Pengen Jadi Warga Negara Swiss? Netizen Sebaiknya Pikir Ulang

Pengen Jadi Warga Negara Swiss? Netizen Sebaiknya Pikir Ulang

RUU Cipta Kerja disahkan, dan kita ramai-ramai mau pindah? kemana? ke Swiss? Susah lho. Lagian Indonesia kan 'dijauhin' gara-gara gak becus nangani covid.
Pindah warga negara, Swiss dan RUU Cipta Kerja
Ilustrator: Ahmad Yani Ali

“Mama, Kenapa Aku Lahir Di Indonesia?” Begitu kira-kira jeritan netizen kalau dikemas dalam sebaris judul sinetron indosiar. Di hari bersamaan dengan diresmikannya RUU Cipta Kerja alias Omnibus Law, negara Swiss jadi trending topik di twitland.

Sementara tagar #tolakomnibuslaw #jegalsampaibatal dan #mositidakpercaya terus meningkat sebagai bentuk penolakan masyarakat terhadap rancangan undang-undang yang merugikan masyarakat kecil. Kicauan netizen soal pindah negara pun semakin mencuat. Salah satu negara yang diidam-idamkan netizen adalah Swiss.

Menggembala kambing di tengah hijaunya rerumputan, menikmati keju terenak di dunia, dan memiliki pemerintah yang mengutamakan kesejahteraan rakyatnya bisa jadi mimpi indah warga +62 di tengah kekacauan politik belakangan ini.

Netizen makin ramai membayangkan tinggal di Swiss setelah mengetahui artikel dari detik.com berjudul “Mau Pindah ke Desa Swiss dan Dibayar Rp 950 Juta? Begini Caranya”. Pemerintah Swiss akan memberikan US$ 70.000 atau setara Rp 950 juta bagi warganya yang mau tinggal di sebuah desa kecil bernama Albinen.

Pemerintah Swiss bertujuan menghidupkan perekonomian di desa yang minim penduduk tersebut. Dengan harapan, aktivitas ekonomi meningkat, pemerintah Swiss merasa perlu merangsang anak muda di negara tersebut untuk mau tinggal di desa Albinen tentunya dengan jaminan kehidupan yang layak. Tapi, program ini hanya untuk warga negara Swiss, dong!

“Yasudah, tinggal pindah kewarganegaraan toh!”

Pindah Warga Negara ke Swiss Butuh 12 Tahun

Tidak semudah itu, lurr. Swiss, negara yang selama ini terkenal dengan panorama alamnya, ternyata memberikan persyaratan yang sulit jika kita ingin jadi penduduk tetap di sana.

Warga negara asing yang ingin tinggal di Indonesia hanya perlu waktu sedikitnya 5 tahun berturut-turut tinggal di Indonesia. Sebaliknya, jika netizen Indonesa berencana pindah ke negara Swiss, mereka harus menetap selama minimal 12 tahun!

FYI, kalau ternak sepasang kambing di Garut selama itu, kita sudah punya sedikitnya 24 ekor kambing, lho.

Harus ‘Faseh’ Budaya Lokal di Swiss

Selain itu, yang juga bikin sulit untuk jadi warga negara Swiss adalah pengetahuan sekitar dan penerapan laku budaya lokal. Setiap orang yang ingin memiliki kewargenegaraan Swiss harus tahu betul kehidupan di sekitarnya dan mampu mengadopsi budaya lokal di Swiss. Ada petugas khusus yang memastikan apakah kita sudah menerapkan budaya mereka.

Seorang warga Italia yang telah tinggal selama 30 tahun di Swiss sebagai pebisnis tajir bahkan ditolak aplikasinya karena tidak menyadari ada seekor serigala dan seekor beruang hidup bersama di kebun binatang di kota tempat dia tinggal selama ini. Ada serigala dan beruang hidup bersama kamu tidak tahu? Kok bisa kamu tidak tahu? Kok bisa? “Kok bisa saya harus tahu, pak.”

Ada lagi. Seorang perempuan Irak telah berdomisili di Swiss selama 20 tahun. Permintaannya menjadi warga negara Swiss juga ditolak karena mengeluarkan kata “eh” sebanyak 200 kali. Eh, gimana-gimana, Pak?

Budaya ‘Recycle’

Salah satu budaya yang tidak bisa diganggu gugat juga soal buang sampah pada tempatnya. Tidak hanya sekadar buang sampah di tong sampah, tapi recycle. Budaya recycle wajib diterapkan siapapun yang tinggal di Swiss walau itu sekadar berlibur. Kita sebisa mungkin harus mampu memilah sampah sendiri. Kalau ini sih semua warga +62 pasti bisa. Bisa kan bisa?

Jadi gimana, masih tertarik jadi warga negara Swiss? Negaramu lagi di-block karena gagap ngadepin Covid-19 lho. Mending pindah ke Swiss Van Java alias Garut, coy.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp