat manajemen klub menunjuk Howe: ia punya rekam jejak bagus memperbaiki klub yang terseok-seok.

Howe memang tak pernah punya hubungan spesial dengan Newcastle United. Segalanya bermula saat ia membawa Bournemouth bangkit kemudian terbang tinggi.

Bournemouth pada waktu itu hanyalah klub pesakitan di sepak bola Inggris. Pada musim 2008/2009, klub itu barlaga di League Two, kasta keempat sepak bola Inggris. Persoalan finansial membuat Bournemouth nyaris bangkrut dan menjalani musim dengan pengurangan 17 poin. Keadaan mengenaskan itu sanggup diatasi Howe dan membuat Bournemouth terhindar dari degradasi.

Pada musim selanjutnya, Howe malah sukses membawa Bournemouth promosi ke League One, kasta ketiga sepak bola Inggis. Ingat, saat itu, Bournemouth masih terjerat persoalan finansial dan hanya berbekal pemain seadanya.

Howe memang pernah meninggalkan Bournemouth untuk Burnley, tetapi hanya untuk satu setengah musim. Nyaris tak ada yang berarti selama ia di Burnley, dan ia kembali lagi ke Bournemouth.

Pada periode keduanya di Bournemouth, Howe melakukan sesuatu yang amat spesial. Setelah di periode pertama membangun ulang pondasi klub, ia kemudian menuntaskan impian klub kampung halamannya itu merasakan persaingan di level yang lebih tinggi: divisi Championship dan kemudian promosi ke Premier League pada 2015.

Selama lima tahun, Bournemouth bertahan di Premier League sebelum kembali ke kasta di bawahnya akhir musim 2020/2021. Howe pun mengakhiri kisah manisnya di Bournemouth sekaligus menodai reputasinya.

Tak berselang lama, Newcastle United yang baru saja memecat Steve Bruce kepincut dengan rekam jejak Howe. Kisah Howe menyelamatkan klub pesakitan agak familiar dengan keadaan mereka saat ini. Itu diakui oleh Amanda Staveley, direksi Newcastle United. Ia mengatakan bahwa klubnya terkesan dengan rekam jejak Howe di Bournemouth di mana ia memberi “dampak transformasional”.

Kemampuan Howe mengangkat moral pemain sudah teruji, dan ia sanggup mengatasi keadaan sulit. Howe dikenal sebagai pelatih yang memerhatikan detail-detail kecil dari klub yang ia tangani, dan meminta pemainnya mengerahkan 100 persen kemampuan mereka di lapangan. Itu bukan saja mengangkat moral pemainnya, tetapi juga membuat anak asuhnya terus-menerus meningkatkan performa mereka. Pemain yang pernah ia tangani di Bournemouth mengakuinya.

Di Newcastle United, Howe bakal bereuni dengan sejumlah anak asuhnya di Bournemouth, yakni Callum Wilson, Matt Ritchie dan Ryan Fraser. Howe bisa berharap keberadaan mereka membantu kinerjanya sebagai pelatih. Toh, ketiga pemain itu juga menjadi tumpuan Howe saat melatih Bournemouth.

Kendati demikian, jalan Newcastle United dan Eddie Howe masih tampak terjal. Dari tujuh pertandingan di Premier League, Newcastle United hanya mampu meraup satu kemenangan, dua laga imbang, dan empat lainnya berakhir dengan kekalahan.

Masih terlalu dini untuk menganggap Howe gagal. Lagipula, ia mengambil alih kursi kepelatihan saat klub sedang terseok-seok. Howe, toh, juga mesti membereskan kemuraman di ruang ganti sebelum membawa klub menanjak di klasemen.

Mengentas mental medioker klub adalah satu langkah sebelum mentransformasi Newcastle United menjadi klub yang disegani. Kita belum perlu bicara soal transfer pemain mahal sebelum Newcastle United sanggup melakukannya.

Setidaknya, untuk bursa transfer musim dingin, klub masih bisa mencari pemain berkualitas untuk mengangkat performa tim. Tahun baru ini, mereka bukan hanya perlu membuat resolusi, tetapi juga revolusi.

Seperti pada Keegan, mereka mengharapkan Howe adalah sosok pahlawan yang datang saat mereka kepayahan.

Penulis
Rifky Pramadani

Rifky Pramadani

Masih mahasiswa. Kadang-kadang ikut diskusi di Center for Critical Society on Media (Calism). Tertarik mengkaji ruang hidup, dan media.