Pensiunnya Nomor Punggung Jude Bellingham di Birmingham City dan Pilihan Dilematis yang Membuntuti

Pensiunnya Nomor Punggung Jude Bellingham di Birmingham City dan Pilihan Dilematis yang Membuntuti

nomor punggung jude bellingham sediksi.com

Pensiunnya nomor punggung Jude Bellingham adalah sejarah langka di dunia sepak bola. Terlebih untuk pemain seusianya.

Begitu nomor punggung Jude Bellingham (22) di Birmingham City dipensiunkan, banyak orang bertanya memangnya siapa pemilik nomor itu sebelumnya? Sehebat apa Jude Bellingham sampai-sampai nomor itu mesti dipensiunkan oleh klub?

Pensiunnya nomor punggung, sungguh, bisa dihitung jari. Hanya segelintir klub yang melakukannya. Kali ini nomor punggung Jude Bellingham.

Umumnya pensiunnya nomor punggung klub sepak bola didedikasikan buat legenda klub. Mereka yang kemudian dianggap legenda merupakan pemain-pemain yang turut mengangkat derajat klub, terutama dengan pengabdian yang luar biasa.

Contoh paling akrab barangkali adalah AC Milan dengan nomor punggung 3 milik keluarga Maldini. Nama Maldini harum sebab mereka turun-temurun menjadi tulang-punggung klub. Nomor punggung 10 milik mendiang Diego Maradona juga dipensiunkan oleh Napoli.

Kendati demikian, tak semua klub berkenan memensiunkan nomor punggung legendanya. Nomor punggung 10 Lionel Messi tak dipensiunkan oleh Barcelona. Padahal Messi disebut-sebut sebagai pemain terbaik dalam sejarah Barcelona.

Kasus yang menarik terjadi pada Raul Gonzales di Real Madrid. Nomor punggung 7 miliknya masih aktif digunakan oleh pemain-pemain setelahnya. Malah, meski hanya 2 tahun membela Schalke 04, klub Jerman itu justru memensiunkan nomor punggung 7 milik Raul di Schalke.

Kita tahu, legenda kerap mewujud pada kisah-kisah klasik dan tokoh-tokoh yang telah lalu. Birmingham City rupanya tak sepakat bahwa legenda mesti berarti klasik. Mereka punya sikap yang berbeda soal itu. Peduli setan cemoohan datang dari sana-sini sebab kebijakan ganjil yang mereka bikin.

Ketertarikan klub-klub mapan pada Bellingham membuat Birmingham City turut jadi bahan perbincangan. Mereka cuma klub semenjana yang timbul-tenggelam di level teratas Liga Inggris.

Sorotan dunia sepak bola hanyalah kemewahan yang hadir tiba-tiba, kempis, dan hari-hari Birmingham City kembali berkalang kesemenjanaan. Kita tahu, mereka tiba-tiba relevan bukan karena memensiunkan nomor punggung 22, melainkan saat dunia memantau Jude Bellingham.

Rumah Kaca

Jude Bellingham masih 17 tahun saat nomor punggungnya dipensiunkan oleh Birmingham City. Ia tak sempat mengecap kompetisi kasta teratas liga Inggris, sebab Birmingham masih terseok-seok di kasta kedua liga Inggris.

Sudah barang tentu belum banyak yang tahu apa yang Bellingham bisa lakukan. Birmingham tahu, dan pemandu bakat klub-klub mapan tahu talenta Bellingham. Ia digadang-gadang menjadi lakon utama sepak bola di masa mendatang.

Sejak masih amat belia, ia akrab dengan orang-orang yang memantaunya bermain. Ia amat spesial dibanding dengan rekan-rekan setimnya di tim junior. Apalagi, ia sanggup memainkan banyak peran di lini tengah saat bermain.

Tidak terlalu mengherankan saat ia memperoleh debut profesionalnya saat masih berusia 16 tahun. Pertandingan melawan Portsmouth di ajang Carabao Cup menandai namanya sebagai pemain termuda yang tampil untuk Birmingham City. Penampilan perdananya di kancah profesional jauh dari mengecewakan.

Pertandingan selanjutnya ia tetap konsisten bertanding di divisi Championship, ajang kasta kedua Liga Inggris. Performa apik pada musim debutnya memperoleh ganjaran. Di akhir musim, ia ditahbiskan sebagai pemain muda terbaik Championship musim 2019/20.

Mike Dodds, kepala akademi Birmingham City kala itu, mengatakan bahwa Bellingham memiliki mental yang akan membuatnya jadi pemain hebat di masa mendatang. “Hasratnya untuk jadi yang terbaik dan menjadi pembeda selalu menonjol,” kata Dodds.

Secara teknik, Bellingham tak terlalu jauh melampaui rekan-rekan seusianya. Tetapi, ia rutin bermain untuk kelompok umur di atasnya. Dodds akhirnya menyadari bahwa Bellingham betul-betul istimewa saat tampil di tim utama Birmingham City.

Semua itu membuat Bellingham memperoleh panggilan dari tim nasional junior Inggris. Sekali lagi, ia tampil beberapa level untuk tim di atas usianya. Dodds mengakui Bellingham sangat bagus, tetapi ia kurang menyukai label ‘generational talent‘ untuk pemain asuhannya itu.

“Saya tahu orang-orang punya pendapat yang sangat kuat untuk itu, tetapi saya tak setuju. Semua itu karena kecocokan kepribadian dan jalur yang tersedia dari klub. Ia memang punya talenta, saya tak memungkiri. Tetapi lingkungan yang tepat membuat talentanya mekar,” jelas Dodds.

