Melawan Konsumerisme: Gerakan Buy Nothing Day itu Utopis!

Melawan Konsumerisme: Gerakan Buy Nothing Day itu Utopis!

Gerakan Buy Nothing Day
Ilustrasi oleh Vivian Yoga Veronica Putri

Lagipula, apa yang mau dibelanjakan kalau uangnya juga tidak ada?

Saya cukup terhenyak saat scrolling feed Instagram akun @sediksi di tanggal 24 November 2023 lalu. Sebagai seorang follower baru, sudah menjadi semacam “tugas suci” bagi saya untuk mengamati konten-konten apa saja yang menjadi menu dari platform yang saya ikuti tersebut.

Perhatian saya tertuju pada carrousel 6 slide yang berisi sebuah info persuasi, mungkin lebih tepatnya kampanye, yang bertajuk “Buy Nothing Day:  Lawan Konsumerisme dengan Puasa Belanja.”

Sebagai disclaimer, saya sebenarnya juga baru mengetahui tentang adanya sebuah kampanye gerakan yang usianya ternyata sudah mencapai kepala tiga ini.

Setelah geser-geser slide, saya menemukan beberapa informasi menarik terkait Buy Nothing Day (BND). Kampanye ini kurang lebih mengajak orang-orang untuk “gak beli apapun, gak transaksi apapun” selama satu hari penuh.

BND muncul sebagai bentuk perlawanan atas gerakan Black Friday, atau hari di mana masyarakat cenderung akan menjadi sangat konsumtif. Di hari tanpa belanja ini, orang-orang akan turun ke jalan melakukan long march. Mereka juga biasanya akan mengadakan event donasi jaket dan jas

Tujuannya untuk menyadarkan orang-orang terkait konsekuensi dari konsumerisme, seperti dampaknya bagi lingkungan, ketidakadilan sosial, serta kesejahteraan individu. Untuk lebih jelasnya bisa cek sendiri deh di akun Instagram @sediksi.

Nah, dari membaca postingan tersebut, ada hal-hal yang cukup mengganjal dalam pikiran saya terkait kampanye BND ini. Dan ketimbang hanya menjadi keresahan saya sendiri, nampaknya akan lebih baik jika hal tersebut saya tuangkan dalam sebuah tulisan.

BND itu Tidak Efektif dan Utopis

Oke, langsung saja. Bagi saya, sebagai sebuah gerakan perlawanan, tawaran “tidak berbelanja” dalam BND untuk meredam gejolak konsumerisme itu jatuhnya seperti utopia dan tidak berdasar.

Tak dapat dipungkiri bahwa konsumerisme sudah menjadi semacam karakter, semacam ada yang hilang kalau keranjang kuning tidak terisi. Banyak orang berbelanja tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya tidak benar-benar butuh dengan yang dia beli.

Namun, kita perlu melihat kritis terhadap efektivitas dan kedalaman gerakan ini. Argumentasi yang dilontarkan seolah hanya ingin “mengkontraskan diri” dari gerakan Black Friday dengan menyamakan semiotikanya “Buy Nothing Day”, sama-sama ada “day-nya.”

Esensi dan efektivitasnya seperti apa kita tidak tahu. Apa sudah ada contoh keberhasilan dari BND yang kemudian membuat dunia kembali tertawa selama kurun waktu 30 tahun gerakan ini eksis?

Sebelum dituduh sebagai anti-BND atau si paling gila belanja, saya ingin mengatakan bahwa saya bukanlah penganut konsumerisme tingkat akut. Lagipula, apa yang mau dibelanjakan kalau uangnya juga tidak ada?

Akan tetapi, mengajak orang untuk tidak berbelanja seharian hanya menyentuh permukaan masalah tanpa memberikan pemahaman yang mendalam tentang sumber permasalahan utamanya, yaitu konsumerisme. 

Konsumerisme tidak bisa dilawan dengan tidak belanja, apalagi cuma satu hari. Konsumerisme harus dilawan dengan cara pandang, attitude, habit, karakter, dan gaya hidup yang berkecukupan, not wasted.  Kampanye BND, salah-salah malah membuat orang kemudian menjadi “lapar” setelah puasa belanja penuh selama satu hari.

Saya tidak terbayang saja, bagaimana mandegnya roda perekonomian di satu hari itu karena “mogok belanja” yang dilakukan dan akan menghasilkan problematika berlarut untuk minimal 1 bulan kedepannya.

Permintaanya menjadi lebih banyak, barang menjadi semakin langka, harga menjadi semakin mahal, dan birahi belanja menjadi semakin menjadi-jadi. Hanya karena satu hari semua tidak belanja.

Misalkan, kita anggap kampanye ini berhasil, kemudian diikuti oleh 50%+1 total warga Indonesia. Seperti dulu ada gerakan matikan lampu selama 1 jam di Jakarta. Artinya, pada hari itu, akan ada 100 juta lebih umat manusia Indonesia yang tidak berbelanja.

Dari sini, roda perekonomian akan tersendat sementara dan akan hadir implikasi lanjutan sebagai respons atas hilangnya transaksi di hari sebelumnya. Bagi saya, bukan saja gerakan ini akan menjadi utopis, lebih dari itu ia akan menjadi bumerang.

