Pesan Sindiran untuk Bos, Bekerja untuk Hidup atau Hidup untuk Bekerja?

Pesan Sindiran untuk Bos, Bekerja untuk Hidup atau Hidup untuk Bekerja?

Pesan Sindiran untuk Bos

Berbahagia dengan apa yang ada. Melanjutkan hidup dan mencari kemungkinan agar mampu bekerja untuk hidup, bukan sebaliknya.

Jadi, pagi ini aku bangun lebih awal, tetapi hal pertama yang muncul di benakku bukanlah pekerjaan, melainkan bagaimana ya jika kita hanya bekerja untuk hidup bukan hidup untuk bekerja. Ada keseimbangan antara menghibur diri dengan aktualisasi diri. Imaji yang tampak ideal.

Beberapa waktu lalu aku membaca opini di Sediksi berisi kecurigaan penulis kalau kehadiran kartun Spongebob memiliki maksud terselubung di luar hiburan bagi kanak-kanak.

Dilihat dari bio-nya, opini itu ditulis oleh seorang juru ketik tugas anak SD. Entah, profesi apa sebenarnya yang ia maksud tapi barangkali kami punya keresahan yang sama sebagai seorang pekerja.

Kerja terus-menerus telah menjadi keniscayaan bagi kelas pekerja, seperti mitos. Bahwa hidup hanya untuk bekerja tanpa harus memikirkan pekerjaannya bermanfaat atau tidak.

Alih-alih memikirkan pekerjaan yang kita kerjakan berguna atau tidak, kelas pekerja hanya memikirkan kapan tanggal merah dan hari libur akan diisi untuk apa.

Hingga, di tengah kerja kau pernah tiba-tiba bengong, mikir sebenarnya yang kita tuju itu apa sih?

Semakin berumur, tujuan hidup makin tak jelas dan takut terjebak pada rutinitas pekerjaan yang upahnya pun tak seberapa. Seperti sangat sulit untuk mencerna ide tentang kehidupan yang seimbang antara bekerja dan menikmati hidup di tengah-tengah sistem peradaban modern hari ini.

Setelah rutinitas kerja yang begitu padat, yang tersisa dari pikiran kelas pekerja barangkali hanya jalan-jalan atau sekadar rebahan di kamar seharian. Sebab, yang membuat kita hidup bahagia dalam menghadapi semua pahit getir keadaan adalah dengan menikmati hal-hal dalam hidup itu sendiri.

Kendati demikian, menikmati hidup yang begitu-begitu saja juga bukan tanpa tantangan. Bagi pekerja yang banyak tanggungan, pasti akan memikirkan alokasi uang gaji bulanan sebelum ia memikirkan liburan, belanja atau menyantap makanan bergizi di awal bulan.

Alhasil, imaji muram tentang hidup untuk bekerja semakin menjadi. Pekerja tetap jarang liburan, hidup selalu tergesa-gesa, banyak pikiran, dan hampir tidak ada kesempatan untuk sekadar berbagi antarsesama.

Kubuka pintu kamar kosku, aroma pagi hari masuk saat aku mulai berpikir: Apakah aku terlalu melankolis sebagai pekerja? Bukankah kau harusnya bersyukur bisa menghidupi orang tuamu yang telah masuk usia pensiun dan adikmu yang mulai mendaftar seleksi masuk perguruan tinggi.

Yang memikirkan hal ini mungkin bukan hanya aku. Seorang sopir bis Antar Kota Antar Provinsi pun lebih sibuk memikirkan perut keempat anak dan istrinya hangat di malam hari dan tersedia nasi di pagi hari.

Jadi, aku harus bagaimana? Apa yang bisa manusia lakukan untuk memperbaiki kehidupannya? Apakah yang kita lakukan selama ini hanya menjadi kesia-siaan belaka?

Aku menghela napas. Aku tidak pernah menyangka bisa memikirkan hal ini semua saat seharusnya segera mandi, berangkat kerja dan menyapa sejawat senasib di kantor. Bukan justru memikirkan hal-hal utopis macam itu.

Ide tentang pemerataan modal misal, seringkali dituduh oleh orang-orang bodoh sebagai utopia. Hanya ada di film-film buatan Hollywood atau seperti tayangan HBO Series ‘The Last of Us’ yang dengan ironisnya menggambarkan distopia adalah permulaan dari kehidupan utopis.

Sayangnya, menunggu keajaiban seperti itu tidak akan pernah hadir, malahan sangat naif.

“Langkah pertama mewujudkan hidup dan kerja yang seimbang dan berkualitas adalah dengan membebaskan orang dari paksaan untuk bekerja secara sia-sia,” begitu tulis William Morris pada buku terjemahan ‘Kerja atau Dikerjain’ terbitan Litani tahun 2023.

Aku yakin kalau tidak semua bos kita adalah kapitalis tulen layaknya Tuan Krabs yang bahkan tega menjual Spongebob ke Flying Dutchman seharga 62 sen.

Seperti halnya kita, para kelas pekerja, bos-bos juga sedang terjerembab dalam sistem ekonomi modern yang banal dan menempati peran sebagai sosok rakus.

Sebelum mengakhiri ini, aku hanya ingin berpesan pada semua (calon) bos dan pekerja yang ambis: Banyak bekerja malah membuat pekerjaan tampak tidak berkualitas dan hanya memproduksi hal yang tidak berguna bagi sesama manusia.

Untuk saat ini, bersabar adalah kata sifat sekaligus kata kerja yang musykil menjadi remeh-temeh. Berbahagia dengan apa yang ada. Melanjutkan hidup dan mencari kemungkinan agar mampu bekerja untuk hidup, bukan sebaliknya.

Di tengah arus ketidakpastian seperti demikian, menghindari sepanjang hidup penuh kesepian, kesendirian, terpisah berkilo-kilo meter dari satu orang yang kita butuhkan adalah yang terpenting. Setidaknya, kau bisa hidup lebih baik dengan seseorang terkasih yang bodoh dan menjemukan itu.

Jika sudah begitu, yuk putar lagu ‘Blue Summer’:

As time passes by
I feel like I understand even less
What do I desire?
What kind of ‘me’ do I wish to be?
Tell me, who is in turmoil
Yeah, to me who is lost…. Yeah.

Haha.[]

Penulis
A. Arfrian

A. Arfrian

Menjadi Liverpudlian yang kaffah di bola-balik.tumblr.com
Opini Terkait
Bagaimana Orang Indonesia Dirinya Sendiri
Adu mulut vs dialog di dalam keluarga
Minta maaf
Panas dingin kehidupan Jakarta

Kuesioner Berhadiah!

Dapatkan Saldo e-Wallet dengan total Rp 250.000 untuk 10 orang beruntung.​

Sediksi.com bekerja sama dengan tim peneliti dari Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada sedang menyelenggarakan penelitian mengenai aktivitas bermedia sosial anak muda. 

Jika Anda merupakan Warga Negara Indonesia berusia 18 s/d 35 tahun, kami mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner yang Anda akan temukan dengan menekan tombol berikut

Sediksi x Magister Psikologi UGM