“Saya pikir, Jude adalah orang pertama yang menyadari bahwa ia tetap perlu bekerja keras, dan pengembang yang layak membuat kecakapannya meningkat.”

Saat tawaran untuk menebus Bellingham datang, mereka tahu amat sulit menahan kepergiannya. Kendati demikian, Bellingham menolak pinangan klub raksasa macam Real Madrid, Manchester United dan klub besar lain.

Bellingham memilih Borussia Dortmund yang menjanjikan hal paling bernilai bagi pesepak bola muda sepertinya: garansi menit bermain. Dortmund bersedia memberinya tempat reguler, bukan belasan pertandingan dalam semusim sebagai cadangan.

Mahar 25 juta Poundsterling ditambah klausul tambahan lain merampungkan kepindahan Bellingham ke Dortmund. Angka itu membuat Bellingham mencetak rekor sebagai pesepak bola di bawah usia 17 dengan transfer termahal.

Benar belaka jika Bellingham memilih Dortmund. Klub Jerman itu kondang karena tak ragu memercayai pemain-pemain belia. Dortmund dan iklim kompetisi Liga Jerman ibarat tanah terjanji bagi pemain-pemain muda unggulan.

Serupa dalam rumah kaca, bibit unggul seperti Bellingham dan nama-nama lain tumbuh dan berkembang. Mereka dirawat dengan telaten, kemudian mekar dan pesonanya membuat banyak orang terpikat.

Panggung Akbar

Tak butuh waktu lama bagi Bellingham untuk nyetel dengan Dortmund. Ia klop dengan skema permainan Dortmund, dan cukup konsisten tampil sebagai pemain utama.

Musim-musim yang telah ia lalui memang tak berlimpah trofi, apalagi tsunami trofi. Hanya satu gelar yang ia raih, yakni DFB Pokal atau piala Jerman. Tetapi bukan berarti ia tak bagus.

Tampil reguler bersama Dortmund di usia remaja bukan barang sepele. Tekanan berkompetisi di level tinggi sanggup ia atasi dengan baik. Ia membuktikan bahwa usia bukan halangan.

Musim 2022/23 ini, ia amat luar biasa. Dari 22 pertandingan yang ia lakoni, sudah 9 gol dan 3 asis yang ia buat. Catatan itu melebihi musim-musim sebelumnya. Toh, pada beberapa pertandingan ia diganjar sebagai penampil terbaik.

Berkat semua itu, ia memperoleh panggilan memperkuat tim nasional Inggris untuk Piala Dunia 2022 di Qatar. Sekalipun punya banyak opsi di lini tengah, pelatih timnas Inggris Gareth Southgate sungguh celaka jika ia melewatkan Bellingham. Sebab Bellingham menawarkan kecakapan bermain di beberapa peran yang berbeda.

Penampilannya di ajang paling akbar sepak bola itu memukau banyak penggila bola. Hingga babak 16 besar, ia tampil dalam 4 pertandingan dan mencetak 1 gol dan 1 asis. Kontribusinya pun efektif membuat lawan kerepotan.

Orang-orang mulai mengatakan bahwa Bellingham berhak mendapat panggung yang lebih gemerlap dari Dortmund dan Liga Jerman.

Bagi klub-klub top dunia, Piala Dunia sekaligus jadi ajang untuk berburu pemain. Real Madrid, Liverpool, Paris Saint-Germain (PSG), hingga Chelsea menaruh minat pada Bellingham.

Sekali lagi, nama Bellingham akan berada di daftar teratas klub-klub mapan. Kali ini, mereka akan memantu Bellingham lekat-lekat sebelum merogoh kocek dalam-dalam untuk menebusnya dari Dortmund.

Seperti Birmingham City, Dortmund bakal kesulitan mempertahankan Bellingham. Apalagi, Bellingham kian matang secara teknikal, taktikal dan mental.

Dortmund baru mau melepas Bellingham dengan mahar yang pantas. Jika terealisasi, mahar untuk memboyong Bellingham diprediksi lebih dari 100 juta Euro, dalam rupiah akan lebih dari 1 triliun.

Momen kali ini akan mendebarkan bagi Dortmund. Mereka mesti segera melakukan pembicaraan dengan Bellingham mengenai masa depan. Sekalipun berharap Bellingham bertahan, bukan tidak mungkin mereka bergantung pada apa yang Bellingham inginkan.

CEO Dortmund, Hanz-Joachim Watzke mengakui klubnya tak sanggup bersaing secara finansial dengan klub-klub besar Eropa. Jika persaingan melibatkan nominal, kata Watzke, mereka bukan unggulan.

“Bellingham perlu memberi tahu kami apakah ia akan bertahan atau pergi. Kami akan bicara bersama untuk dua kemungkinan itu. Secara umum, kami bisa membayangkan ia akan bertahan, tetapi kami tidak bisa memaksa jika ia mengatakan ingin melakukan hal yang lain, dan saat itu klub-klub besar Eropa hadir dan kami tak sanggup bersaing secara finansial,” tutur Watzke.

Kartu berada di tangan Bellingham. Bertahan di Dortmund atau boyongan ke klub lain sama-sama masuk akal.

Jagat sepak bola akan memantau, apakah ia membuat keputusan yang tepat, sebagaimana saat ia pindah dari Birmingham City ke Dortmund?

Penulis
Rifky Pramadani

Rifky Pramadani

Masih mahasiswa. Kadang-kadang ikut diskusi di Center for Critical Society on Media (Calism). Tertarik mengkaji ruang hidup, dan media.