Kuncinya Ada di Mindset

Sebagai alternatif, kita dapat mempertimbangkan pendekatan yang lebih positif dengan mengedukasi masyarakat tentang kecukupan dan mengalihkan fokus dari “puasa belanja” ke membuat konsumerisme tidak relevan lagi.

Inilah model kampanye yang harusnya dilakukan secara berkelanjutan. Bangun kesadaran tentang kecukupan, belanja seperlunya terkait yang dibutuhkan, serta perkuat spirit berbagi.

Namun untuk mencapai dimensi itu, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu Anda harus menjadi orang berpunya terlebih dahulu.

Alih-alih energi besar dikeluarkan untuk kampanye “puasa belanja”, lebih baik kampanyenya dibesarkan menjadi bagaimana kita bisa tetap berkecukupan, tetap dermawan, dan hidup sederhana. Belanja sebutuhnya, berpakaian sewajarnya, dan mengkonsumsi secukupnya.

Konsumerisme Memang Bermasalah, Tapi BND Bukan Solusi Satu-Satunya

Memang, di satu sisi, konsumerisme ini seolah menjadi noktah dalam peradaban. Bagaimana misalnya data terkait the third global food paradoxes menempatkan konsumerisme sebagai dalang utama penyebab 3 masalah pangan besar di dunia, sampai hari ini. 

  1. 795 Juta jiwa orang di dunia menderita karena kelaparan, sementara pada era yang sama 2,1 Miliar manusia di planet bumi dilaporkan obesitas dan overweight. Lebih banyak orang-orang menderita karena terlalu sejahtera.
  2. 40% dari produksi pangan diperuntukkan untuk pakan (hewan) dan sisanya jadi biofuel (mesin)Sementara manusia hanya dijatahi 47% saja. 
  3. Dan ini yang paling parah, 1,3 miliar ton perfectly edible food mubazir terbuang sia-sia. Yang dimaksud perfectly edible food ini makanan yang masih bisa dikonsumsi, tapi dimakan sedikit saja, kemudian dibuang.

Mirisnya lagi, 1,3 miliar ton edible food ini seandainya dipakai untuk memberi makan 795 juta jiwa yang kelaparan tadi, mampu memberi mereka makan sebanyak empat kali kenyang.  Dan jika 1,3 miliar ton ini dihamparkan menjadi sampah, butuh tiga planet serupa bumi untuk menampung sampahnya. 

Meski begitu, tidak lantas kita harus langsung setuju dengan BND. Ini juga bukan solusi. Keberhasilan sebuah gerakan harus diukur bukan hanya dari seberapa banyak perhatian yang didapat dalam satu hari, namun seberapa besar dampaknya dalam mengubah cara kita memandang dan berinteraksi dengan komoditas sehari-hari.

BND mungkin dapat sukses selama sehari. Namun, tanpa pemahaman mendalam dan pendekatan yang berkelanjutan, orang-orang akan kembali ke kebiasaan lama dengan intensitas yang lebih tinggi dan tingkat keserakahan yang lebih besar.

Seperti yang telah saya ilustrasikan di atas, kampanye gerakan BND kurang melibatkan empati dan pemahaman terhadap situasi ekonomi makro dan mikro.

Para pelaku gerakan ini mungkin tidak menyadari bahwa BND juga dapat berefek negatif terhadap mereka yang bekerja di sektor ritel, khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dan jumlah orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini tidaklah sedikit.

Ketimbang menyuruh orang untuk tidak berbelanja, perubahan yang lebih bermakna dapat dicapai melalui pendekatan yang lebih holistik, seperti mendukung usaha lokal yang berkelanjutan atau mengkampanyekan perubahan kebijakan ekonomi yang mendukung keadilan.

Kita dapat merancang kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan kecukupan yang lebih luas. Alih-alih melarang orang, mari fokus pada mengubah cara kita memandang kebutuhan dan keinginan.

Mendidik masyarakat tentang dampak buruk konsumsi berlebihan bagi lingkungan dan sosial dapat membantu mereka membuat keputusan yang lebih bijak tanpa harus menghentikan pembelian sepenuhnya.

Selain itu, kampanye terbesar kita seharusnya mengubah narasi kapitalisme dari “memiliki lebih banyak” menjadi “hidup lebih baik.” Kita dorong gaya hidup yang sederhana dan berkecukupan, menghargai kualitas daripada kuantitas, dan mempromosikan cara pandang kritis terhadap iklan di media konvensional dan media sosial.

Dan siapa tahu, Sediksi tertarik untuk membuat kampanye seperti ini sebagai ide carrousel selanjutnya.

Lagipula, biasanya setelah puasa kan harus berbuka. Lantas, apa sebutannya setelah “puasa belanja”? Apa iya kita harus berbuka belanja? Atau yang lebih epik, mari kita berlebaran belanja. Mohon maaf lahir dan shopping

Editor: Ahmad Gatra Nusantara
Penulis

Ardiansyah

Seorang aktivis, peneliti, dan pemerhati gejala-gejala sosial. Sangat suka dengan kritik dan konstruksi sosial. Serta penyuka travelling, ngopi, indie, dan senja.
Opini Terkait
Ke Mana Perginya Para Bapak?
Yang Luput Dari Analisis Anak Muda Gengsi Jadi Petani
Masyarakat Menengah: Hidup Segan, Mati Banyak Tanggungan
Topik

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM

notix-opini-retargeting-pixel